Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Sabtu, 15 April 2017

Caruban, Ikon dan Cermin Sejarah

Sebuah kota, adalah sebuah komunitas yang di angankan, meminjam istilah Benedict Anderson. Tempat kita hidup, bersosialisasi, memperjuangkan kesejahteraan dan merawat kenangan. Merawat kenangan diperlukan sebagai bagian dari kita untuk belajar dari sejarah masa lalu, agar bisa menjadi cermin instropeksi dalam merancang masa depan yang lebih baik.
Dalam merawat kenangan tentu diperlukan sebuah tanda,  Sebuah simbol juga berbagai teks sebagai bagian dari literasi sejarah. Salah satu tanda dan bisa menjadi sebuah ikon kota adalah “Nama Kota”. Baik yang menyimpan sejarah sebagai sesuatu yang menggembirakan dan kejayaan kota ataupun sejarah yang berisi kegetiran dan kepedihan kota.
Dari keduanya kita bisa merawat peta masa lalu kita agar sejarah hitam yang penuh kepedihan tidak akan terulang di kemudian hari. Sehingga kota tersebut tidak menjadi kota yang penuh kemurungan ( Orhan Pamuk, novelis pemenang Nobel Sastra, dalam Memoar yang berjudul Istanbul). Tetapi menjadi kota yang nyaman dan aman bagi warganya.
Maka, ketika Satu unit dump truk milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun dikerahkan untuk mengganti papan nama gapura masuk di Desa Klitik, Kecamatan Wonoasri. Deretan huruf yang sama-sama berjumlah tujuh itu diganti satu per satu, dalam rangka Pemkab Madiun  merealisasikan penggantian Kota Caruban menjadi Kota Mejayan, ada sesuatu yang menyergap perasaan dan menimbulkan sebuah rasa kehilangan. Kehilangan atas sesuatu yang menjadi milik bersama, yaitu Kota Caruban. Bukan sekedar fisik sebuah kota, tetapi semua mikrokosmos dan makrokosmos kota Caruban.
Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Madiun Edi Bintardjo menegaskan, penggantian nama dari Kota Caruban menjadi Kota Mejayan memang diawali dari dua gapura masuk di Klitik, Wonoasri, dan #Kaligunting, Mejayan. ‘’Kami tak ingin terburu-buru. Semuanya dilakukan secara perlahan namun pasti,’’ tegasnya kemarin ( Radar Madiun, Jawa Pos Grup).
Upaya penggantian nomenklatur ini juga menyesuaikan kekuatan anggaran yang ada. Karena itulah, di masa awal ini penggantian lebih menyasar pada deretan huruf pada gapura masuk saja. ‘’Penggantian nama kedua gapura itu menjadi langkah penting untuk menegaskan identitas ibu kota baru bagi kabupaten ini,’’ tukasnya.
Selanjutnya, pemkab juga segera melayangkan surat kepada sejumlah instansi terkait. Instansi itu meliputi organisasi perangkat daerah (OPD) seperti RSUD Caruban dan Terminal Caruban. Juga lintas sektoral seperti PT KAI Daop VII Madiun untuk penggantian nama bagi Stasiun Caruban. Serta PLN subarea Caruban yang notabene Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. ‘’Kami tak memberikan deadline waktu khusus. Prinsipnya, lebih cepat tentu lebih baik,’’ tegasnya.
Diketahui, pergantian nama ini mendasar PP Nomor 52 Tahun 2010 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Madiun dari wilayah Kota Madiun ke wilayah Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis, koordinat Kota Caruban memang tidaklah ada. Secara administrasi, di Kecamatan Mejayan juga tak dijumpai dusun maupun kelurahan bernama Caruban. Hal ini tentu berbeda dengan Kota Mejayan yang memiliki 11 desa dan tiga kelurahan pada koordinat 07032’28,71’’ lintang selatan dan 111039’08,40’’ bujur barat.
Hal ini harusnya dilakukan kajian yang mendalam terlebih dahalu sebelum melakukan tindakan-tindakan kongkrit mengganti nama sebuah kota. Perlu riset bersama dari berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, geografi, anthropologi, statistik dan lain-lainnya.  Agar bisa ditemukan titik temu sebagai sebuah penyelesaian yang “win-win solution’.

