Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Sabtu, 01 November 2008

Menara yang mengepung kota

Dalam Perkembangan Pasar Selular di Dunia, Indonesia termasuk menjadi bagian dari salah satu Negara yang mempunyai pasar yang potensial. Dari data yang dikeluarkan masing-masing Provider terlihat penetrasi yang masuk ke pasar selular baru mencapai sekitar 40 persen dari jumlah penduduk di tahun 2007 yang berjumlah 230 juta jiwa. Hal ini memberikan sebuah peluang yang lebar untuk menambah jumlah pelanggan dari masing-masing provider.
Dengan demikian akan terjadi kompetisi yang ketat antara masing-masing Provider yang ada di industri komunikasi mobile ini. Di seluruh dunia ada 3 milyar pelanggan yang menikmati komukiasi mobile ini, dan diprediksi akan terus meningkat menjadi 5 milyar dalam 4 tahun ke depan. Dengan adanya peluang atau opportunity tersebut tentunya akan memberikan sebuah treatment bagi perusahaan yang bergerak di bidang industri komunikasi selular untuk mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya.
Adanya peluang, treatment, dan kompetisi yang ketat dalam meraih pelanggan tentunya akan menimbulkan implikasi ataupun dampak bagi masyarakat. Dampak yang bisa menguntungkan dan merugikan, implikasi positifnya ada pada aspek social dan ekonomi baik pada tataran makro maupun pada tataran mikro. Namun demikian akan selalu muncul dampak negative dengan adanya perkembangan tekhnologi apabila tidak segera ditindak lanjuti dengan peraturan perundangan.
Adanya komunikasi mobile atau bergerak dapat meningkatkan dan mempertinggi kualitas hidup masyarakat dunia dan Indonesia khususnya. Penulis ambil beberapa contoh, seperti terbukanya kesempatan kerja baru di semua bidang yang berhubungan dengan industri komunikasi bergerak ini, dalam skala ekonomi mikro banyak muncul Counter-counter Handphone, pengisian pulsa, dan acessoris lainnya yang berhubungan dengan industri selular. Membangun sebuah komunitas baru yang bisa menelurkan ide-ide kreatif dengan adanya penyedia-penyedia konten bagi pelanggan selular. Komunikasi bergerak juga ikut meningkatkan efisiensi, karena di manapun kita berada akan selalu bisa berhubungan baik dengan keluarga maupun dengan dunia kerja. Selain itu daerah-daerah terpencil pun sudah bisa menikmati komunikasi bergerak ini.
Akan tetapi akan selalu ada side effect, gencarnya penetrasi komunikasi mobile ini untuk membangun jaringan komunikasi agar tidak ada Blank spot area, dengan mendirikan menara-menara BTS. Hal ini tentunya akan memberikan dampak negative yang menyangkut Penataan dan Estetika sebuah kota. Belum lagi tentang kekuatan bangunan yang bermuara pada tingkat keamanan dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.
