Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Jumat, 17 Maret 2017

NU sebagai Satpam.



Acara Gus Mus di Bandung dihadiri oleh Kapolda Jabar (Anton Charliyan), Aster Pangdam Jabar, Walikota Bandung (Ridwan Kamil), Ketua PWNU Jabar, Mustasyar PWNU Jabar, seluruh PCNU Jabar, unsur2 NU (banser, fatayat, IPNU, muslimat, dll), dan jamaah bandung dan sekitarnya.

Kapolda Jabar waktu kasih sambutan menyampaikan harapannya pada NU yang dalam sejarah selalu menjadi pembela terdepan keutuhan bangsa. Ketua PWNU Jabar juga menyampaikan tentang komitmen NU yang sejak dulu selalu menjadi tameng untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, walaupun risikonya sering menjadi bulan-bulanan muslimin yang lain (kalau istilah sekarang siap di-bully ramai2 untuk menyelamatkan bangsa).

Walikota Ridwan Kamil, selain menyampaikan harapan besarnya pada NU, dia juga bilang bahwa dalam darahnya mengalir darah “hubbul wathan” nya NU. Dia mengharapkan NU bisa menjadi yang terdepan dalam menangkal zaman penuh fitnah dan hoax ini. Bisa menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah yang belakangan terlihat dimana2. Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin. Bukan Islam yang pandai kutip2 ayat untuk kepentingan kelompoknya (tepuk tangan hadirin bergemuruh).

Beliau menghimbau semua kita mensyukuri nikmat luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia ini, sambil mengutip ayat “Fa bi ayyi aalaaa’i rabbikuma tukadzibaan”. Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan? Kita bangsa Indonesia ini aman, sejahtera, dll. Coba lihat negara2 timur tengah, lihat Iraq, Afghanistan, Yaman, Suriah, dll. Lalu lihat negara ini yang kita bisa tidur, ibadah, kerja dengan aman dan nyaman. Apakah kita rela untuk merusak nikmat ini?

Selanjutnya pembicara utama Gus Mus mengawali ceramahnya dengan mengatakan bahwa sebagaimana judul acara ini “Muhassabah”, maka saya akan lebih banyak mengkritik NU bukan memuji2nya. Beberapa pesan penting dari Gus Mus antara lain adalah:

(a) Seperti disampaikan pembicara2 sebelumnya, NU selalu bergerak paling depan untuk membela keutuhan bangsa. Saat ini bangsa sedang diancam oleh kelompok2 yang berusaha memecah belah kerukunan bangsa, lalu dimana NU? Sedang tidurkah? Beliau menceritakan bahwa sehabis ini para kyai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas masalah mutakhir bangsa ini. Terpaksa kyai sepuh akan turun gunung, karena yang muda2 banyak yang malah tertarik ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbir2nya? Lalu melanjutkan dengan menjelaskan makna dari takbir dengan memberikan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangeten banget itu?!

(b) Beliau cerita pengalamannya bicara berdua dengan Gusdur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang ke Gusdur, kalau NU itu dari dulu ndak naik2 pangkatnya, jadi Satpam terus. Kalau ada sesuatu bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll). Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana nih gus? Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gusdur menjawab: “Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi Satpam nya bangsa ini?” Dan Gusmus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

(c) Beliau juga berpesan untuk berhati2 terhadap yang disebutnya Ulama. Ulama memang pewaris para nabi, tapi ulama yang mana? Harus diteliti track record dari yang mengaku Ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas. Kalau perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kyai itu kalau berdebat seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha santri2nya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair2 berbahasa Arab dengan harapan santri2 masing2 tidak ikutan panas2an. Lha sekarang ini, pimpinannya ribut ngajak2 jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir, dll. Sampai2 belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. Apa ndak menjijikkan sekali itu? Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu menceritakan kemarahan besar Nabi saw terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yg mengucapkan La ilaha illa Llah karena mengatakannya Munafik.

(d) Yang dibilang Ulama jaman sekarang ini mau ikut2an berpolitik, padahal sebenarnya tidak ngerti politik. Dan terus bawa2 agama, padahal ya nggak terlalu ngerti agama. Ya apa ndak kacau balau jadinya.

(e) Gusmus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok2 pemecah belah itu. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik DIAM. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik2, hal2 yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share2 tulisan orang lain.

(f) Gusmus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan2 sejarah yang lampau. Sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan. Dimana fitnah2 bertebaran, informasi2 hoax disampaikan dari mulut ke mulut. Sehingga akhirnya memuncak dengan rakyat yang melakukan pemberontakan (makar) terhadap khalifah Utsman yang akhirnya menyebabkan terbunuhnya beliau. Ingat beliau dulu juga dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.

(g) Gusmus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi ummat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. Sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku2 ulama itu memang pantas disebut para pewaris nabi atau tidak. Allah SWT dalam al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisiknya dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi), hanya Allah memuji keluhuran Akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem). Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita saw kepada kita semua.

Selasa, 21 Februari 2017

Kecerdasan Puitik



Tak bisa kita pungkiri, bahwa saat-saat ini terutama dengan maraknya media sosial, kebanyakan orang beranggapan bahwa puisi memiliki image yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata  aneh yang tak dimengerti, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, hingga beranggapan bahwa Puisi tidak ada hubungannya dengan kehidupan. Hal demikian itu tentu anggapan yang salah karena adanya kesalahpahaman.

“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi  tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri. dan bagaimana mencari  jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan atau penting. Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya. Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi.

Metafor adalah kreativitas pertama dalam puisi, untuk mengomunikasikan kebaruan-kabaruan  itu, masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi   penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, mempengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka. Karena relevan dengan kehidupan, maka metaphor-metafor yang diciptakan haruslah dekat dengan kehidupan dan tidak  menjauhkan dari kehidupan, seperti anggapan salah kaprah yang selama ini terjadi, semakin rumit metafor maka semakin bagus puisi tersebut, selain itu karena Puisi adalah bagian dari seni tentu Metafor tersebut mempunyai nilai estetika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) me·ta·fo·ra /m├ętafora/ didefinisikan sebagai "pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.[1] , misal tulang punggung dalam kalimat "pemuda adalah tulang punggung negara".Metafora adalah majas (gaya bahasa) yg membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan. Dengan kalimat yang singkat,  metafora adalah mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.

Kreatifitas Penciptaan Metafor-metafor ini dipadukan dengan eksplorasi dan eksploitasi Logos (pernyataan-pernyataan yang dapat kita logika), Ethos (menarik perhatian pembaca puisi tersebut sehingga bisa membangkitakan imajinasi, inspirasi, dan mempengaruhi kesadaran  atau dalam bahasa Chairil Anwar, membuat pembacanya “melambung dan terhenyak”), dan Pathos (membangun hubungan emosional/perasaan antara penyair dan pembacanya, hingga tergerak untuk menafsirkan makna puisi tersebut).


Kreatifitas selanjutnya adalah Ironi. Menurut Sapardi  Djoko Damono Ironi inilah sebenarnya terletak inti puisi, Sapardi menyebutnya sebagai : “bilang begini, maksudnya begitu”. Penyair menyampaikan sesuatu gagasan tetapi cara penyampaiannya dengan menggunakan peranti bahasa yang berupa metafora, personifikasi, dan ironi sehingga pembaca harus menafsirkan makna yang tersirat dari larik larik puisi tersebut.dan terkadang puisi puisi tersebut bisa menjadi puisi parabel atau nasehat bagi pembacanya. Disini diperlukan kecerdasan pembaca untuk menafsirkan puisi bukan hanya apa yang tersurat, tetapi juga apa yang tersirat, hingga bisa menggali gagasan dan amanat puisi yang ingin disampaikan Penyair.

Sapardi memberi contoh seperti soneta yang ditulis Chairil Anwar “Kabar dari Laut” :

…………………………..
Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi
Pembatasan Cuma tambah menyatukan kenang
Dan tawa gila pada wiski tercermin tenang.

…………………………………….

Kata kata yang dipilih Chairil Anwar mengekspresikan gejolak emosi yang kuat, dan menggunakan perumpamaan atau ibarat bahwa hidup berlangsung antara buritan dan kemudi. Dan contoh metafora pada Puisi WS. Rendra :

………………………..

Dadanya bagai daun talas yang lebar
Dengan keringat berpercikan
Ia selalu pasti sabar dan sederhana
Tangannya yang kuat mengolah nasibnya

…………………………..

Penyair menggunakan kata bagai untuk membandingkan dua hal, dadanya bagai daun talas yang lebar. Dada petani dan daunt alas. Penyair menggunakan Metafora atau perbandingan : dua hal dibandingkan dengan maksud menjelaskan maknanya. Tangannya yang kuat mengolah nasibnya, nasib yang abstrak, dianggap sebagai sesuatu yang kongkret hingga bisa diolah seperti sawah.

Perkembanga puisi erat kaitannya dengan perkembangan bahasa, oleh karena itu Penyair harus cermat dalam memilih kata dan gaya bahasa. Penyair memang sering dikatakan bisa menciptakan bahasa ‘baru’ karena memiliki licentia poetica atau hak khusus dalam menulis sastra. Setidaknya mampu dan memiliki hak untuk menciptakan ungkapan baru,  Atau sebaliknya, penyair bisa juga kembali ke bahasa klasik untuk mengusahakan kecermatan ekspresi seperti yang dilakukan oleh penyair Amir Hamzah.

Di kebudayaan manapun di belahan dunia ini puisi banyak ditulis sebagai bagian dari simpati kepada orang susah.  Sebagai contoh  puisi Toto Sudarto Bachtiar “Gadis peminta-minta”

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

……………………….

Duniamu lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tetapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

…………………

Sajak yang ditulis tahun 1955 itu bisa dianggap mewakili puisi tahun 50-an yang banyak mengungkapkan simpati penyair terhadap orang miskin.
Berbicara tentang puisi tentu tidak pernah lepas tentang tema cinta,  pengalaman yang sangat merepotkan kita, hingga para penyair manapun sejak penciptaan puisi klasik sampai sekarang sering menciptakan puisi dengan tema cinta.

Seperti Puisi Legendaris Karya Sapardi Djoko Damono ini :

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”



Puisi juga bisa digunakan oleh penyairnya untuk memperlihatkan sikap hidupnya, baik dengan teknik menggunakan gaya ungkap prosa liris atau puisi tentang peristiwa . Dari paparan di atas terlihat kedekatan atau relevansi Puisi dengan kehidupan, sehingga tugas para Penyair adalah berusaha menciptakan kreatifitas-kreatifitas , dan teknik mengeksplorasi kata, bahasa,  diksi agar menjadi Puisi yang dekat dengan kehidupan.





Arif Gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun