Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Selasa, 26 April 2016

Review buku Mereguk Cinta Rumi Karya Haidar Bagir.. ( Ajakan Berkaca Pada Hati Nurani )



Membaca puisi-puisi Jalaluddin Rumi, seperti membaca kitab cinta. Cinta yang menembus ruang dan waktu, cinta yang melampaui dunia dan seisinya, cinta yang menyentuh langit. Puisi-puisinya berbicara tentang cinta pada Tuhan, cinta pada semesta, cinta pada sesame manusia

Puisi-Puisi Rumi, demikian sang filsuf penyair kelahiran Afganistan ini sering disebut , merupakan  refleksi dari bagaimana  menangkap pengalaman batin dari berbagai peristiwa dan kejadian yang menghasilkan sebuah kegelisahan. Kegelisahan tentang  pertanyaan  kehadiran Tuhan di halaman hati kita, kegelisahan tentang rasa cinta pada Tuhan, semesta, dan manusia  yang diolah dalam sebuah proses kreatif, direnungkan secara mendalam dan digabungkan dengan nilai-nilai transcendental sehingga menjadi Puisi-puisi cinta yang menyentuh jiwa pembacanya.

Puisi –puisi Rumi ini juga bisa menjadi sebuah fungsi dari hasil pengamatan dari sebuah waktu sejarah yang dilalui oleh sang penyair, ada yang luput tak terjamah sejarah, di sini mungkin puisi dengan getir dan haru mencatatnya, dengan sebuah bahasa yang bisa menjadi indah. Tentunya pembaca puisi dalam membaca pesan moral dalam puisi, juga dituntut untuk punya kreatifitas yang bisa membawanya menguak makna dari kata-kata yang di sajikan penyair .

Pada titik inilah Upaya yang dilakukan oleh Haidar Baqir, penulis kelahiran solo, alumni S-3 jurusan filsafat Universitas Indonesia (UI)  dengan menerjemahkan Puisi-puisi Jalaluddin Rumi patut kita apresiasi.  Dengan memilih dan memilahnya menjadi Puisi-puisi pendek agar bisa dituliskan dalam media sosial twitter.  Sehingga para pembaca bisa menikmati puisi-puisi tentang keagungan cinta yang bisa membuat kita hidup dengan seluruh rahmatNYA.
“Mari kita pahat permata dari hati yang membatu/ dan membuatnya sinari jalan kita/ menuju cinta”

( hal 15 )

 Dengan gaya ungkap yang Liris, Rumi mentransformasikan antara “kegelisahan jiwa” Penyair dengan “kesadaran penyair itu sendiri. Puisi-Puisinya juga seakan sebuah percakapan antara “nurani” dan “realitas yang harus dihadapi”. Dimana segala Hal ihwal hidup ada di kedalaman hati nurani .
“ Tempat terindah di muka bumi adalah titik pusat hatimu, tempat hidup bermula” ( hal 38 )
Rumi mengajak kita semua untuk selalu berkaca pada hati nurani, karena di situlah diri sejati kita berada, segala kehidupan yang sebenarnya bermula. Bukan kehidupan yang penuh kepura-puraan.


Tafsir atas puisi-puisi Rumi juga menghasilkan sebentuk pemahaman bahwa kita harus selalu menebarkan kebaikan dimanapun dan dalam kondisi apapun, karena hal inilah yang membuat hidup kita sebagai manusia menjadi berarti.

“Dalam malam penuh derita dan kegelapan, jadilah lilin yang tebarkan cahaya, hingga fajar tiba” (hal 48)

Betapa banyaknya orang mendefinisikan cinta, tetapi semua definisi tersebut selalu berhenti pada pengertian yang menggetarkan hati, definisi-definisi tersebut tak bisa dengan tepat menggambarkan apa itu cinta. Karena cinta adalah sebuah “laku” sebuah proses yang tiada henti. Cinta hadir di dalam jiwa setiap manusia, dan menunggu kita untuk melaksanakan segala rasa dan isyarat tersebut agar selaras mewujud menjadi perilaku kita sehari-hari.