Benarkah secara geografis Titik koordinat Caruban tidak ada? Sudahkah ada riset komprehensif tentang hal ini, yang bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya secara akademis? Karena menurut apa yang ditulis sejarawan Widodogb Sastro di Facebook Historia Van Madioen, ( yang bersumber dari Sumber : Buku Sejarah Kabupaten Madiun, 1980 ) :

Istilah Caruban , berasal dari kata carub yang berarti campur, dahulu ada suatu tempat berkumpulnya para pejabat,bangsawan, rakyat jelata, dan para priyayi untuk keperluan adu jago, tempat ini kemudian disebut caruban. Majalah Altona menerangkan , bahwa pada masa kekuasaan Hindu Jawa yang berpusat di Ngurawan (Dolopo sekarang), ada sederet perkampungan untuk menempatkan para penjahat, pemberontak dan para tahanan politik di pisahkan dari tempat tinggal dan lingkungannya, orang-orang ini di beri tugas menanam pohon jati. Tetapi hipotesa ini kurang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Yang jelas Desa-desa di Caruban merupakan desa-desa tua, karena itu sudah sepantasnya Caruban pernah menjadi ibukota kabupaten pada masa Kerajaan Mataram Islam.  

Pada masa perang Suropati pada tahun 1684 dan masa perebutan tahta kerajaan Mataram, Kartasura antara Sunan Mas dengan Pangeran Puger pamannya, rakyat Caruban besar andilnya  dalam ikut berjuang melawan tentara Kompeni (VOC) salah satunya di bawah pimpinan Demang Tampingan yang bergabung dengan Pangeran Mangkunegoro IV Wedono Bupati Mancanegara Timur, Madiun.
Desa Krajan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Caruban, Kemungkinan Bupati pertama dijabat oleh Raden Cokrokusumo I atau disebut Tumenggung Alap-alap. Ia semula pejabat tinggi di Demak, Beliau adalah putra sulung Raden Pecat Tondo II,  Raden Pecat Tondo I adalah Adipati Terung, ini merupakan wilayah bekas Kerajaan Majapahit yang terakhir. Bupati kedua adalah Raden Cokrokusumo II sering disebut Tumenggung Emprit Gantil, kemudian bertahta Raden Tumenggung Notosari. Raden Tumenggung Notosari adalah putra dari Bupati Jipang yang bergelar Raden Tumenggung Purwowijoyo. Beliau adalah putra Paku Buwono I dari selir, jadi Bupati Notosari  adalah cucu raja besar Mataram.

Dari perintah Bupati Notosari inilah kemudian salah satu desa di Caruban yaitu Desa Kuncen yang terletak di selatan Desa Sidodadi menjadi Desa Perdikan sebagai tempat makam Bupati Caruban beserta kerabatnya. Bupati Notosari sebelum bertahta di Caruban merupakan salah satu bangsawan di istana Kartasura. Setelah wafat , beliau di makamkan di makam Kuncen Caruban, dengan biaya pemakaman dari Kartasura. Selain Bupati Notosari, di Kuncen Caruban juga dimakamkan para kerabat dan pengikut-pengikut setianya.

Sebagai Desa Perdikan, Desa Kuncen, Caruban dibebaskan dari pajak dan diberi otonomi seluasnya, dengan tanggungjawab merawat makam para Bupati Caruban, beserta kerabatnya. Piagam tentang kemerdekaan desa ini masih ada, yang menunjukkan tahun Wawu 1627 saka atau tahun 1705 Masehi, oleh Sunan Paku Buwono I.
Bupati berikutnya adalah Raden Tumenggung Wignyosubroto, putra bupati sebelumnya, memindahkan ibukota Caruban ke pusat Kota Caruban sekarang atau disebut Desa Tompowijayan atau Bangunsari sekarang. 

Bupati terakhir adalah Raden Tumenggung Djayengrono, putra Bupati Ponorogo yang bernama Pangeran Pedaten. Beliau kawin dengan putri Bupati Mangkudipuro yang dipindahkan oleh Hamengku Buwono I dari Wedono Bupati di Madiun menjadi Bupati kecil di Caruban, karena dianggap tidak tunduk pada perjanjian pemerintahan Jogjakarta setelah adanya perjanjian Gianti. Wedono Bupati di Madiun di berikan kepada panglima perang Kesultanan Jogjakarta, yaitu Ronggo Prawirosentiko setelah menjadi bupati bergelar Ronggo Prawirodirjo I.Para Bupati Caruban dan kerabatnya yang dimakamkan di pemakamam Kuncen Caruban, antara lain, Pangeran Mangkudipuro Bupati Madiun ke 13, Raden Cokorokusumo I, Raden Cokorokusumo II, Raden Tumenggung Notosari, Raden Tumenggung Wignyosubroto, dan Raden Tumenggung Djayengrono.

