Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Selasa, 10 November 2015

Gelar Pahlawan Gus Dur Tertunda, Aktivis Kukuhkan Gus Dur Pahlawan Rakyat

Kendati tahun ini gelar pahlawan nasional belum secara resmi akan tersemat bagi mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak menghalangi sekitar 100 aktivis dan tokoh lintas agama di Jombang mengukuhkan keberadaan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid sebagai pahlawan Indonesia, Senin malam (9/11/2015).

Pengukuhan yang dilakukan dalam acara bertajuk 'Meneladani Pahlawan Meneguhkan Jombang sebagai Kota Tolerasi', dan digelar di halaman Gereja GKI Jombang itu juga sekaligus memperingati Hari Pahlawan.

Acara diawali penyalaan lilin dan pembacaan doa secara bergantian oleh perwakilan lintas agama, yakni Pdt Puji dari Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan, Bhikku Nyana Virya Mahavihara Buddha Trowulan, Jenny pemuka Konghucu, Wisnu Subrata Aliran Kepercayaan, serta Gus Maghfuri mewakili Nahdlatul Ulama Jombang.

Dalam orasinya, H Suudi Yatmo, Ketua Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia) NU Jombang menekankan pentingnya meneladani sosok bangsa ini.
Gus Dur, kata Suudi, dikenal individu rendah hati, sederhana dan jelas pemihakannya terhadap kelompok tertindas.
Menurut lelaki yang dekat dengan Gus Dur ini, sangat jarang pemimpin seperti itu saat ini.

Komitmen Gus Dur terhadap kebebasan pers mendapat penekanan khusus dari refleksi Ketua PWI Jombang Yusuf Wibisono.
Konsistensi sikap Gus Dur terhadap keleluasan pers tak perlu diragukan.
"Saat Tabloid Monitor di era Orde Baru dibreidel dan pimrednya Arwendo Atmowiloto dipenjara, Gus Dur maju melawan saat yang lain diam," tukas Yusuf.
Kemudian, sambung jurnalis media online ini, saat Gus Dur menjabat presiden, pembubaran Departemen Penerangan merupakan prioritasnya.
Lembaga ini merupakan alat pemerintah membungkam kemerdekaan pers.


Arif Gumantia, ketua majelis sastra Madiun, menjelaskan 9 warisan nilai Gus Dur yang penting diteladani siapapun. Antara lain spiritualitas, kemanusiaan, pembebasan, keadilan, dan persaudaraan.
"Empat nilai lainnya adalah kesetaraan, keksatriaan, kesederhanaan, dan kearifan tradisi," tandas Arif Gumantia.

Pendeta Andreas Kristianto dari GKI Jombang mengajak semua yang hadir untuk kembali merenungkan pentingnya mengukuhkan komitmen menghargai keragamaan dan penghormatan atas setiap manusia.
 "Gus Dur tidak hanya mengajarkan namun juga memberikan teladan perilaku atas komitmen tersebut," tegasnya.

Menurut koordinator acara Aan Anshori, bangsa ini butuh figur pahlawan yang nyata rekam jejaknya.
"Bagi kami Gus Dur adalah pahlawan, terlepas negara melakukan pengukuhan atau tidak" ujarnya.
Sosok Gus Dur, sambungnya aktivis Jaringan Gusdurian ini, penting dirujuk kembali di tengah maraknya praktik intoleransi berbasis keyakinan.
Menurut catatannya, sejak reformasi bergulir, lebih dari 1000 rumah ibadah tidak bisa digunakan karena dihalangi negara dan kelompok intoleran. Yang mengemuka belakangan ini 10 gereja di Singkil Aceh dibongkar karena desakan sekelompok orang.


Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/10/gelar-pahlawan-gus-dur-tertunda-aktivis-kukuhkan-gus-dur-pahlawan-rakyat


Siapakah sebenarnya Enny Arrow ?

ENNY ARROW | Ada yang tahu wajah atau sosok Enny Arrow?

 Generasi 80an dan 90an pasti mengetahuinya. membaca karyanya dan tumbuh "menggelinjang" bersamanya. meskipun membacanya dengan sembunyi-sembunyi baik di rumah maupun di ruang ruang kelas masa SMA,
inilah nama yang begitu lekat dalam dunia penulisan Indonesia pada 1977-1992. Karya-karyanya paling banyak dibaca generasi muda Indonesia.

Tapi siapakah sebenarnya Enny Arrow,  inilah paparan dari Sunardian Wirodono di akun Facebooknya.

Nama sesungguhnya, Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Hambalang, Bogor 1924. Karirnya dimulai sebagai wartawan pada masa pendudukan Jepang. Belajar stenografi di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein yang mengamati jalannya pertempuran seputar wilayah Bekasi.

Pada 1965, Enny Sukaesih menulis karangan dengan judul "Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta". Ini karya pertama ia mengenalkan nama samaran sebagai Enny Arrow. Kata arrow ia dapatkan sesuai dengan nama toko penjahit di dekat Kalimalang. Di toko penjahit "Arrow" itulah Enny Sukaesih pernah bekerja sebagai penjahit pakaian.

Setelah Peristiwa 30 September 1965, suasana politik tidak menentu, Enny Arrow berkelana ke Filipina, Hong Kong, dan kemudian mendarat di Seattle Amerika Serikat, pada bulan April 1967.
Disitulah Enny belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck. Ia mulai mencoba menulis dan mengirimkan beberapa karyanya ke koran-koran terkenal Amerika Serikat. Salah satu karyanya novel dengan judul "Mirror Mirror".

Tahun 1974, Enny Arrow kembali ke Jakarta, dan bekerja di salah satu perusahaan asing, sebagai copy writer atas kontrak-kontrak¬ bisnis. Semasa kerjanya itulah, Enny rajin menulis novel. Sangat produktif. Salah satunya, "Kisah Tante Sonya", cukup populer, mampu mengalahkan popularitas "Ali Topan Anak Jalanan" Teguh Esha yang hit pada waktu itu. Pada dekade 1980-an, nama Enny Arrow mendapat sambutan luar biasa. Motingo Boesje pun lewat.

Hingga pada kematiannya (1995), tak satupun orang Indonesia tahu siapa dirinya. Warisan semangatnya sebagai penulis, dia menolak bukunya dijual di toko-toko buku besar. Untuk masa kini, sikap kepenulisannya itu nampol banget, untuk toko buku yang mengambil 50% dari harga jual buku.
Enny Arrow bukan saja penulis yang berkibar karena karya-karyanya yang penuh desah. Tapi ia juga penantang karya-karya sastra yang berpihak pada kaum pemodal, waktu itu.