Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Selasa, 21 Februari 2017

Kecerdasan Puitik



Tak bisa kita pungkiri, bahwa saat-saat ini terutama dengan maraknya media sosial, kebanyakan orang beranggapan bahwa puisi memiliki image yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata  aneh yang tak dimengerti, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, hingga beranggapan bahwa Puisi tidak ada hubungannya dengan kehidupan. Hal demikian itu tentu anggapan yang salah karena adanya kesalahpahaman.

“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi  tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri. dan bagaimana mencari  jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan atau penting. Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya. Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi.

Metafor adalah kreativitas pertama dalam puisi, untuk mengomunikasikan kebaruan-kabaruan  itu, masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi   penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, mempengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka. Karena relevan dengan kehidupan, maka metaphor-metafor yang diciptakan haruslah dekat dengan kehidupan dan tidak  menjauhkan dari kehidupan, seperti anggapan salah kaprah yang selama ini terjadi, semakin rumit metafor maka semakin bagus puisi tersebut, selain itu karena Puisi adalah bagian dari seni tentu Metafor tersebut mempunyai nilai estetika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) me·ta·fo·ra /m├ętafora/ didefinisikan sebagai "pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.[1] , misal tulang punggung dalam kalimat "pemuda adalah tulang punggung negara".Metafora adalah majas (gaya bahasa) yg membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan. Dengan kalimat yang singkat,  metafora adalah mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.

Kreatifitas Penciptaan Metafor-metafor ini dipadukan dengan eksplorasi dan eksploitasi Logos (pernyataan-pernyataan yang dapat kita logika), Ethos (menarik perhatian pembaca puisi tersebut sehingga bisa membangkitakan imajinasi, inspirasi, dan mempengaruhi kesadaran  atau dalam bahasa Chairil Anwar, membuat pembacanya “melambung dan terhenyak”), dan Pathos (membangun hubungan emosional/perasaan antara penyair dan pembacanya, hingga tergerak untuk menafsirkan makna puisi tersebut).


Kreatifitas selanjutnya adalah Ironi. Menurut Sapardi  Djoko Damono Ironi inilah sebenarnya terletak inti puisi, Sapardi menyebutnya sebagai : “bilang begini, maksudnya begitu”. Penyair menyampaikan sesuatu gagasan tetapi cara penyampaiannya dengan menggunakan peranti bahasa yang berupa metafora, personifikasi, dan ironi sehingga pembaca harus menafsirkan makna yang tersirat dari larik larik puisi tersebut.dan terkadang puisi puisi tersebut bisa menjadi puisi parabel atau nasehat bagi pembacanya. Disini diperlukan kecerdasan pembaca untuk menafsirkan puisi bukan hanya apa yang tersurat, tetapi juga apa yang tersirat, hingga bisa menggali gagasan dan amanat puisi yang ingin disampaikan Penyair.

Sapardi memberi contoh seperti soneta yang ditulis Chairil Anwar “Kabar dari Laut” :

…………………………..
Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi
Pembatasan Cuma tambah menyatukan kenang
Dan tawa gila pada wiski tercermin tenang.

…………………………………….

Kata kata yang dipilih Chairil Anwar mengekspresikan gejolak emosi yang kuat, dan menggunakan perumpamaan atau ibarat bahwa hidup berlangsung antara buritan dan kemudi. Dan contoh metafora pada Puisi WS. Rendra :

………………………..

Dadanya bagai daun talas yang lebar
Dengan keringat berpercikan
Ia selalu pasti sabar dan sederhana
Tangannya yang kuat mengolah nasibnya

…………………………..

Penyair menggunakan kata bagai untuk membandingkan dua hal, dadanya bagai daun talas yang lebar. Dada petani dan daunt alas. Penyair menggunakan Metafora atau perbandingan : dua hal dibandingkan dengan maksud menjelaskan maknanya. Tangannya yang kuat mengolah nasibnya, nasib yang abstrak, dianggap sebagai sesuatu yang kongkret hingga bisa diolah seperti sawah.

Perkembanga puisi erat kaitannya dengan perkembangan bahasa, oleh karena itu Penyair harus cermat dalam memilih kata dan gaya bahasa. Penyair memang sering dikatakan bisa menciptakan bahasa ‘baru’ karena memiliki licentia poetica atau hak khusus dalam menulis sastra. Setidaknya mampu dan memiliki hak untuk menciptakan ungkapan baru,  Atau sebaliknya, penyair bisa juga kembali ke bahasa klasik untuk mengusahakan kecermatan ekspresi seperti yang dilakukan oleh penyair Amir Hamzah.

Di kebudayaan manapun di belahan dunia ini puisi banyak ditulis sebagai bagian dari simpati kepada orang susah.  Sebagai contoh  puisi Toto Sudarto Bachtiar “Gadis peminta-minta”

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

……………………….

Duniamu lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tetapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

…………………

Sajak yang ditulis tahun 1955 itu bisa dianggap mewakili puisi tahun 50-an yang banyak mengungkapkan simpati penyair terhadap orang miskin.
Berbicara tentang puisi tentu tidak pernah lepas tentang tema cinta,  pengalaman yang sangat merepotkan kita, hingga para penyair manapun sejak penciptaan puisi klasik sampai sekarang sering menciptakan puisi dengan tema cinta.

Seperti Puisi Legendaris Karya Sapardi Djoko Damono ini :

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”



Puisi juga bisa digunakan oleh penyairnya untuk memperlihatkan sikap hidupnya, baik dengan teknik menggunakan gaya ungkap prosa liris atau puisi tentang peristiwa . Dari paparan di atas terlihat kedekatan atau relevansi Puisi dengan kehidupan, sehingga tugas para Penyair adalah berusaha menciptakan kreatifitas-kreatifitas , dan teknik mengeksplorasi kata, bahasa,  diksi agar menjadi Puisi yang dekat dengan kehidupan.





Arif Gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun

Rabu, 18 Januari 2017

Mozaik Kota Kenangan (Review kumcer karya Wina Bojonegoro )

Keberanian itu adalah kesanggupan untuk melihat kenyataan di balik punggungmu.



(Wina Bojonegorto, Cerpen Negeri Atas Angin)






Sebaris kalimat menarik dan kontemplatif ini ada di salah satu kumpulan Cerpen Mozaik Kota Kenangan, karya Wina Bojonegoro. Kumpulan cerpen ini merupakan 17 cerpen Pilihan selama 28 tahun Wina Bojonegoro  berkarya baik sebagai penulis cerpen maupun novel. Sebaris kalimat tersebut barangkali bisa menjadi representasi tema-tema yang disampaikan dalam cerpen-cerpen Wina Bojonegoro. Penulis kelahiran Desa Ngasem, Bojonegoro ini tentunya punya pertimbangan-pertimbangan tertentu hingga memilih  17 cerpen dari banyak cerpennya  dalam masa 28 tahun berkarya.



Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan setelah membaca kumpulan cerpen Mozaik kota Kenangan ini, yang pertama adalah tentang gagasan atau tema yang diambil oleh penulisnya. Dari 17 cerpen ini sebagian besar mempunyai tema tentang cinta. Tetapi wina memilih tema tentang cinta bukan hanya cinta yang berwajah penuh bunga keindahan, tetapi lebih menonjolkan wajah cinta dari sisi yang lain yaitu cinta yang melahirkan luka, kesepian, keterasingan, dan keterpurukan. Tema tentang cinta tersebut diramu dengan tema-tema kondisi social budaya yang ada di lingkungan para tokoh yang diciptakannya. Berjalin kelindan antara konflik sang tokoh dengan konflik yang ada di luar diri sang tokoh. Seperti Cerpen Negeri Atas Angin ( Hal 3 ), cerpen yang bercerita tentang  Darsini, Penari Sindir ( Penari Tayub/Ronggeng),  perempuan yang menikahi kura-kura (Hal  97), dan kota kenangan (Hal 237). Konflik-konflik cinta yang ada dalam diri para tokohnya berjalin dengan tatatan social masyarakat yang masih kental dengan budaya patriarki.



Yang kedua adalah gaya bercerita. Wina yang lahir di desa dan bekerja di Kota Surabaya tampak piawai menuliskan cerita dengan gaya mengalir linier meski sesekali flash back. Wina berhasil membuat cerpen yang “Menjadi” (meminjam istilah Chairil Anwar ), sebuah cerita yang benar-benar pendek, ringkas tidak bertele-tele tapi berhasil mengganggu pembacanya  untuk berimajinasi lewat  tokoh dan cerita yang diciptakannya, kemudian  merenungkan apa isi yang tersirat dalam kisah-kisah pendek tersebut. Wina berhasil membuat ceritanya menarik untuk dibaca, karena dia bisa menulis secara cermat dan detail selain kharakter para tokohnya juga latar belakang tempat para tokoh yang diciptakannya berada. Bisa bercerita dengan idiom-idiom desa saat bercerita dengan setting desa, ( Cerpen Negeri Atas Angin, dan Perempuan yang menikahi Kura-kura),  kemudian berbalik 180 derajat bercerita tentang ikon-ikon metropolitan dengan kalimat-kalimat yang lugas dan memukau, seperti pada cerpen Prime Customer ( Hal 177 ) dan Lelaki Asing yang Menemaniku Ngopi Malam Itu ( Hal 147 ).  Sesekali juga menyelipkan kalimat-kalimat puitis dan bahkan kadang ada sinisme pada nuansa kalimat-klaimat yang disusunnya.



