Sebuah karya sastra baik prosa maupun puisi, dalam proses kreatif
lahirnya karya tersebut banyak unsur yang mempengaruhi. Terutama dengan
konteks masyarakat tempat lahirnya karya tersebut. Dalam hal ini, karya
sastra bisa dipandang sebagai suatu gejala social, berupa fenomena,
norma, perilaku, adat istiadat, kejadian dan peristiwa yang berlalu di
masyarakat.
Gejala social yang di olah oleh Penyair, cerpenis,
atau novelis, direkakan, di imajinasikan, dirangkaikan, di sintesakan
menjadi sebuah teks yang terpadu dan otonom. Begitu juga upaya yang di
lakukan oleh W Haryanto,penyair,esais,penulis naskah drama,dansutradara
Teater Mata Angin Unair Surabaya dalam Buku “Manisfesto
Ilusionisme”..Pernyataan terbuka para penyihir”.
Hanya
sedikit saya temukan buku puisi dari penyair indonesia, setelah era
(alm) WS. Rendra yang mengekspresikan karya-karyanya dengan menulis apa
yang dilihat, didengar, dan dihayati dari kondisi masyarakat sekitarnya.
Penyair yang bisa mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang
terluka, mereka yang dimiskinkan oleh kekuasaan, mereka yang disergap
kesepian dan membuatnya terasing dalam derap laju pembangunan yang gegap
gempita.
Dari yang sedikit itu, saya temukan nama W Haryanto
ini yang telah malang melintang didunia kepenyairan,dan menghasilkan
berbagai karya antologi Puisi. Dalam kata pengantarnya W
haryanto mempunyai “kredo” bahwa Puisi yang unsur
esensinya adalah Bahasa,adalah sebagai bahasa Penyadaran dan
bukan hanya sebagai bahasa komunikasi. Sebagai sebuah alat
perjuangan menyadarkan masyarakat bahwa ada tatanan yang
timpang,kejadian-kejadian penuh ironi di negeri ini juga dunia.
Seperti pada Puisi “Kemerdekaan “ :
.............
Jakarta! Hatta yang lama! Ada gemuruh
Burungburung membukabuka peti
Mencari kompas dan cerita
“kemerdekaan siapakah”? kita lekas
Menutup halaman buku
Puisi
yang menyergap kesadaran akan pertanyaan kemerdekaan negri
ini untuk siapa? Ketika rakyat kehilangan arah untuk
memperbaiki nasibnya. Dan yang diuntungkan oleh kemerdekaan hanya
beberapa orang saja.
Seperti apa yang pernah di katakan oleh (alm) WS
Rendra “hanya dalam solidaritas dengan lingkungan alam, budaya dan
kosmos, manusia dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan hingga bisa
manjing ing kahanan dan manunggaling kawula Gusti”. Demikian juga upaya
yang dilakukan Penyair W Haryanto dengan Puisi-puisinya ini adalah
sebuah laku untuk Manunggaling kawula Gusti, dengan cara mengekspresikan
perasaan dan kedalaman penghayatannya atas apa yang dilihat dan
didengar di lingkungan masyarakatnya , seperti apa yang ditulisnya dalam
Puisi-puisinya “sirkus pengadilan Indonesia, balada orang mati di
tugu tani, pemilu, Lapindo, kereta yang datang sore hari”
Octavio
paz pernah menulis dalam the other voice “ kontribusi apa yang bisa
diberikan oleh puisi dalam menciptakan teori politik baru? Bukan gagasan
atau cita-cita baru, tetapi sesuatu yang lebih indah dan agung dan juga
gampang pecah : MEMORI.” Ada suara lain yang disuarakan oleh para
penyair jika mereka melihat sebuah situasi ketidak adilan. Yang sebelum
mengendap menjadi kenangan, selalu disuarakan. Sebuah suara yang meski
liris dan lirih tetapi cukup untuk selalu mengasah Belati nurani kita
agar tajam dan bisa menikam semua bentuk kemunafikan. Seperti Puisi:
Balada Perlawanan orang Mesuji
.............................
Jangan tinggalkan mereka dimesuji
Saat desember melepas kavaleri,seperti bunyi kincir,
Mereka tubuh yang menguap dan dihancurkan..jalan
Siapakah di tapal batas ini? Firman tuhankah ?
Di mesuji setiap turun dari awan hitam,
Gerimis yang mengetuk pintu
Dengan tangisan,seolah ada yang takbisa kembali
Perjuangan
terberat kita adalah “perjuangan melawan lupa” demikian ungkapan yang
terkenal dari Novelis Dunia Milan Kundera. Dan memang demikianlah
kenyataannya.dan W Haryantomenulisnya dalampuisi-puisinya karena Dalam
kehidupan kenegaraan kita begitu gampang melupakan sebuah kepedihan dan
penderitaan. Kita begitu cepat lupa dengan apa yang dilakukan Rejim
ORBA, peristiwa Mei 1998, semburan Lumpur Lapindo, dan sebentar lagi
kita juga akan melupakan kasus Gayus,dll.
Tentunya sah-sah saja
seperti yang ditulis dikata pengantar Bahwa W Haryanto menulisbahwa
dia ingin melawan “politik Salihara/utan kayu” dalampengertian
Melawan dengan karya, maka Puisi-puisinya berusahauntuk menjadi bahasa
penyadaran,bukan sebagai puisinya para Penyair yang meminjamistilah
WS.Rendra Para penyair salon,yang bersyair tentang anggur dan
rembulan,sementara ketidakadilan merajalela disekitarnya. Tentunya
halini tidakmudah, karena puisi juga memerlukan bahasa yang
indah, metafora-metafora,ironi,perlambang,dsb. Tetapi kalau tidak
hati-hati maka keindahan kata-kata hanya akanmenjadi akrobat kata-kata
dan permainan struktur teks tanpa makna...dan ini akan menjadi
kontradiksi dengan apa yang diperjuangkannya.
Saya memberi
apresiasi yang tinggiatas buku Manifesto Ilusionisme Ini, semoga
bisamemberi kontribusi yang positif buat Sastra Indonesia. BRAVO!
Arif Gumantia
Senin, 14 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar