Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Sabtu, 13 Mei 2017

Kekalahan yang Agung dan kemenangan Yang Senyap



Kekalahan yang agung dan kemenangan yang senyap

Dalam kehidupan, kita selalu berharap menang menghadapi kompetisi-kompetisi yang kita jalani. Sehingga Grup Rock Queen pun membuat lagu dengan judul “We Are The Champion”...
We are the champions - my friendsAnd we'll keep on fighting - till the end -We are the champions -We are the championsNo time for losers'Cause we are the champions - of the world –

dan kita pun berlomba-lomba membuat rekor kemenangan dalam hal apapun. Hingga terkadang lupa, bahwa ada proses untuk mencapai kemenangan itu, ada rangkaian cara untuk menggapainya. Ketika kita ingin meraih kemenangan dengan cara apapun bahkan  dengan cara yang tidak elegan atau bisa diistilahkan cara yang tidak “sportif” maka kemenangan yang kita raih pun akan menyisakan rasa hampa di hati. Tidak ada rasa “pride” karena kita telah menipu hati nurani sendiri.


hal ini bisa kita rasakan pada kekalahan Ahok, judul diatas saya maksudkan sebagai sebuah realitas yang kita rasakan pasca Pilkada DKI.  Ahok memang kalah, boleh dikatakan telak dalam hitungan matematis, tetapi proses-proses yang  dilaluinya bener-bener hebat dan ada berbagai upaya rekayasa untuk membuatnya kalah. Hal yang pertama dan utama yang saya maksud adalah tuduhan penistaan Agama.

Kalau kita cermati, dan sebagaimana juga dinyatakan dalam pernyataan sikap Jaringan Gusdurian bahwa tidak ada nada Ahok sedang menghina, juga kalau kita bisa mencermati susunan dan urutan kata dalam pernyataan Ahok tersebut. Dari titik inilah awal segala trik dan intrik  dimulai. Mulai dari gelombang Demo berjilid-jilid dengan tema bela agama sampai hal-hal intimidasi untuk tidak mensholatkan mayat yang memilih Ahok, sang penista agama.

Dan yang lebih tragis lagi Ahok harus dipenjara dengan tuduhan yang tidak pernah dilakukannya yaitu menistakan Agama Islam. Dan kenapa saya menyebutnya dengan kekalahan yang Agung, karena meski Ahok kalah, tetapi kalah dengan sportifitas, dan ketika Ahok dipenjara, ribuan orang menyalakan lilin-lilin di setiap kota di seluruh penjuru negeri ini, sebagai bentuk solidaritas, memberikan simpati dan empati, seakan memeberi pesan kepada dunia seperti ungkapan yang sangat terkenal : lebih baik menyalakan lilin darupada mengutuk kegelapan.

Saya jadi ingat lirik puitis lagu karya James F Sundah, yang dinyanyika chrisye ..Lilin-lilin kecil
Engkau lilin-lilin kecil-Sanggupkah kau mengganti-Sanggupkah kau memberi-Seberkas cahaya-Engkau lilin-lilin kecil-Sanggupkah kau berpijar-Sanggupkah kau menyengat-Seisi dunia

Sehingga setiap hari bisa kita saksikan ribuan nyala lilin di penjuru kota, sebuah isyarat, sebuah tanda bahwa Ahok selalu ada di hati masyarakat Indonesia, bukan hanya masyarakat DKI saja, meski beliau adalah Gubernur DKI. Inilah apa yang dikatakan oleh Gus Dur, Bahwa yang lebih penting dari politik adalah Kemanusiaan. Masyarakat yang cinta NKRI merasa mempunyai perjuangan yang sama yaitu menjaga keutuhan NKRI agar tidak terpecah belah oleh politik identitas dan politik perbedaan.

Pada titik inilah saya merasakan bahwa ini adalah sebuah kekalahan yang agung bagi Ahok dan bagi para pendukungnya. Dan bagi pihak yang menang ini adalah kemenangan yang senyap, bukan sesuatu yang gemilang karena sesungguhnya kemenangan sejati adalah kemenangan melawan nafsu-nafsu sendiri. Kemenangan yang senyap pada akhirnya akan terasa hampa, karena tidak ada nilai-nilai cinta kemanusiaan di dalamnya.




Arif  Gumantia

Sabtu, 15 April 2017

Caruban, Ikon dan Cermin Sejarah


Sebuah kota, adalah sebuah komunitas yang di angankan, meminjam istilah Benedict Anderson. Tempat kita hidup, bersosialisasi, memperjuangkan kesejahteraan dan merawat kenangan. Merawat kenangan diperlukan sebagai bagian dari kita untuk belajar dari sejarah masa lalu, agar bisa menjadi cermin instropeksi dalam merancang masa depan yang lebih baik.