Hobbynya traveling membuat Wina juga dengan mudah membuat cerita perjalanan dengan setting cerita tempat-tempat tujuan wisata, seperti pada cerpen Lang Lang dan Kelana (Hal. 23). Dalam gaya penceritaan ini yang juga menarik adalah bagaimana wina mengakhiri ceritanya atau pada ending cerita. Cerpen-cerpennya selalu menyajikan ending yang tak terduga, apa yang diduga pembaca saat membaca cerita sampai pertengahan ternyata salah, bahkan di beberapa cerpennya memberikan ending yang terbuka, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang berdentangan dalam kepala pembaca, Ending yang bisa ditafsirkan sesukanya oleh para pembaca. ( seperti Pada Cerpen Korsakov, hal 1, Konspirasi Minggu Pahi, hal 135, pengakuan Rusmini, Hal 193, dan orang-orang sakit, Hal 161). Ada yang paling saya suka di kumpulan cerita ini, adalah Cerpen Kota Kenangan ( hal 237 ), wina bercerita dengan idiom dan metafora yang puitis, seperti saat bercerita tentang musim yaitu musim luka, musim cinta, dan musim tawa. Diramu dengan cerita tentang kebusukan-kebusukan siasat politik yang di representasikan pada sang tokoh yang bernama mimikri.




Kepiawaian menulis ini tentu tidak hadir begitu saja, perlu latihan menulis yang tekun, membaca buku, dan riset  sebelum menulis tema-tema yang mempunyai setting  tempat dan suasana yang berbeda.



Yang ketiga adalah makna apa yang bisa direnungkan oleh para pembaca setelah membaca cerpen-cerpen ini. nilai-nilai kehidupan apa yang sebenarnya hendak disampaikan  di dalam tiap cerita. Bukan sebagai bagian dari pencarian benar dan salah, tetapi lebih kepada menguak apa yang sebenarnya hendak di sampaikan penulis. Realitas apa yang hendak disampaikan, baik realitas yang ada di depan maupun di balik punggung kita. Dalam hal inilah pembaca karya sastra juga dituntut  untuk cerdas dalam membaca. Menurut saya, dalam cerpen-cerpen ini wina  lebih memilih  menyampaikan   sifat-sifat yang ada pada manusia , sifat yang menjadi dasar dalam tingkah lakunya, dan memberikan konsekuensi-konsekuensi logis yang harus diterima oleh para tokoh yang ada diceritanya. Hal yang terpenting adalah kesanggupan untuk melihat kenyataan yang ada kemudian bagaimana cara menghadapinya.



Untuk karya-karya selanjutnya saya berharap wina tetap konsisten dengan gaya bercerita khasnya ini, dan lebih dalam  mengeksplorasi konflik-konflik  yang terjadi akibat ketimpangan masalah-masalah agama, politik, ekonomi, social dan budaya. Karena menurut saya, karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang selalu dekat dengan tema-tema kemanusiaan. Karya-karya sastra yang minimal bisa mengganggu pikiran orang agar bisa memanusiakan manusia. Selain itu Kumpulan cerpen ini menjadi lebih menarik untuk  dibaca dan direnungkan karena adanya ilustrasi hitam putih dari B.G. Fabiola Natasha. Ilustrasinya di tiap cerpen yang ada bisa menjadi kesatuan yang utuh dengan tema yang ada di cerpen-cerpen tersebut,  bagaikan sebuah ilustrasi music dan filmnya yang menjadi satu kesatuan yang utuh.



Salam Sastra.







Arif Gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun

















Judul buku  :   Mozaik Kota Kenangan  (Kumpulan Cerpen Pilihan)
Penulis         :   Wina Bojonegoro

Penerbit       : CV. Padma Herlambang Nusantara
                          Garuda Regency M-60 REWWIN
                          Waru, Sidoarjo Jawa Timur
                     Telp: (031) 8554004
Cetakan        :  Pertama, Mei 2016
Halaman       : 260 Halaman