Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Senin, 10 April 2017

Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian

Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan. (Pramoedya Ananta Toer)

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, mengabadikan pikiran, perasaan, kegelisahan, peristiwa, dan mengabadikan kenangan.
Sebenarnya setiap orang bisa menjadi penulis, kalau punya niat dan kemauan, disertai usaha yang tekun untuk berlatih menulis. Apalagi kalau kita lihat maraknya opini yang ditulis di status Media Sosial, Itu bisa digunakan sebagai sarana latihan menulis. Setelah itu bisa diarsipkan di Blog pribadi atau dikirim ke media, baik Media Massa cetak maupun Media Online. Setelah terkumpul bisa diterbitkan menjadi buku.

Menulis menjadi gampang jika :
1. Ada niat dan kemauan
2. Memiliki pengetahuan
3. Memiliki wawasan

Menulis adalah bagian dari kegiatan keterampilan jadi bukan tergantung bakat. Kegiatan keterampilan sangat bergantung pada latihan yang terus menerus dan berkelanjutan (kontinuitas).

Latihan pertama adalah dengan menjadikan membaca sebagai kebutuhan kita. Baik membaca koran, majalah, media online, dan membaca buku, membaca kehidupan, membaca pengalaman, baik pengalaman diri sendiri, maupun orang lain. Juga membaca diri sendiri, kekurangan dan kelebihannya.

latihan kedua adalah menulis, menulis, dan menulis. Sebagai bagian dari santapan rohani keseharian kita, karena dengan menulis akan bisa mendatangkan kenikmatan spiritual, kebanggaan, dan percaya diri secara wajar, dan juga keuntungan material.

Kegunaan dari membaca dan latihan menulis :
1. Mahir mempermainkan kata (penempatan kata dan kalimat)
2. Piawai merangkainya, dalam deretan-deretan kalimat
3. Cerdas dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.

Langkah-langkah dalam latihan menulis:

1. Menulislah apa yang ada di benak kita, yang sesuai keinginan kita, sesuai dengan wawasan dan pengetahuan yang kita miliki.
2. Mengevaluasi hasil tulisan dengan mengurutkan masalah yang hendak diungkapkan, hal-hal yang menjadi benang merah, bagian mana yang bisa dikembangkan, dan dibuang. Manfaatkan kamus dan tesaurus untuk meyakinkan istilah-istilah yang kita singgung. Juga untuk melakukan pemilihan kata yang tepat dan menarik, untuk membangkitkan daya imajinasi dan kontemplasi pembaca. Juga untuk meyakinkan kita tidak ada kesalahan ketik, ejaan, tanda baca. Sebelum kita launch atau kirim ke media.

Tentu diperlukan belajar yang tekun tentang teori-teori menulis. Baik menulis Puisi, cerita pendek, Novel, Esai, Opini ilmiah, dan lain-lainnya. Misal saat ingin berlatih menulis Puisi tentu kita harus faham Teori tentang Puisi, tentang kecerdasan puitik (sebagaimana yang pernah saya tulis di artikel “kecerdasan Puitik” sebelumnya).

Begitu juga jika ingin menulis Cerpen, agar cerpen bisa memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti adanya unsur estetika atau keindahan dan unsur-unsur yang menyusunnya secara teoritis.  Baik deskripsi latar, tema atau gagasan, penokohan, dan inovasi gaya penceritaan.

Yaitu adanya cerita yang dikisahkan secara pendek dan ringkas. Artinya kita harus menyampaikan sebuah tema atau gagasan atau peristiwa dengan cara di ceritakan atau dikisahkan. Tema dan peristiwa apa saja yang ada di sekitar kita. Tema biasa dengan penggarapan yang matang niscaya akan menghasilkan peristiwa luar biasa .

Untuk sampai pada kisah yang luar biasa ini pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman itulah yang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Kepadatan akan membuat penulis harus membuang peristiwa yang tak penting dan berkreasi dengan menyingkirkan narasi atau kalimat yang tak berhubungan langsung dengan tema. Demikian juga dalam dialog-dialognya.

Sedangkan JIka menulis Novel kita perlu  memperhatikan seperti apa yang disampaikan Milan Kundera  Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang. dan didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Prosa"sintesis" sebagai keinginan novelis utk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh. kekuatan sintesis. menyatukan "Esai ironis,narasi novelistis, penggalan otobiografis, kenyataan historis, aliran fantasi" menjadi kesatuan tunggal. hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dlm kesatuan tunggal seperti  bebunyian dari musik polifonis. kesatuan novel tidak harus berasal dari plot, tapi bisa disediakan oleh tema.

Dalam latihan menulis Esai tentu kita harus banyak membaca tentang tema atau gagasan yang ingin disampaikan. Mempersiapkan referensi yang mendukung ide dan tema tersebut. Untuk menjadi esai yang menarik selain menguasai tema yang akan dibahas, juga gaya penulisannya memenuhi unsur estetika bahasa. Dengan demikian perlu bacaan-bacaan dari berbagai disiplin ilmu terutama Sastra dan filsafat. 

Beberapa Esai yang sering kita jumpai di media adalah :
1. Tajuk rencana
2. Opini atau artikel : politik, ekonomi, sosial, olahraga, filsafat, sastram seni, budaya, pariwisata, dll.
3. Resensi atau review buku

Salah satu cara latihan menulis Esai adalah dengan meresensi buku yang kita baca, menuliskan pendapat kita tentang buku yang kita baca.
Ini tips Langkah praktis dalam menulis Resensi :
1. Cermati daftar isi (kalau ada)
2. Baca dengan seksama kata pengantar
3. Baca dengan kritis, tandai bagian-bagian yang penting (kekurangan dan kelebihan buku)
4. Cermati bagian kesimpulan (non fiksi) atau ending (fiksi)
5. Pelajari bagian lampiran.
6. Pahami wacana (diskursus) buku dan pesan yang hendak disampaikan penulis.
7. Tulis berdasarkan pemahaman kita sendiri.
8. Kutip bagian-bagian  yang penting untuk mendukung pernyataan atau uraian kita.

Manfaat Menulis :

1. Sebagai sebuah kegiatan intelektual dan spritual. Pada saat kita berada dalam proses penulisan, pada saat itulah pikiran dan intelektualnya bekerja. Yang bermuara pada kenikmatan spiritual.
2. Hasil tulisan bisa di baca di mana saja dan kapan saja. Tidak terbatas ruang dan waktu, hingga bisa dibaca begitu banyak orang dengan wilayah yang begitu luas dan waktu yang begitu panjang, dan mendatangkan manfaat bagi orang banyak.
3. Membiasakan berpikir secara teratur, runtut, dan sistematik.
4. Seorang penulis cenderung dipandang sebagai orang yang sedikit banyak mempunyai wawasan.
5. Membangun hubungan silaturahmi (menciptakan jaringan komunikasi) dengan Pembaca

Nah mudah bukan, maka mari kita menulis, mari kita menumbuh kembangkan budaya literasi, agar peradaban kita semakin maju.


Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun

Kamis, 06 April 2017

Kampanye Lewat Buku "A Man Called Ahok"

Salah satu tahapan dalam rangkaian Pemilihan Presiden, Pemilihan Kepala Daerah, dan
Pemilihan anggota legislatif adalah kampanye.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kampanye adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara. Tentu ada berbagai macam cara berkampanye, baik melalui media-media mainstream atau lewat media sosial. Media-media mainstream misalnya kampanye dengan menguimpulkan massa baik di ruang terbuka maupun tertutup, seperti kampanye di tempat terbuka dengan bintang tamu para artis, kampanye di cafĂ©, memasang baliho dan poster, membagikan kaos, kalender, pamphlet, iklan di Televisi, dan lain-lain. sedangkan Media sosial adalah memanfaatkan tehnologi internet platform web 2.0 seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram dan lainnya.

Dalam rangka memperoleh dukungan massa pemilih yang nantinya termanifestasikan di hari pemilihan/pencoblosan tentu para kandidat akan mengkampanyekan program-programnya, track recordnya, dan hal-hal lain yang menarik para pemilihnya. Di sinilah para kandidat akan diuji apakah akan melakukan kampanye yang jujur dengan mengkampanyekan program-programnya yang masuk akal dan dapat diterapkan, ataukah kampanye yang asal menarik calon pemilih tanpa memikirkan konsekuensi-konsekuensi penerapan program tersebut.

Apalagi sekarang menurut Milan Kundera adalah era imagology, era kemenangan citra-citra. Dimana produsen budaya citra telah berhasil menjejalkan sebuah citra menjadi realitas, mimpi, juga harapan ke benak konsumen. Dalam era imagology, budaya citra tersebut di sebarkan ke berbagai media melalui televisi, radio, internet, surat kabar, maupun majalah. Dan yang lebih tidak fair adalah Kampanye Hitam atau Black campaign, yaitu dengan cara pembunuhan kharakter  terhadap kandidat lainnya.

Salah satu cara kampanye yang positif sebenarnya adalah melalui Buku. Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan melakukan kampanye melalui Buku : yang pertama, kandidat tinggal menyebarkan buku tersebut kepada calon pemilih maka semua program, track record, performance bisa tersampaikan, sehingga kampanye menjadi efektif. Kedua, kampanye melalui buku bisa mendukung gerakan membaca masyarakat yang akan menumbuh kembangkan dunia literasi kita. Ketiga, Kampanye melalui buku bisa memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat bahwa kampanye tidak harus di ruang terbuka yang bisa berpotensi menimbulkan ekses-ekses sosial.  Keempat kampanye dengan buku akan meraangsang kreasi-kreasi dengan argumentasi bagi tim sukses dari kandidat, karena sudah semestinya kampanye lewat buku ditindaklanjuti dengan forum bedah buku untuk menguji kredibilitasnya secara akademis.
Dalam hal ini,  saya memberi apresiasi pada Tim Ahok dalam kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta telah menggunakan buku sebagai salah satu cara kampanyenya. Yaitu Buku dengan Judul  “ A Man Called #Ahok “ karya Rudi Valinka atau akun @kurawa di twitter. Buku yang isinya pada mulanya adalah serial kultweet (Rangkainan tweet dengan membahas tema tertentu)  dari akun @kurawa di twitter. Dengan demikian pesan yang hendak disampaikan tidak hanya dijangkau oleh mereka yang mempunyai akun twitter tetapi juga pada semua orang yang bisa mengakses bukunya.

Selain melakukan pencarian data lewat buku maupun tulisan online penulis juga melakukan pencarian data fakta ke lokasi tempat Ahok lahir dan menjalani masa-masa sekolah yaitu Belitung Timur, dan menemui narasumber-narasumber (Hal 1).
latar belakang keluarga, masalah korupsi, SARA, dan kehidupan sehari-hari coba dieksplorasi oleh penulis untuk menampilkan seorang yang dipanggil Ahok. Kehidupan bapaknya yang merupakan pengusaha di zaman orba, di zaman etnis Tionghoa diatur oleh Soeharto, juga dituliskan di buku ini, Ahok sejak kecil sudah tahu bapaknya sering dipinjami uang, dimintai bantuan, sampai urusan dipalak oleh oknum aparat hukum (hal 24). Latar belakang seperti inilah yang mungkin membuat Ahok melakukan upaya-upaya untuk meminimalkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan saat dia berada di birokrasi pemerintahan dan menjadi pemimpin.

Narasumber-narasumber yang ditemui penulis buku ini antara lain Pak Mus, teman sebangku Ahok waktu SD, Bu Bundet guru SD Ahok, Bu Erni istri Pak Mus teman SMP Ahok, Pak Sayono teman SMP Ahok, Pak Bachtiar Guru SMP Ahok, Pak Nirwan Guru SMP Ahok, Pak Kani seorang Kepala Desa yang dulu “hater” ahok saat pilkada Bupati Belitung Timur, pak Agung Ustadz yang berinteraksi dengan Ahok, Haji Tare mantan ketua PKB Belitung Timur, ibu Yana salah satu penanggung jawab apotek Manggar Jaya Farma.
Dari para narasumber ini bisa terungkap latar belakang keluarga, kehidupan masa kecil, saat dewasa, kondisi geografi, sosio politik yang membentuk kharakter Ahok saat ini.

Seperti kisah bu Bundet bahwa setiap balik  ke Belitung, prioritas bertemu dengan bekas guru-gurunya menandakan bahwa ada rasa hormat Ahok kepada mereka. (Hal 65). Juga kisah haji Tare tentang pertemuan Ahok dan Gus Dur dilakukan di kantor DPP PKB. Pembicaraan mereka hampir 3 jam. ( hal 93). Dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya. Buku tipis 111 halaman dengan ukuran seperti smartphone 5.5” ini bisa menjadi contoh kampanye efektif lewat buku. Tujuan kampanye bisa tercapai sekaligus sebagai upaya untuk menumbuh kembangkan budaya literasi. Yang menarik di buku ini di setiap pergantian “bab”nya ada kutipan-kutipan yang filosofis dan kontemplatif  dari Goethe, Aristotle, Leo Tolstoy, dll...dan ditutup dengan quote Ahok:
Ingat saja pepatah Tiongkok, “sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, kamu tidak bisa nilai orang lain itu baik dan buruk.” Nanti kamu baru tahu apa yang saya kerjakan.









Arif Gumantia
Kerani literasi