Suatu misal Kota Jakarta, karena merupakan Ibukota Negara maka Jakarta merupakan Samudera merah bagi kompetisi operator selular untuk meraih pelanggan sebanyak-banyak-nya. Dari data yang dikeluarkan Tabloid Pulsa bulan juli 2008, menyatakan 35 persen pendapatan operator selular berasal dari wilayah DKI Jakarta. Semua operator mulai dari Telkomsel, Indosat, Exelcomindo, 3, Axis, Fren, Smart, Esia, Telkomflexi, dan Ceria semua menyatakan bahwa tingginya mobilitas penduduk Jakarta tentunya membawa konsekuensi perlunya kualitas layanan komunikasi selular yang memuaskan.
Baru-baru ini Pemda DKI memberikan perhatian yang khusus akan pentingnya penempatan menara BTS dalam hubungannya dengan penataan, keamanan, dan tentunya keindahan kota. Bahkan banyak menara-menara tersebut tidak mempunyai ijin yang lengkap untuk mendirikan menara tersebut. Hal ini juga berlaku juga di kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, semarang, Bandung, Medan, Makasar, dan kota lainnya. Semua pemeritah daerahnya berencana akan melakukan penataan ulang penempatan menara di wilayah Bisnis-nya.
Dari data Pemda DKI Jakarta ada 2600 menara BTS di Jakarta, dan sebagai bagian dari penataan ulang kota akan dipangkas menjadi 800 menara saja. Rencana ini sudah sesuai dengan Peraturan Gubernur nomor 89/2006 tentang “Pembangunan dan Penataan Menara Telekomunikasi di DKI Jakarta” dan Peraturan Gubernur nomor 138/2007 tentang “ Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Penataan Menara Telekomunikasi di DKI Jakarta”
Dengan berdasarkan pada Kontinuitas Pelayanan maka para Operator mengadukan peraturan Pemda DKI ini kepada Ditjen POSTEL, karena telah ada peraturan menteri KOMINFO yang secara spesifik mengatur tentang menara BTS. Yang secara logika berarti sudah ada peraturan yang lebih tinggi yang mengaturnya. Padahal kalau saling memaksakan peraturan yang dikeluarkan masing-masing pihak tentunya akan kontra produktif terhadap perkembangan Industri komunikasi bergerak.
Menurut penulis alangkah arif bijaksana kalo semua pihak dari pihak Menteri KOMINFO, PEMDA, Operator selular, dan semua pihak yang terkait mencari sebuah solusi terbaik tentang penggunaan menara BTS ini. Penggunaan Menara Bersama yang coba di usulkan dari Pihak Akademis bisa merupakan salah satu solusinya. Satu menara dipakai bersama dengan Peraturan yang jelas dan Sanksi yang tegas sangat diperlukan untuk mengurangi menjamurnya menara BTS. Tentunya akan menjadi lebih baik kalo menara tersebut diserahkan kepada pihak ketiga diluar operator selular mulai pembuatan sampai perawatannya, karena biar terjadi sebuah kompetisi yang sehat. Selain itu operator tentunya tidak akan mau kalo pengelolaan menara diserahkan kepada competitor mereka. Dengan adanya solusi yang demikian akan bisa memelihara estetika sebuah kota.

Minggu, 26 Oktober 2008

Lebaran dalam sepotong iklan

Dulu, disetiap Ramadhan dan lebaran selalu identik dengan perilaku religius dan asketisme. Tetapi setelah penulis amati sepuluh tahun terakhir ini terjadi apa yang menjadi anak kandung dari kapitalisme yaitu Konsumerisme. Bulan suci dan Hari raya Idul fitripun seolah menjelma menjadi semacam komodifikasi dari nilai-nilai keagamaan yang memborbadir pikiran, akal sehat, dan nurani kita.
jauh sebelum ramadhan tiba, Layar Televisi kita sudah dipenuhi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan puasa. Mulai dari iklan, gosip, kuis, sinetron, humor, ceramah, berita, musik, dan mencapai puncaknya pada saat sahur dan buka puasa, semua dengan tujuan yang sama, meraup untung dari acara-acara tersebut, dengan balutan kerudung jilbab, baju koko muslim, dan segala pernik icon muslim lainnya.
Selain nuansa dan image islam, acara-acara ini semua selalu di padu padankan dengan berbagai macam iklan yang menyita segenap pikiran kita yang bertujuan untuk membangun sebuah brand equity yang tinggi di benak konsumen, semuanya bermuara pada return atau laba yang tinggi bagi pihak pengiklan. Penulis merasa bahwa sangat terasa sebagai sebuah cara untuk berjualan produk daripada sebuah kontlempasi agama yang bisa meningkatkan derajat ketakwaan dan keimanan kita. kita hanya dianggap sebagai obyek yang dirayu untuk mengumbar nafsu konsumerisme dan hedonisme.
Jadi ritual-ritual puasa yang sangat kental unsur ibadah dan nuansa religinya di televisi telah dimanfaatkan untuk meningkatkan semangat konsumtif yang tinggi. itu hanya di layar kaca, belum dalam realitas sehari-hari, arus deras konsumerisme sangat terasa sekali kehadirannya, bisa kita lihat di Pusat pembelanjaan, Mall, Pasar, semua sangat terlihat antusiasme masyarakat pada konsutivisme, terlebih-lebih satu minggu menjelang lebaran, banyak yang lebih mengutamakan belanja dari pada mengharap datangnya Lailatul Qodhar dengan i'tikaf di masjid.
Jalanan di sekitar Mall sampai macet total, di dukung dengan promosi dan iklan yang setiap saat menghampiri kita, dengan Tagline belanja hemat lebaran 50 %, up to 20 % bulan ramadhan, ada juga beberapa iklan yang sangat menggoda, dengan menempelkan banner dan spanduk di setiap sudut Mall semisal : " Belanja sambil Berbuka" ada juga "Belanja sambil beramal", dan cara-cara marketing modern untuk mendongkrak sales, yaitu memasang semua yang berbau muslim di bagian depan Mall.
Menurut penulis laku religius dan asketisme pada momen Puasa dan lebaran telah tergerus nilainya oleh sebuah kekuatan yang bernama "Pasar". Bulan yang Suci dan penuh ampunan bagi umat islam lebih dilihat sebagai sebuah sudut pandang bahwa Ramadhan dan lebaran adalah sebuah ajang untuk memasarkan produk-produk yang strategis. Kapitalisme yang ada di setiap ruang kehidupan kita telah mambaca peluang dengan memanfaatkan simbol-simbol dan ikon sebuah agama untuk mengeruk keuntungan yang berlipat.
Puasa yang pada hakekatnya mengajarkan sebuah laku hidup yang sederhana dan lebaran yang mengajarkan sebuah kerendahan hati untuk saling bermaaf-maafan telah terdegradasi menjadi gaya hidup yang boros, glamour, borjuis, dan penuh hedonisme. Kesalehan dan sifat religius hanya dipamerkan lewat simbol jilbab, baju koko, surban, kaligrafi arab. Ramadhan dan lebaran yang diharapkan bisa melahirkan manusia baru yang suci lewat menahan nafsu, lapar, dahaga, saling "tepo Sliro", memberi maaf dengan tulus ikhlas telah berubah kedalam kemeriahan yang dangkal.
Ada yang hilang kalo kita teringat pada puasa dan lebaran di waktu lalu, saat penulis melewati puasa sekitar 2 dekade yang lalu, Bulan Puasa memberikan atmosfer dan nuansa hidup yang sederhana dan sangat bersahaja. Kemeriahan lebih kepada pukul bedug saat maghrib, ramai-ramai menuju mushola dan masjid saat tarawih, membaca Al-Qur'an di Malam hari, I'tikaf hingga larut malam, tahajjud, pokoknya kemeriahan yang berhubungan dengan laku bathin, yang akan meningkatkan nilai ketakwaan kita saat Lebaran tiba.
Setelah Reformasi di tahun 1998, seiring dengan semarak pendirian televisi swasta baru, mulailah ritual-ritual keagamaan selalu dipadukan dengan gaya hidup materialistis yang selalu memunculkan iklan sebagai ujung tombaknya. Saat Globalsasi membuat setiap negara di dunia menjadi satu, sifat-sifat keagamaan bersentuhan dengan arus deras konsumsi.
Inilah kenyataan yang kita saksikan dari tahun ke tahun, menjadi tantangan bagi kita semua, terutama para alim ulama yang ada di negeri ini, untuk mengembalikan nilai-nilai yang ada di setiap ritual dan perayaan keagamaan. Agar kita tidak terjebak pada pusaran kesalehan-kesalehan visual.