Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Jumat, 10 Juli 2009

Resensi Kumpulan Cerpen Laki-laki beraroma rempah-rempah ( kumpulan cerpen Tina K)


Membaca Kumpulan Cerpen “Laki-laki beraroma rempah-rempah” dari Tina K atau nama FB-nya Magi Luna ini kita seakan di ajak untuk masuk dalam kehidupan para wanita lajang dengan segala problematika cintanya di kota Metropolitan. Dari 18 cerita pendeknya semuanya mengalirkan cerita yang begitu memukau tentang para wanita lajang dalam menyikapi cinta dengan setting kota metropolitan, dari sudut pandang seorang wanita.

Teman saya Tina K, lahir dan besar di semarang, dan kuliah di Akses Tarakanita Jakarta. Sejak SMA hingga tamat kuliah dan bekerja, banyak menulis tentang kisah perjalanan sesuai hobbynya yang suka traveling, juga sering menulis cerpen, novelette, dan puisi. Tulisannya banyak di muat di kumpulan cerpen Anita cemerlang, juga tersebar di majalah Gadis, Femina, Halo, Cinta, Aneka, Kawanku, dan Kartini. Buku kumpulan cerpen ini adalah kumpulan cerpennya yang pertama.

Membuat sebuah cerpen adalah tidak mudah, karena begitu cerita di mulai tugas pengarang adalah bagaimana Pembaca tidak berhenti membaca dan tetap setia menyusuri jalinan cerita sampai selesai. Di sinilah kita temukan kekuatan atau kepiawaian Tina K dalam menulis cerpen, pembaca seakan dihadapkan pada impuls naratif yang memancing daya imajinasi dan juga hanyut seakan pembaca merasa ada di dalam cerita tersebut.

Dengan deskripsi tentang detail baik suasana maupun tempat yang diceritakan dengan mengalir indah, dialog antar tokoh-tokohnya yang saling bertautan, juga bangunan konflik yang di bangun, bisa untuk memancing daya emosi dan imajinasi pembaca seakan kita sendiri yang sedang mengalami jatuh cinta atau patah hati yang ada pada jalinan cerita tersebut. Selain itu ending yang sering yang terduga membuat pembaca tidak saja setia untuk menyusuri kata dan kalimatnya tapi bahkan bisa larut di dalamnya.

Dibuka dengan Cerpen berjudul “laki-laki beraroma rempah-rempah”, kita dihadapkan bahwa bagaimana seorang wanita yang “biasa” dan sudah terbiasa dengan wajah dan bentuk tubuhnya yang gendut, berusaha untuk menjadi wanita seperti dalam iklan yang cantik dan langsing karena jatuh cinta pada seorang yang tampan dan manly sekali. Sebuah gambaran tentang realitas yang sering kita jumpai.

Dalam “badai siang hari” tema tentang cinta segi tiga yang coba ditawarkan. Dilanjutkan dengan “Di ujung Pelangi” yang berkisah tentang kecantikan wanita tidaklah hanya pada apa yang tampak tapi juga pada inner beauty, otak yang cemerlang, sifat, dan sikapnya.
yang menarik dari kumpulan cerpen ini adalah ada puisi-puisi juga yang terselip di antara cerpen-cerpen yang ditampilkan, seperti Puisi di bawah ini:
Rinduku padamu adalah sungai tak bermuara,
Di pusarannya,
Hatiku,
Sekarat.

Ada juga cerpen dengan judul “gaun kembang rumput dari alia’ yang berisi tentang kepedihan seorang gadis yang menderita penyakit ginjal dan harus selalu melakukan cuci darah, tapi dalam sisa hidupnya ingin mempersembahkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sungguh cerita yang sangat kontemplatif. Dan juga dengan lagi maraknya Facebook ada juga cerpen yang mengisahkan betapa lewat Facebook bisa terjadi romantika percintaan seperti dalam cerpen “ Cermin yang retak”.

Secara keseluruhan 18 cerpen ini, pengarang berhasil untuk menjaga ritme cerita sehingga pembaca akan dihadapkan pada kejutan-kejutan. Dan juga dengan gaya bercerita yang mengalir meskipun ada letupan-letupan perasaan para tokohnya, membuat
Ceritanya enak untuk dibaca dan dinikmati.
Dan sesuatu yang dapat kita petik dan renungkan dalam kumpulan cerpen-cerpen ini adalah sepahit apapun hidup kita, kejujuran adalah hal yang utama.
Selamat menikmati cerpen-cerpen dari Tina K ini, yang sekarang sudah tersedia di toko-toko buku.





Madiun, 08/07/2009
Arif Gumantia
Juru tulis yang suka nasi pecel


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
• bagi teman-teman yang ingin berkenalan dengan penulisnya, Tina K atau Magi luna itu saya taruh di atas sendiri FB-nya,
• Buat mbak magi luna terima kasih kiriman buku kumpulan cerpennya juga tanda tangannya...sukses selalu...keep writing...



pengarang : Tina K.
Penerbit : Kutubuku Sampurna
Jl. Tosiga Ujung No. 74 Kebun Jeruk Jakarta Barat
Telp: (021) 5344420
Tahun : 2009

Rabu, 08 Juli 2009

Dialog Dengan Prof. Abdul Hadi WM

Semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika. Hanya saja sekarang ini Bhinneka Tanggal Ika. Kemana Ika?


Arif Gumantia
April 13 at 10:45pm
IKa telah tanggal...nggih pak..
karena tidak pernah ada yang peduli dan yang merawat..
semua hanya mencari materialisme dan pragmatisme dalam sebuah
ke-Bhinneka-an..




Abdul Hadi Wm
April 17 at 9:47pm
Kita -- orang Indonesia yang beragam etnik, budaya, bahasa dan aliran agama -- ini kan satu rumpun Melayu Mongolid, bahasanya satu rumpun pula Austronesia. Karena yanng mengikat kita ialah keserumpunan etnik dan geografi kenapam pelajaran aanthropologi budaya dan geofrafi diabaikan di sekolah menengah. Juga pelajaran sejarah kebudayaan, sejarah kesenian, kesusastraan, bahasa, dan lain-lain. Orang Kristen tak mau tahu orang Islam, dan tak mau mengetahui agama Islam, begiu pula orang Islam tak mau tahu agama Kristen, karena tak merasa perlu. Begitu seterusnya dengan orang Hindu, dan merea yang percaya pada agama. Mengapa semua itu terjadi? Kesalahan terbesar adalah politik penngajaran di sekolah yang hanya berorientasi kepada ilmu-ilmu positivistik. Apa yang ada dan merupakan kekayaan budaya bangsanya tidak dipelajari. Termasuk khazanah intelektual arisan zaman Hindu, Buddha dan Islam. Bukankah itu suatu kebodohan. Bangsa kita sering membohongi sejarah dan kini sebagai imbalannya ternyata dibohongi oleh sejarah.



Arif Gumantia
April 17 at 9:58pm
terus menurut pak abdul Hadi...bagaimana sebuah kurikulum dalam sekolah-sekolah bisa mengakomodasi tentang Keragaman ini. adakah contoh konkretnya?
agar fanatisme yg destruktif tidak selalu di kedepankan dalam kehidupan kebangsaan ini pak.



Abdul Hadi Wm
April 18 at 8:31pm
Kalau anda kenal paman, kakak atau siapa saja lulusan SMA antara 1955 - 1966, lihat saja kurikulum yang diajarkan di SMP dan SMA ketika itu. Begitu kelas III SMP sudah dibedakan antara jurusan Sosial Budaya (A) dan jurusan Ilmu Pasti Alam (B). SMA dibagi jadi tiga jurusan A (Sastra dan Kebudayaan), B (Ilmu Pasti dan Alam) dan C (Sosial Ekonomi). Di SMP diajarkan kesusastraan Indonesia dan Daerah (di Jabar Sunda, di Jawa Tengah dan Timur sastra Jawa, di Bali sastra Bali, di Madura sastra Madura dst). SMA Bg A diajarkan bahasa Indonesia, Daerah, Jawa Kuna, Arab Melayu, Inggris, Jerman,dan Perancis. Juga Anthropologi Budaya, Sejarajh Kebudayaan, Sejarah Kesenian, Tata Negara, Ekonomi, Sosiologi, Geografi Sosial, dll. Dalam sejarah kebudayaan diajar tentang agama Hindu, Buddha, Islam dan lain-lain, beserta hasil-hasil kebudayaannya. Kenapa sastra Jawa Kuna dan Melayu? Karena dalam dua bahasa inilah khazanah intelektual Nusantara banyak dihasilkan. Murid Bagian A tak perlu belajar fisika, matematika (kecuali Aljabar), biologi (kecuali ilmu kesehatan). Dan seterusnya. Pelajaran sarat dengan teori dan analisis, tidak sekadar hafalan. Jika anda lulusan SMA Bg C (Sosial Ekonomi) maka anda telah mengetahui banyak teori ekonomi dan pembangunan, sehingga tidak kagok begitu masuk Fakultas Ekonomi. Begitu seterusnya. Di SMA bg C dipelajari bahasa Inggeris dan Perancis, di bagian B bahasa Inggeris dan Jerman.


Arif Gumantia
April 18 at 8:38pm
wah..sebuah kurikulum di tahun 1955 sampai 1966 yang sangat hebat. kenapa justru di hilangkan. kebetulan bapak saya guru bahasa dan sastra indonesia SMA pak, saya tanya kemarin..beliau bercerita bahwa waktu SMP sudah di minta sama gurunya untuk menerangkan larik-larik dalam puisi aku-nya chairil anwar. sebuah analisa terhadap puisi..padahal masih SMP.
kenapa justru sekarang malah nggak seperti jaman itu ya pak?
haruskah ada revolusi terhadap dunia pendidikan?



Abdul Hadi Wm
April 18 at 10:48pm
Yang harus dirubah adalah: Politik pengajaran Sastra, politik pengajaran science, politik pengajaran kebudayaan, politik pengajaran ilmu sosia, politik pengajaran ilmu ekonomi, pengajaran ilmu tehnik, politik pengajaran agama. Artinya semua itu diajarkan untuk tujuan apa, dengan metode dan sistem bagaimana, harus diselaraskan pertama-tama dengan upaya meningkatkan kecerdasan rakyat. Orang yang cerdas punya wawasan luas, pengetahuan yang mendalam dalam bidangnya. Geografi misalnya diajarkan supaya rakyat Indonesia tahu keadaa anah airnya, hasil buminya, hutannya. Ilmu kebudayaan diajarkan agar tahu kebudayaan bangsanya, termasuk kesenian dan kesusastraannya.


Arif Gumantia
April 19 at 5:51am
berarti Politik pengajaran dalam pengertian Metode, sistem, dan tujuan pengajaran sebuah ilmu ya pak. wah betul juga ya. selama ini yang saya rasakan di sekolah dulu hanya menghafal aja..tanpa tahu tujuannya untuk apa.
jadi dengan sistem yang benar akan bisa mengakomodasi semua kecardasan anak yang di ajar. yang menurut howard gardner ada Multi inteligent..
ada yang cerdas Bahasa, cerdas Logika, Cerdas seni, Dll.
betul demikian pak Abdul Hadi?


Abdul Hadi Wm
April 19 at 10:50pm
Politik di sini dapat diartikan sebagai kebijakan atau siasat. Politik pengajaran sastra ialah bagaimana kebijakan pengajaran sastra, untuk apa sastra diajarkan, materi pelajaran apa yang harus diberikan. Politik pengajaran sastra berada di bawah politik pendidikan dan pengajaran, sekaligus bagian dari politik kebudayaan. Kalau politik pengajaran kita hanya untuk memberikan dasar pengetahuan berkaitan dengan ketrampilan bekerja (menjadi pegawai), maka politik pengajaran akan terpengaruh. Dulu yang disebut Dep Pendidikan Nasional ialah Departemen Pendidikan dan Pengajaran. Pendidikan budi pekerti, keruhanian, dan lain-lain termasuk cakupannya. Begitu pula pendidikan kewarganegaraan, nasionalisme dll. Agar berhasil ia harus ditunjang materi pelajaran tertentu seperti agama, sejarah, kebudayaan, kesusastraan, bahasa, anthropologi, sosiologi, geografi, dll. Melalui pelajaran anthropologi misalnya kita diajari bahwa bangsa kita terdiri dari berbagai etnik (Sunda, Batak, Jawa, Bali, Bugis, Madura, Minangkabau dll). Dijelaskan pula sejarah munculnya etnik tersebut, geografinya, ciri-cirinya, sistem kepercayaan, sistem kekerabatan, organisasi sosialnya, budayanya dll. Misalnya egini: Orang Minang itu beragama Islam, tetapi corak pendekatannya terhadap berbeda dengan orang Mdura yang beragma Islam. Kenapa? Karena pengaruh ajaran pembaruan di Minangkabau cukup besar, sehingga organisasi yang dominan di sana adalah Muhammadiyah. Orang Madura tidak begitu terpengaruh gerakan pembaru, karena NU sangat dominan di sana. Dst.

(Prof. Dr. Abdul hadi Wm, salah satu sastrawan besar milik negeri ini, Guru Besar yang sekarang mengajar di Fakultas Falsafah dan peradaban Universitas Paramadina Jakarta.)

Dialog terjadi antara saya dan beliau di ruang Message Facebook