Dalam merawat kenangan tentu diperlukan sebuah tanda,  Sebuah symbol juga berbagai teks sebagai bagian dari literasi sejarah. Salah satu tanda dan bisa menjadi sebuah ikon kota adalah adanya nama kota yang menyimpan sejarah. Baik yang menyimpan sejarah sebagai sesuatu yang menggembirakan dan kejayaan kota ataupun sejarah yang berisi kegetiran dan kepedihan kota.

Dari keduanya kita bisa merawat peta masa lalu kita agar sejarah hitam yang penuh kepedihan tidak akan terulang di kemudian hari. Sehingga kota tersebut tidak menjadi kota yang penuh kemurungan (novelis pemenang Nobel, Orhan Pamuk, dalam memoar yang berjudul Istanbul). Tetapi menjadi kota yang nyaman dan aman bagi warganya.

Maka, ketika satu unit dump truk milik Dinas Lingkungan Hidup ( DLH ) kabupaten Madiun dikerahkan untuk mengganti papan nama gapura masuk di Desa Klitik, kecamatan Wonoasri, dan deretan huruf yang sama-sama berjumlah tujuh itu diganti satu persatu, dalam rangka Pemkab Madiun merealisasikan penggantian kota Caruban menjadi kota Mejayan, ada sesuatu yang menyergap perasaan dan menimbulkan sebuah rasa kehilangan. Kehilangan atas sesuatu yang menjadi milik bersama, yaitu Kota Caruban. bukan sekedar fisik sebuah kota saja, tetapi semua mikrokosmos dan makrokosmos kota Caruban.

Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten MadiunEdi Bintardjo menegaskan, penggantian nama dari Kota Caruban menjadi Kota Mejayan memang diawali dari dua gapura masuk di Klitik, Wonoasri, dan #Kaligunting, Mejayan. ‘’Kami tak ingin terburu-buru. Semuanya dilakukan secara perlahan namun pasti,’’ tegasnya kemarin ( Radar Madiun, Jawa Pos Grup).
Upaya penggantian nomenklatur ini juga menyesuaikan kekuatan anggaran yang ada. Karena itulah, di masa awal ini penggantian lebih menyasar pada deretan huruf pada gapura masuk saja. ‘’Penggantian nama kedua gapura itu menjadi langkah penting untuk menegaskan identitas ibu kota baru bagi kabupaten ini,’’ tukasnya.
Selanjutnya, pemkab juga segera melayangkan surat kepada sejumlah instansi terkait. Instansi itu meliputi organisasi perangkat daerah (OPD) seperti RSUD Caruban dan Terminal Caruban. Juga lintas sektoral seperti PT KAI Daop VII Madiun untuk penggantian nama bagi Stasiun Caruban. Serta PLN subarea Caruban yang notabene Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. ‘’Kami tak memberikan deadline waktu khusus. Prinsipnya, lebih cepat tentu lebih baik,’’ tegasnya.
Diketahui, pergantian nama ini mendasar PP Nomor 52 Tahun 2010 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Madiun dari wilayah Kota Madiun ke wilayah Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis, koordinat Kota Caruban memang tidaklah ada. Secara administrasi, di Kecamatan Mejayan juga tak dijumpai dusun maupun kelurahan bernama Caruban. Hal ini tentu berbeda dengan Kota Mejayan yang memiliki 11 desa dan tiga kelurahan pada koordinat 07032’28,71’’ lintang selatan dan 111039’08,40’’ bujur barat.
Hal ini harusnya dilakukan kajian yang mendalam terlebih dahalu sebelum melakukan tindakan-tindakan kongkrit mengganti nama sebuah kota. Perlu riset bersama dari berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, geografi, anthropologi, statistik dan lain-lainnya.  Agar bisa ditemukan titik temu sebagai sebuah penyelesaian yang “win-win solution’.

Benarkah secara geografis Titik koordinat Caruban tidak ada? Sudahkah ada riset komprehensif tentang hal ini, yang bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya secara akademis? Karena menurut apa yang ditulis sejarawan Widodogb Sastro di Facebook Historia Van Madioen, ( yang bersumber dari Sumber : Buku Sejarah Kabupaten Madiun, 1980 ) :
Istilah Caruban , berasal dari kata carub yang berarti campur, dahulu ada suatu tempat berkumpulnya para pejabat,bangsawan, rakyat jelata, dan para priyayi untuk keperluan adu jago, tempat ini kemudian disebut caruban. Majalah Altona menerangkan , bahwa pada masa kekuasaan Hindu Jawa yang berpusat di Ngurawan (Dolopo sekarang), ada sederet perkampungan untuk menempatkan para penjahat, pemberontak dan para tahanan politik di pisahkan dari tempat tinggal dan lingkungannya, orang-orang ini di beri tugas menanam pohon jati. Tetapi hipotesa ini kurang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Yang jelas Desa-desa di Caruban merupakan desa-desa tua, karena itu sudah sepantasnya Caruban pernah menjadi ibukota kabupaten pada masa Kerajaan Mataram Islam. 