“jangan Tanya apa yang bisa dibuat dan diberikan oleh cinta. Lihat saja warna-warni dunia” ( Hal 93 )
Puisi-puisi Rumi terkadang juga mendekonstruksikan apa yang selama ini kita pahami sebagai sebuah kebenaran. Salah satunya adalah tentang pencarian Tuhan, banyak diantara kita mencari Tuhan di kehidupan padahal Tuhan ada di dalam diri kita, Tuihan lebih dekat dari urat nadi leher kita, sepertiyang ada di halaman 111:

“ kaucari Tuhan, itu masalahnya. Tuhan dalam dirimulah yang sedang mencarimu”
Berapa kali kita meninggalkan Tuhan dalam hidup ini, tetapi Tuhan selalu mencintai kita tanpa syarat apapun.
Mengejawantahkan Cinta Tuhan inilah yang harus selalu kita upayakan,  bahwa mencintai kemanusiaan itu harus tanpa syarat baik itu syarat suku, agama, ras, atau golongan apapun. Kalau hal ini bisa diterapkan tentu tidak ada teror dan pembunuhan atas nama Tuhan.

Sebagai salah satu unsur penyusun Puisi yaitu diksi, puisi-puisi Rumi juga menggunakan metafora dalam diksi-diksinya sehingga menjadi puisi yang indah, bertransformasi dari metafora  imajinatif menjadi makna konseptual yang dalam dan mengandumg estetika, seperti dalam Halaman 135

“ ada segumpal pagi dalam dirimu yang menanti untuk merekah menjadi cahaya”

Dan halaman 140 :
“jadilah bak mentari, beri berkah dan rahmat/ Bak malam demi menutupi salah orang/ bak air demi alirkan kedermawanan/ bak bumi demi pelihara kerendahhatian.

Ada kedalaman makna yang bisa kita tafsirkan di dalamnya tentang kehidupan manusia, dimanapun kita selalu bisa menjadi cahaya yang menerangi sesama.


Puisi-puisi Rumi menjadi relevan ketika setiap saat kita melihat tentang huru hara politik, teror, dan siasat siasat licik yang menimbulkan luka-luka kemanusiaan.
Semua hal ini bermula dari ketiadaan cinta. Sehingga menjelma menjadi manusia-manusia yang berbahaya. Untuk itulah membaca puisi-puisi Rumi yang diterjemahkan Haidar Bagir ini, bisa memberikan kontemplasi yang dalam agar kita kembali ke Jalan Cinta. Agar dunia ini menjadi indah penuh warna warni cinta, sebagai mana yang dikatakan almarhum Gus Dur : jangan hanya berhenti mencintai agama, tapi agamakanlah cinta.
“dalam cahayamu kubelajar mencinta/ dalam jelitamu, membuat puisi/ Kau menari dalam dadaku/dari itu menjelmalah seni ini” (hal 141)







Arif Gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun





Judul buku           :  Mereguk Cinta Rumi (serpihan-serpihan puisi pelembut jiwa)

Penulis                  : Dr. Haidar Bagir

Penerbit               : Mizan ( PT Mizan Publika) Jl. Jagakarsa Raya No. 40 Rt 7 Rw. 4

                                 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 telp. 021-78880556

Cetakan                : Pertama, Februari 2016

Halaman               : 285 halaman



Senin, 29 Februari 2016

Dunia Gaib dalam Novel Wuni



“Ya, begitulah hidup. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi esok. Kita berdua menaiki kereta yang sama. Ke tujuan yang sama pula. Tapi kita sedang sama-sama menghadapi persoalan yang tak pernah kita duga-duga. Aku barusan mendengar di iPodku lagu John Mayer, Stop this train. Tahu nggak? Tiba-tiba aku merasa capek. Pengen berhenti. Tapi kita tak boleh capek dan berhenti kan?” (Hal 139). Penggalan dialog dalam Novel inilah barangkali salah satu pesan yang hendak di sampaikan dalam Novel Wuni karya Ersta Andantino ini. Novel dengan sebagian besar ceritanya berdasarkan Legenda Jawa.

Menulis Novel dengan garis besar cerita yang dikisahkan berasal dari legenda  diperlukan kepiawaian dalam teknik menulis cerita  dan kecermatan  dalam menyampaikan gagasan . Kalau novelis kurang cermat maka akan terjadi banya distorsi, karena di dalamnya kental dengan unsur seperti mitos dalam pengertian  menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya,  unsur kekuatan magis yang sulit untuk dibuktikan secara ilmiah, dan unsur dunia gaib. Jalinan unsur-unsur ini memang bisa menyergap dan menghipnotis pembaca untuk membacanya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, hingga pembaca  tetap setia dan tak sabar untuk segera menyelesaikan bacaannya. Tetapi bisa juga menjadi bumerang yang membuat pembacanya tidak meneruskan bacaannya karena novel tersebut menjadi novel tentang klenik yang membosankan.

Seperti kita ketahui Legenda (bahasa Latin: legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklore.

Dan  Ersta Andantino, Novelis kelahiran Nganjuk, Jawa Timur,  mencoba menulis Novel dengan judul Wuni,  menggabungkan realitas alam nyata dan alam gaib yang berjalin kelindan dengan tradisi-tradisi yang ada di Pulau Jawa secara turun temurun.  KIsah Novel ini dimulai saat sang tokoh Jaka Teruna harus pulang ke desa Wuni, klaten, Jawa Tengah  untuk mendapatkan Warisan harta benda yang melimpah secara tak terduga, karena mempunyai Tanda lahir Noda Putih seperti gambar jantung yang ditumbuhi bulu putih tipis dan halus.

Dalam istilah bahasa jawa disebut Toh. ( Hal. 33 ) karena menurut surat wasiat dari almarhum Mbah kakungnya ( Kakek laki-laki) hanya anak yang terlahir dengan tanda lahir tersebutlah yang bisa membersihkan harta benda.


 kekayaan leluhur Jaka tersebut tidak di dapatkan seluruhnya dengan cara-cara yang baik. Salah satunya adalah kakeknya yang bernama Soentoro, membuat perjanjen (perjanjian) dengan makhluk gaib, Jin, untuk mendapat kekayaan, dengan cara menyerahkan salah satu istrinya yang bernama Sumi kawin dengan jin, Genderuwo. (Hal 43). Dalam kisah tersebut istri Soentoro ada 3, Sumi, Darmi , dan Suminah. Sedang Jaka adalah cucu dari Darmi. Untuk itulah Harta kekayaan tersebut harus dibersihkan agar tidak menimbulkan mala petaka bagi semua keturunannya. Dan takdir telah menggariskan bahwa hanya Jaka yang bisa membersihkannya.


Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan sebagai bentuk apresiasi setelah membaca Novel ini, yang pertama adalah narasi-narasi Prosaisnya sebagian besar berisi idiom, metafora, dan perlambang dari kebudayaan Jawa, dengan adanya catatan kaki yang sangat membantu pembacanya yang tidak mengerti bahasa jawa. Beberapa dialognya digunakan oleh penulisnya untuk menceritakan setting suasana, tempat kejadian peristiwa dan kharakter para tokohnya, sehingga membuat kontruksi cerita yang tidak membosankan. Narasi-narasi tersebut bersintesa dengan kenyataan sejarah, penggalan biografi tokoh-tokohnya, dan kisah fiksi hingga menghasilkan perpaduan dalam kesatuan novelistis.


Yang kedua adalah tema utama atau gagasan yang hendak disampaikan oleh penulisnya yaitu tentang jalan hidup manusia, takdir yang dipanggulnya, dan nasib yang penuh dengan jalinan asing dan rahasia. Gagasan ini disampaikan bukan secara gamblang dan menggurui, tetapi dengan berbagai perlambang yang tersirat dan terkadang dalam dialog antar tokohnya. Sesekali diselingi dengan kisah pewayangan yang di dalamnya banyak pesan-pesan bijak yang kontemplatif seperti dalam lakon Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Diyu. (Hal 287).

Dan yang ketiga adalah gaya bercerita dan plot ceritanya yang mengalir linier dan mempunyai perpaduan yang kuat dengan latar kisahnya, meskipun   Ada beberapa flash back di kisahnya. Perpaduan yang kuat ini membuat pembaca bisa mengimajinasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat sekaligus suasana magis yang melingkupinya. Di beberapa kisahnya terkadang menyergap kesadaraan kita karena kekuatan dari cerita yang dikisahkanya, seperti saat jaka harus bertarung dengan berbagai kekuatan hitam yang berasal dari makhluk gaib. (Hal. 319)


Secara keseluruhan novel ini menarik untuk kita baca dan kita renungkan  sebagai bagian dari refleksi tentang hakikat hidup.  Catatan kritis atas novel ini adalah penulis terlalu menonjolkan sisi penceritaan sehingga eksplorasi tentang sisi negative dari sebuah budaya belum tergarap secara optimal, seperti feodalisme dan konstruksi patriarki, agar novel tidak terjebak pada sekedar kisah yang mengharu biru, tetapi juga bisa memenuhi unsur-unsur sastrawi.










Judul Buku : Wuni

Penulis : Ersta Andantino

Jumlah Halaman : 332 Halaman

Penerbit : Javanica

Jln. Permai Raya 11, Pamulang I, Blok BX2/9, RT. 02/12 Pamulang Barat Tangerang selatan                              


Telp : 021-7400789