 Fakta-fakta sejarah ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja untuk mengganti nama kota, karena kebenaran sejarah harus terus diuji dengan berbagai penemuan-penemuan baru, sehingga terlalu dini jika menyimpulkan bahwa secara geografi, Caruban tidak ada dalam koordinat. Bukankah kita semua juga sebelumnya tidak pernah tahu bahwa di Dolopo dulu ada kerajaan besar Gelang-gelang dan Ngurawan, sebelum situs-situs ditemukan dan sekarang sedang diteliti, kesimpulan sementara adalah situs terbesar kedua setelah Trowulan.

Dalam hal ini, kalimat : “apalah arti sebuah nama?” dari Shakespeare tidak berlaku untuk penggantian nama kota Caruban ini, karena ketika kita melupakan sejarah sebuah kota, maka kita akan menjadi orang-orang yang “amnesia sejarah” seperti yang digambarkan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam novelnya Seratus Tahun kesunyian. Sehingga kita berada dalam kondisi yang bener-bener lupa terhadap apapun, semua hal harus diingatkan yang bermuara pada mandeknya peradaban.
Oleh karena sebelum melakukan langkah-langkah untuk mengganti nama kota Caruban menjadi Mejayan, alangkah baiknya jika Pemangku Wilayah kabupaten Madiun, mengadakan riset terlebih dahulu, melakukan berbagai diskusi-diskusi publik dengan masyarakat Caruban, dan biarkan nama Kota Caruban tetap menjadi Caruban.



Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun


Senin, 10 April 2017

Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian

Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan. (Pramoedya Ananta Toer)

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, mengabadikan pikiran, perasaan, kegelisahan, peristiwa, dan mengabadikan kenangan.
Sebenarnya setiap orang bisa menjadi penulis, kalau punya niat dan kemauan, disertai usaha yang tekun untuk berlatih menulis. Apalagi kalau kita lihat maraknya opini yang ditulis di status Media Sosial, Itu bisa digunakan sebagai sarana latihan menulis. Setelah itu bisa diarsipkan di Blog pribadi atau dikirim ke media, baik Media Massa cetak maupun Media Online. Setelah terkumpul bisa diterbitkan menjadi buku.

Menulis menjadi gampang jika :
1. Ada niat dan kemauan
2. Memiliki pengetahuan
3. Memiliki wawasan

Menulis adalah bagian dari kegiatan keterampilan jadi bukan tergantung bakat. Kegiatan keterampilan sangat bergantung pada latihan yang terus menerus dan berkelanjutan (kontinuitas).

Latihan pertama adalah dengan menjadikan membaca sebagai kebutuhan kita. Baik membaca koran, majalah, media online, dan membaca buku, membaca kehidupan, membaca pengalaman, baik pengalaman diri sendiri, maupun orang lain. Juga membaca diri sendiri, kekurangan dan kelebihannya.

latihan kedua adalah menulis, menulis, dan menulis. Sebagai bagian dari santapan rohani keseharian kita, karena dengan menulis akan bisa mendatangkan kenikmatan spiritual, kebanggaan, dan percaya diri secara wajar, dan juga keuntungan material.

Kegunaan dari membaca dan latihan menulis :
1. Mahir mempermainkan kata (penempatan kata dan kalimat)
2. Piawai merangkainya, dalam deretan-deretan kalimat
3. Cerdas dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.

Langkah-langkah dalam latihan menulis:

1. Menulislah apa yang ada di benak kita, yang sesuai keinginan kita, sesuai dengan wawasan dan pengetahuan yang kita miliki.
2. Mengevaluasi hasil tulisan dengan mengurutkan masalah yang hendak diungkapkan, hal-hal yang menjadi benang merah, bagian mana yang bisa dikembangkan, dan dibuang. Manfaatkan kamus dan tesaurus untuk meyakinkan istilah-istilah yang kita singgung. Juga untuk melakukan pemilihan kata yang tepat dan menarik, untuk membangkitkan daya imajinasi dan kontemplasi pembaca. Juga untuk meyakinkan kita tidak ada kesalahan ketik, ejaan, tanda baca. Sebelum kita launch atau kirim ke media.

Tentu diperlukan belajar yang tekun tentang teori-teori menulis. Baik menulis Puisi, cerita pendek, Novel, Esai, Opini ilmiah, dan lain-lainnya. Misal saat ingin berlatih menulis Puisi tentu kita harus faham Teori tentang Puisi, tentang kecerdasan puitik (sebagaimana yang pernah saya tulis di artikel “kecerdasan Puitik” sebelumnya).

Begitu juga jika ingin menulis Cerpen, agar cerpen bisa memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti adanya unsur estetika atau keindahan dan unsur-unsur yang menyusunnya secara teoritis.  Baik deskripsi latar, tema atau gagasan, penokohan, dan inovasi gaya penceritaan.

Yaitu adanya cerita yang dikisahkan secara pendek dan ringkas. Artinya kita harus menyampaikan sebuah tema atau gagasan atau peristiwa dengan cara di ceritakan atau dikisahkan. Tema dan peristiwa apa saja yang ada di sekitar kita. Tema biasa dengan penggarapan yang matang niscaya akan menghasilkan peristiwa luar biasa .

Untuk sampai pada kisah yang luar biasa ini pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman itulah yang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Kepadatan akan membuat penulis harus membuang peristiwa yang tak penting dan berkreasi dengan menyingkirkan narasi atau kalimat yang tak berhubungan langsung dengan tema. Demikian juga dalam dialog-dialognya.

Sedangkan JIka menulis Novel kita perlu  memperhatikan seperti apa yang disampaikan Milan Kundera  Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang. dan didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Prosa"sintesis" sebagai keinginan novelis utk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh. kekuatan sintesis. menyatukan "Esai ironis,narasi novelistis, penggalan otobiografis, kenyataan historis, aliran fantasi" menjadi kesatuan tunggal. hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dlm kesatuan tunggal seperti  bebunyian dari musik polifonis. kesatuan novel tidak harus berasal dari plot, tapi bisa disediakan oleh tema.

Dalam latihan menulis Esai tentu kita harus banyak membaca tentang tema atau gagasan yang ingin disampaikan. Mempersiapkan referensi yang mendukung ide dan tema tersebut. Untuk menjadi esai yang menarik selain menguasai tema yang akan dibahas, juga gaya penulisannya memenuhi unsur estetika bahasa. Dengan demikian perlu bacaan-bacaan dari berbagai disiplin ilmu terutama Sastra dan filsafat. 

Beberapa Esai yang sering kita jumpai di media adalah :
1. Tajuk rencana
2. Opini atau artikel : politik, ekonomi, sosial, olahraga, filsafat, sastram seni, budaya, pariwisata, dll.
3. Resensi atau review buku

Salah satu cara latihan menulis Esai adalah dengan meresensi buku yang kita baca, menuliskan pendapat kita tentang buku yang kita baca.
Ini tips Langkah praktis dalam menulis Resensi :
1. Cermati daftar isi (kalau ada)
2. Baca dengan seksama kata pengantar
3. Baca dengan kritis, tandai bagian-bagian yang penting (kekurangan dan kelebihan buku)
4. Cermati bagian kesimpulan (non fiksi) atau ending (fiksi)
5. Pelajari bagian lampiran.
6. Pahami wacana (diskursus) buku dan pesan yang hendak disampaikan penulis.
7. Tulis berdasarkan pemahaman kita sendiri.
8. Kutip bagian-bagian  yang penting untuk mendukung pernyataan atau uraian kita.

Manfaat Menulis :

1. Sebagai sebuah kegiatan intelektual dan spritual. Pada saat kita berada dalam proses penulisan, pada saat itulah pikiran dan intelektualnya bekerja. Yang bermuara pada kenikmatan spiritual.
2. Hasil tulisan bisa di baca di mana saja dan kapan saja. Tidak terbatas ruang dan waktu, hingga bisa dibaca begitu banyak orang dengan wilayah yang begitu luas dan waktu yang begitu panjang, dan mendatangkan manfaat bagi orang banyak.
3. Membiasakan berpikir secara teratur, runtut, dan sistematik.
4. Seorang penulis cenderung dipandang sebagai orang yang sedikit banyak mempunyai wawasan.
5. Membangun hubungan silaturahmi (menciptakan jaringan komunikasi) dengan Pembaca

Nah mudah bukan, maka mari kita menulis, mari kita menumbuh kembangkan budaya literasi, agar peradaban kita semakin maju.


Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun