
Wiji Thukul (1963 – 2000 [?] )
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/di sana bersemayam kemerdekaan/apabila engkau memaksa diam/aku siapkan untukmu: pemberontakan!
[Wiji Thukul]
Nama aslinya adalah Wiji Widodo, penyair buruh radikal, dan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang dilaporkan hilang pada April 2000. Badan intelejen negara menuduh Thukul adalah “orang yang akan mendongkel negara kita…”
Hanya ada satu kata: Lawan!
--- sajak ‘Peringatan’
Wiji Thukul dilahirkan pada 23 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, dari keluarga tukang becak. Sejak SD di sudah menulis puisi. Dia juga pernah menjadi anggota Sarang Teater Jejibahan Agawe Geneping Akal Tumindak (JAGAT) Thukul tak selesai menamatkan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia karena kesulitan keuangan. Thukul kemudian bekerja serabutan: dari menjual koran, calo karcis bioskop sampai tukang pelitur. Pada ini Thukul tetap menulis puisi-puisinya. Thukul mengawali karir kepenyairannya di Taman Budaya Surakarta pada era 1970-an. Setelah aktif dalam politik Thukul kerap ikut berdemonstrasi membela kaum buruh dan menentang kebijakan pemerintah yang dianggapnya tidak adil. Pada 1989 dia diundang Goethe Institut untuk membacakan puisinya di kedutaan Jerman Barat dan pada 1991 dia tampil di “Pasar Malam Puisi” yang diselenggarakan Erasmus Huis. Pada tahun yang sama, bersama penyair Rendra, Thukul menerima Wertheim Encourage Award dari Belanda – tetapi sertifikatnya kini sudah raib. Sajak-sajak Wiji selalu kental dengan pembelaan rakyat kecil, juga perlawanan terhadap ketidakdilan dan tirani.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
Gentong Kosong
parit susut
tanah kerontang
langit mengkilau perak
matahari menggosongkan pipi
gentong kosong
beras segelas cuma
masak apa kita hari ini
pakis-pakis hijau
bawang putih dan garam
kepadamu kami berterima kasih
atas jawabmu
pada sang lapar hari ini
gentong kosong airmu kering
ciduk jatuh bergelontang
minum apa hari ini
sungai-sungai pinggir hutan
yang menolong di panas terik
dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet
yang mendidih bersama ikan teri di panci
jadilah tenaga hidup kami hari ini
dengan iris-irisan ubi keladi
yang digoreng dengan minyak
persediaan terakhir kami
gentong kosong
botol kosong
marilah menyanyi
merayakan hidup ini
(dari Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesiatera 2004)
Pada 1992 ia ikut berdemonstrasi memprotes pencemaran pabrik tekstil di Solo. Dia juga aktif dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) yang menjadi bagian dari PRD. Pada 1995 Thukul sebelah matanya cedera parah setelah dipukul dengan senjata karena memimpin demonstrasi di pabrik Sritex, Sukoharjo. Setelah peristiwa penyerangan markas PDI 27 Juli 1996, Thukul pergi menghilang meninggalkan istrinya, Diah Sujirah (Sipon) dan anaknya, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Pada periode pelarian ini menurut beberapa keterangan dia terus aktif menulis puisi dengan nama samaran. Pada masa demonstrasi besar yang berujung pada jatuhnya Presiden Soeharto, bait sayiarnya, ‘Hanya ada satu kata: Lawan!’ dikenal akrab oleh hampir semua demonstran. Pada akhir 1997 Thukul sempat muncul menemui kembali keluarganya, tetapi setelah itu dia tak terdengar lagi kabarnya. Pada April 2000, istrinya, Sipon, melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Pada tahun yang sama Forum Sastra Surakarta yang dimotori oleh penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan forum solidaritas dengan judul “Thukul Pulanglah” yang digelar di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta dan Jakarta.
Puisi-puisi Thukul pada awalnya beredar dalam selebaran dan fotokopian dan kemudian dikumpulkan dalam Puisi Pelo (1983-1989), Ketika Rakyat Pergi (1984-1988), Darman Dan Lain-Lain (1985), dan Lingkungan Kita Si Mulut Besar (1986-1991). Karya-karyanya itu dihimpun dalam buku Aku Ingin Jadi Peluru (2000). Buku-bukunya yang lain adalah Mencari Tanda Lapang (1994) dan Tumis Kangkung Comberan (1996). Selain menulis, Thukul juga pernah mendirikan taman bacaan Sanggar Suka Banjir di kampung halamannya. Pada 2002 Thukul menerima Yap Thiam Hien Award.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar