Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
Tampilkan postingan dengan label Penulis fenomenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis fenomenal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

MAUKAH KAU MENGHAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU?



Karya
Hamsad Rangkuti





Seorang wanita muda dalam sikap mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang tali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada diantara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia sambil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak denganya, sehingga tegur sapa  diantara kami bisa terdengar:

“Tolong ceritakan sebab apa kau ingin bunuh diri ?” kataku memancing perhatiannya.

Dia tak beralih dari menatap ke jauhan laut. Di sana ada sebuah pulau. Mungkin impiannya yang telah retak menjadi pecah dan sudah tidak bisa lagi untuk direkat.

“Tolong ceritankan penyebab segalanya. Biar ada bahan untuk kutulis.”

Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermainkan ujung lengan bajunya. Dan tampak kalau dia  telah berketetapan hati untuk mengambil sebuah keputusan yang nekat. Tiba-tiba dia  melepas  sepatunya, menjulurkan ke laut.

“ini dari dia,” katanya, dan melepas cincin itu.

“Semua yang ada padaku, yang berasal darinya, akan kubuang kelaut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuka dan kubuang satu persatu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu kuizinkan melekat ditubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikitpun darinya. Inilah saat yang tepat membuang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami.”

Wanita muda itu mulai melepas kancing-kancing bajunya, melepas pakaiannya, dan membuang satu persatu kelaut. Upacara pelepasan benda yang melekat ditubuhnya dia akhiri dengan melepas penutup bagian akhir tubuhnya. Membuangnya ke laut.

“Apapun yang berasal darinya, tidak boleh ada yang melekat pada jasadku, saat aku sudah menjadi mayat, didasar laut. Biarkan laut membungkus jasadku seperti kain pembungkus mayat. Biarkan asin airnya menggarami tubuhku tanpa sehelai benang penyekat.”

Wanita yang telanjang itu mengangkat sebelah kakinya melampaui terali, bersiap-siap membuang dirinya kelaut. Kamera ku bidikan kearahnya. Di dalam lensa terhampar pemandangan yang pantastis! Wanita muda, dalam ketelanjangannya, berdiri ditepi geladak dengan latar ombakdan burung camar. Sebuah pulau berbentuk bercak hitam dikejauhan samudera terlukis di sampingnya dalam bingkai lensa. Sebelum melompat dia menoleh ke arahku. Seperti ada yang terbesit dibenaknya yang hendak dia sampaikan kepadaku, sebelum dia melompat mengakhiri ombak.

“Ternyata tidak segampang itu membuang segalanya,” katanya. “ Ada sesuatu yang tak bisa dibuang begitu saja.” Dia diam sejenak, memandang bercak hitam di kejauhan samudera. Dipandangnya lekung langit agak lama, lalu bergumam: “Bekas bibirnya. Bekas bibirnya tak bisa kubuang begitu saja.” Dia berpaling kearahku. Tatapannya lembut menyejukan. Lama, dan agak lama mata itu memandang dalam tatapan yang mengambang.”Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu?” katanya dalam nada ragu.

Aku tersentak mendengar permintaan itu. Sangat mengejutkan, dan rasanya tak masuk akal diucapkan olehnya. Permintaan itu terasa datang dari orang yang sedang putus asa. Kucermati wajahnya dalam lensa kamera yang mendekat. Pemulas bibir berwarna merah tembaga dengan sentuhan berwarna emas, memoles bibirnya, menyiratkan gaya aksi untuk kecantikan seulas bibir.

“Tidak akan aku biarkan bekas itu terbawa ke dasar laut. Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu ? tolonglah. Tolonglah aku melenyapkan segalanya.”

Orang-orang yang terpaku dipintu lantai geladak berteriak kepadaku.

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Seorang muncul dipintu geladak membawa selimut terurai, siap menutup tubuh wanita yang telanjang itu.

“Tolonglah. Tolonglah aku menghapus segalanya. Jangan biarkan bekas itu tetap melekat dibibirku dalam kematian didasar laut. Tolonglah.”

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Teriak orang-orang yang menyaksikan dari pintu lantai geladak.

Aku hampiri wanita itu. Orang yang membawa selimut berlari kearah kami, menyelimuti kami dengan kain yang terurai itu. Didalam selimut kucari telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas darinya di bagian lain tubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku?” bisikku.

SAYA Chenchen, Pak, “kata wanita itu memperkenalkan dirinya begitu aku selesai menyampaikan cerpen lisan itu dan berada kembali diantara penonton. “Saya menggemari cerpen-cerpen Bapak. Saya mahasiswi fakultas sastra semester tujuh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, pengarang dari cerpen-cerpen yang telah banyak saya baca.”

“Terima kasih. Namamu Chenchen? Tidak nama seorang Minang.”

“Bagaimana kelanjutan cerpen lisan itu ?”

“Kau harus melanjutkannya. Kalian para pendengarnya.”

Sejak itu kami akrab. Aku seperti muda kembali. Berdua kemana-mana didalam kampus Kayutanam maupun ke danau Singkarak, Desa Belimbing, Batusangkar, Danau Maninjau, Ngalau Indah, Lubang jepang, Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Istana Pagaruyung.

Besok adalah hari terakhir aku di Kayutanan. Aku harus kembali kekehidupan rutin di Jakarta. Perpisahan itu kami habiskan di kawasan wisata luar kota Padang panjang. Sebuah kawasan semacam taman, berisi rumah gadang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kawasan itu bersebelah dengan lokasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Tempat itu sejuk diliputi kabut, terkenal sebagai kota hujan. Sebentar-sebentar kabut tebal melintas menutup kawasan itu. Kami mencari tempat kosong disalah satu bangunan berbentuk payung dengan meja bulat dan kursi sandar melingkar, yang disediakan untuk para pengunjung duduk-duduk memendang puncak gunung Merapi. Kemi berkeliling mencari tempat kosong, tetapi semua bangunan-bangunan kecil itu telah dihuni pasangan-pasangan remaja. Mereka duduk memandang lembah dan lereng gunung yang terus menerus diselimuti kabut yang datang seperti asap hutan terbakar.

Kami akhirnya duduk dihamparan rumput berbukit, diantara rumah gadang pajangan dalam ukuran yang sebenarnya.

“Selama lima hari, siang dan malam tak pernah berpisah. Malam kita duduk berdekatan diwarung-warung membiarkan kopi dingin sambil kita berpandangan. Aku mendengar proses kreatifmu sedang kau mendengarkan riwayat dan asal usul tempat-tempat yang akan kita kunjungi besok pagi. Kita tidak menghiraukan mata-mata yang memendang kita. Kita biarkan percakapan-percakapan tentang kita. Tanganku kau pegang dan aku merebahkan kepala ke bahumu dalam udara dingin Kayutanam. Semua itu akan menjadi kenangan. Besok kau akan pulang dan aku akan kembali ke kampus.

”Kita pergi ke Lubang Jepara. Masuk ke dalam kegelapan gua. Berdua kita di dalam kegelapan tanpa seorang pengunjung pun mengawasi kita. Aku berbisik, seolah kita masuk kedalam kamar pengantin dan kau meminta lampu dipadamkan. Kita duduk di puncak pendakian di Lembah Harau. Kita duduk berdua memandang kebawah mengikuti arah air terjun. Lembah kita lihat dari ketinggian dan tempat itu sangat sunyi. Kita biarkan kera-kera mendekat dan kita tidak meras terganggu. Kita biarkan pedagang kelapa muda itu meletakan sebutir kelapa dengan dua penyedot dilubang tempurungnya. Kita tidak hiraukan dia turun meninggalkan kita dan membiarkan kita berdua menikmati kelapa muda yang kau pesan.  Kita benar-benar berdua ditempat sunyi itu. Kita menyedot air kelapa muda itu dengan dua alat sedotan dari lubang tempurung yang sama. Aku satu dan kau satu. Terkadang kening kita bersentuhan pada saat menyedot air kelapa muda itu. Kita pun lupa, mana milikku dan mana milikmu pada saat kita mengulang  menyedot air kelapa muda itu. Kita sudah tidak menghiraukannya. Sesekali kedua penghisap air kelapa itu kita gunakan keduanya sekaligus, bergantian, sambil kau menatap tepat ke mataku dan aku menatap tepat ke matamu. Aku yakin, hal itu kita lakukan semacam isyarat yang tak berani kita ucapkan.

“Kelapa itu kita belah. Kau sebelah dan aku sebelah. Alangkah indahnya semua itu.”

“Kenangan itu akan kubawa pulang.”

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu ?” aku mendekat kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus didalam selimut yang basah. Tak tampak sesuatupun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling diatas rumput dalam kepompong kabut.

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat didalam kabut. Dicarinya telingaku.

“Tak ada bekas yang lain, yang perlu dihapus, sayang.” Bisikinya.

Serpihan kabut menyapu wajah kami bagaikan serbuk embun dipercikan.

“Apakah kita akan keluar dari kepompong kabut ini sebagai sepasang kupu-kupu?”

“Bekas ini akan kubawa pulang dan akan ada yang menghapusnya. Bagaimana denganmu?”

“Akan kutunggu bekas yang baru di bekas yang lama, darimu.”

“Apakah itu mungkin?”

“Mungkin”

“Aku lima empat dan kau dua dua. Itu tidak mungkin.”

“Mungkin.”

“Aku Datuk Maringgih dan kau Siti Nurbaya, dalam usia. Apa yang memaksamu?”

“Entahlah. Akupun tak tahu.”

Kami turun dari puncak bukit itu berpegangan tangan. Dia memegang erat jari-jariku. Dan aku memegang erat jari-jarinya. Seolah ada lem perekat di antara jari-jari kami

Selasa, 10 November 2015

Siapakah sebenarnya Enny Arrow ?

ENNY ARROW | Ada yang tahu wajah atau sosok Enny Arrow?

 Generasi 80an dan 90an pasti mengetahuinya. membaca karyanya dan tumbuh "menggelinjang" bersamanya. meskipun membacanya dengan sembunyi-sembunyi baik di rumah maupun di ruang ruang kelas masa SMA,
inilah nama yang begitu lekat dalam dunia penulisan Indonesia pada 1977-1992. Karya-karyanya paling banyak dibaca generasi muda Indonesia.

Tapi siapakah sebenarnya Enny Arrow,  inilah paparan dari Sunardian Wirodono di akun Facebooknya.

Nama sesungguhnya, Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Hambalang, Bogor 1924. Karirnya dimulai sebagai wartawan pada masa pendudukan Jepang. Belajar stenografi di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein yang mengamati jalannya pertempuran seputar wilayah Bekasi.

Pada 1965, Enny Sukaesih menulis karangan dengan judul "Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta". Ini karya pertama ia mengenalkan nama samaran sebagai Enny Arrow. Kata arrow ia dapatkan sesuai dengan nama toko penjahit di dekat Kalimalang. Di toko penjahit "Arrow" itulah Enny Sukaesih pernah bekerja sebagai penjahit pakaian.

Setelah Peristiwa 30 September 1965, suasana politik tidak menentu, Enny Arrow berkelana ke Filipina, Hong Kong, dan kemudian mendarat di Seattle Amerika Serikat, pada bulan April 1967.
Disitulah Enny belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck. Ia mulai mencoba menulis dan mengirimkan beberapa karyanya ke koran-koran terkenal Amerika Serikat. Salah satu karyanya novel dengan judul "Mirror Mirror".

Tahun 1974, Enny Arrow kembali ke Jakarta, dan bekerja di salah satu perusahaan asing, sebagai copy writer atas kontrak-kontrak¬ bisnis. Semasa kerjanya itulah, Enny rajin menulis novel. Sangat produktif. Salah satunya, "Kisah Tante Sonya", cukup populer, mampu mengalahkan popularitas "Ali Topan Anak Jalanan" Teguh Esha yang hit pada waktu itu. Pada dekade 1980-an, nama Enny Arrow mendapat sambutan luar biasa. Motingo Boesje pun lewat.

Hingga pada kematiannya (1995), tak satupun orang Indonesia tahu siapa dirinya. Warisan semangatnya sebagai penulis, dia menolak bukunya dijual di toko-toko buku besar. Untuk masa kini, sikap kepenulisannya itu nampol banget, untuk toko buku yang mengambil 50% dari harga jual buku.
Enny Arrow bukan saja penulis yang berkibar karena karya-karyanya yang penuh desah. Tapi ia juga penantang karya-karya sastra yang berpihak pada kaum pemodal, waktu itu.

Jumat, 11 Desember 2009

Alan Alexander Milne (1882 – 1956)

Alan Alexander Milne (1882 – 1956)

On Wednesday, when the sky is blue
And I have nothing to do
I sometimes wonder if it’s true
That who is what and what is who
(dari Winnie-the Pooh)

Penulis Inggris, pencipta “Winie-the-Pooh.” Milne menulis beragam jenis buku, syair-syair humor dan komedi ringan saat bekerja sebagai staf Punch. Dia juga menulis novel detektif, The Red House Mystery, yang dikritik keras oleh Raymond Chandler. Tetapi karya Milne paling populer adalah Winnie-the-Pooh (1926) dan The House at the Pooh Corner (1928). Walau terkenal sebagai penulis buku anak-anak, Milne bukanlah orang yang “sangat sayang anak.:”

Alan Alexander Milne lahir di London pada 18 Agustus 1882. Ayahnya mempunyai sekolah sendiri di Mortiner Road, The Henley House. Di antara gurunya selama beberapa waktu adalah penulis fiksi sains, H.G. Wells. Milne menempuh studi matematika di Trinity College, Cambridge dan menyunting majalah mahasiswa Granta. Setelah menerima gelar B.A. pada 1903, dia memulai karirnya sebagai penulis lepas. Esai dan puisinya dimuat dalam majalah satirikal, Punch dan St James Gazette, dan sejak 1906 dia masuk sebagai staff Punch. Atas saran H.G.Well, Milne beranjak untuk menulis novel. Buku pertamanya, Lovers in London terbit pada 1905. Pada 1910-an dia terkenal sebagai penulis drama, khususnya Mr Pim Passes By (1919). Pada 1913 Milne menikahi Dorothy de Sêlincourt dan satu-satunya putra mereka, Christopher Robin Milne, lahir pada 1920. Seusai perang Milne menulis drama The Dover Road (1921), dan menangguk sukses.

Dramanya yang sukses itu kemudian diproduksi di London dan Broadway dan popularitasnya membuat dirinya mampu membeli rumah pribadi di Cotchford Farm pada 1925. Di situlah, di sebuah ruangan kecil, dengan jendela menghadap ke halaman, Milne menulis sambil mengisap pipa rokoknya, dan setelah makan malam dia biasanya mengisi teka-teki silang. Pada usia 42 Milne menerbitkan When We Were Very Young, koleksi puisi untuk anak-anak. Dua tahun kemudian lahirlah Winnie-the-Pooh. Cerita yang sangat populer ini berlatar belakang Hutan Ashdown. Ceritanya menampilkan anak Milne, Christopher (1920-1996), bersama hewan-hewan yang bisa berbicara dan mainan bonekanya – yang terkenal adalah Teddy-bear, Piglet, Tiger, Eeyore dan sebagainya. Cerita itu pada awalnya diberi ilustrasi oleh E.H. Shepard. The House at the Pooh Corner (1928) melanjutkan petualangan Beruang Pooh dan kawan-kawannya. Belakangan Pooh menjadi industri, melahirkan mainan, komik dan film, seperti Winnie-the-pooh and the Honey Tree (1996) produksi Disney.

Milne meninggal pada 31 Januari 1956. Setelah istrinya wafat pada 1971 sebagian keuntungan dari buku-buku Pooh masuk ke ‘Royal Literary Fund,’ yang memberi dana kepada para penulis yang kantongnya kering. Karya-karyanya yang lain diantaranya adalah The Day's Play (1910); The Holiday Round (1912); Once a Week (1914); Happy Days (1915); Würzel-Flummery (1917); The Boy Comes Home (1918); Make-Believe (1918 – yang juga memuat kisah The Princess and The Woodcutter, Oliver's Island, Father Christmas dan The Hubbart Family); Belinda (1918); The Camberley Triangle (1919); The Romantic Age (1920); The Great Broxopp: Four Chapters in Her Life (1921); A Gallery of Children (1925); King Hilary and the Beggarman (1926); The Ivory Door: A Legend (1927); The Secret and Other Stories (1929); Behind the Lines (1940); The Table Near the Band and Other Stories (1950); dan lain-lain.