Pada masa perang Suropati pada tahun 1684 dan masa perebutan tahta kerajaan Mataram, Kartasura antara Sunan Mas dengan Pangeran Puger pamannya, rakyat Caruban besar andilnya  dalam ikut berjuang melawan tentara Kompeni (VOC) salah satunya di bawah pimpinan Demang Tampingan yang bergabung dengan Pangeran Mangkunegoro IV Wedono Bupati Mancanegara Timur, Madiun.
Desa Krajan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Caruban, Kemungkinan Bupati pertama dijabat oleh Raden Cokrokusumo I atau disebut Tumenggung Alap-alap. Ia semula pejabat tinggi di Demak, Beliau adalah putra sulung Raden Pecat Tondo II,  Raden Pecat Tondo I adalah Adipati Terung, ini merupakan wilayah bekas Kerajaan Majapahit yang terakhir. Bupati kedua adalah Raden Cokrokusumo II sering disebut Tumenggung Emprit Gantil, kemudian bertahta Raden Tumenggung Notosari. Raden Tumenggung Notosari adalah putra dari Bupati Jipang yang bergelar Raden Tumenggung Purwowijoyo. Beliau adalah putra Paku Buwono I dari selir, jadi Bupati Notosari  adalah cucu raja besar Mataram.

Dari perintah Bupati Notosari inilah kemudian salah satu desa di Caruban yaitu Desa Kuncen yang terletak di selatan Desa Sidodadi menjadi Desa Perdikan sebagai tempat makam Bupati Caruban beserta kerabatnya. Bupati Notosari sebelum bertahta di Caruban merupakan salah satu bangsawan di istana Kartasura. Setelah wafat , beliau di makamkan di makam Kuncen Caruban, dengan biaya pemakaman dari Kartasura. Selain Bupati Notosari, di Kuncen Caruban juga dimakamkan para kerabat dan pengikut-pengikut setianya.

Sebagai Desa Perdikan, Desa Kuncen, Caruban dibebaskan dari pajak dan diberi otonomi seluasnya, dengan tanggungjawab merawat makam para Bupati Caruban, beserta kerabatnya. Piagam tentang kemerdekaan desa ini masih ada, yang menunjukkan tahun Wawu 1627 saka atau tahun 1705 Masehi, oleh Sunan Paku Buwono I.
Bupati berikutnya adalah Raden Tumenggung Wignyosubroto, putra bupati sebelumnya, memindahkan ibukota Caruban ke pusat Kota Caruban sekarang atau disebut Desa Tompowijayan atau Bangunsari sekarang. 

Bupati terakhir adalah Raden Tumenggung Djayengrono, putra Bupati Ponorogo yang bernama Pangeran Pedaten. Beliau kawin dengan putri Bupati Mangkudipuro yang dipindahkan oleh Hamengku Buwono I dari Wedono Bupati di Madiun menjadi Bupati kecil di Caruban, karena dianggap tidak tunduk pada perjanjian pemerintahan Jogjakarta setelah adanya perjanjian Gianti. Wedono Bupati di Madiun di berikan kepada panglima perang Kesultanan Jogjakarta, yaitu Ronggo Prawirosentiko setelah menjadi bupati bergelar Ronggo Prawirodirjo I.Para Bupati Caruban dan kerabatnya yang dimakamkan di pemakamam Kuncen Caruban, antara lain, Pangeran Mangkudipuro Bupati Madiun ke 13, Raden Cokorokusumo I, Raden Cokorokusumo II, Raden Tumenggung Notosari, Raden Tumenggung Wignyosubroto, dan Raden Tumenggung Djayengrono.

 Fakta-fakta sejarah ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja untuk mengganti nama kota, karena kebenaran sejarah harus terus diuji dengan berbagai penemuan-penemuan baru, sehingga terlalu dini jika menyimpulkan bahwa secara geografi, Caruban tidak ada dalam koordinat. Bukankah kita semua juga sebelumnya tidak pernah tahu bahwa di Dolopo dulu ada kerajaan besar Gelang-gelang dan Ngurawan, sebelum situs-situs ditemukan dan sekarang sedang diteliti, kesimpulan sementara adalah situs terbesar kedua setelah Trowulan.

Dalam hal ini, kalimat : “apalah arti sebuah nama?” dari Shakespeare tidak berlaku untuk penggantian nama kota Caruban ini, karena ketika kita melupakan sejarah sebuah kota, maka kita akan menjadi orang-orang yang “amnesia sejarah” seperti yang digambarkan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam novelnya Seratus Tahun kesunyian. Sehingga kita berada dalam kondisi yang bener-bener lupa terhadap apapun, semua hal harus diingatkan yang bermuara pada mandeknya peradaban.
Oleh karena sebelum melakukan langkah-langkah untuk mengganti nama kota Caruban menjadi Mejayan, alangkah baiknya jika Pemangku Wilayah kabupaten Madiun, mengadakan riset terlebih dahulu, melakukan berbagai diskusi-diskusi publik dengan masyarakat Caruban, dan biarkan nama Kota Caruban tetap menjadi Caruban.



Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun