Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Rabu, 30 Desember 2009

GUS DURKU, BUNG KARNOKU… SELAMAT JALAN…(artikel dari Yahya Cholil Staquf/juru bicara Gus Dur saat menjabat Presiden RI)

Ini kehilangan tak terperi. Tapi diam-diam aku merasakannya seperti formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua belas tahun yang lalu, ketika suatu hari kamar mandi kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), di Kramat Raya Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari dalam dan Gus Dur ada didalamnya. Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya sendiri. Itulah strokenya yang pertama dan paling dahsyat, yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya.

Sebelum malapetaka itu, Gus Dur adalah sosok “pendekar” yang nyaris tak terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bangsa ini, keruntuhan fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa sehingga gelombang pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya. Aku tak pernah berhenti percaya bahwa seandainya yang menjadi presiden waktu itu adalah Gus Dur sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda, wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya.

Aku telah menjadi pengagum berat Gus Dur dan mendaulat diriku sendiri sebagai murid beliau sejak aku masih remaja. Tapi memang Gus Dur telampau besar untukku, sehingga aku tak pernah mampu menangkap secuil pemahaman yang berarti dari ilmunya, kecuali senantiasa terlongong-longong takjub oleh gagasan-gagasan dan tindakan-tindakannya.

Ketika datang kesempatan bagiku untuk benar-benar mendekat secara fisik dengan tokoh idolaku, yaitu saat aku ditunjuk sebagai salah seorang juru bicara presiden, saat itulah pengalaman-pengalaman besar kualami. Bukan karena aku melompat dari santri kendil menjadi pejabat negara. Bukan sorot kamera para wartawan, bukan pula ta’dhim pegawai-pegawai negeri. Tapi inspirasi-inspirasi yang berebutan menjubeli kepala dan dadaku dari penglihatanku atas langkah-langkah presidenku.

Sungguh, langkah-langkah Presiden Gus Dur waktu itu mengingatkanku kembali pada kitab DBR (Dibawah Bendera Revolusi) yang kukhatamkan sewaktu kelas satu SMP dulu. Mengingatkanku pada “Nawaksara”, mengingatkanku pada “Revolusi belum selesai!”

Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika. Venezuela mengipor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus –persen rempah-rempah kita kesana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita. Gus Dur mengusulkan kepada Sultan Hasanal Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunaei Darussalam, lalu melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari bank-bank di Singapura kesana…

Barangkali pikiranku melompat serampangan. Tapi sungguh yang terbetik dibenakku waktu itu adalah bahwa Gus Dur, presidenku, sedang menmpuh jalan menuju cakrawala yang dicita-citakan pendahulunya, Pemimpin Besarku, Bung Karno. Yaitu mengejar kemerdekaan yang bukan hanya label, tapi kemerdekaan hakiki bagi manusia-manusia Indonesia. Yaitu bahwa masalah-masalah bangsa ini hanya bisa dituntaskan apabila berbagai ketidakadilan dalam tata dunia yang mapan pun dapat diatasi. Yaitu bahwa dalam perjuangan semesta itu harus tergalang kerjasama diantara bangsa-bangsa tertindas menghadapi bangsa-bangsa penindas.

Hanya saja, Gus Dur mengikhtiarkan perjuangan itu dengan caranya sendiri. Bukan dengan agitasi politik, bukan dengan machtsforming, tapi dengan langkah-langkah taktis yang substansial, cara-cara yang selama karir politiknya sendiri memang menjadi andalannya. Yang bagi banyak orang terlihat sebagai kontroversi, bagiku adalah cara cerdik beliau menyiasati pertarungan melawan kekuatan-kekuatan besar, baik didalam negeri maupun diluar negeri, yang terlampau berat untuk ditabrak secara langsung dan terang-terangan. Gus Dur terhadap Bung Karno, bagiku layaknya Deng Xiao Ping terhadap Mao Tse Tung.

Tapi pahlawanku bertempur ditengah sakit, seperti Panglima Besar Soedirman di hutan-hutan gerilyanya. Maka nasib Diponegoro pun dicicipinya pula…

Banyak orang belakangan bertanya-tanya, mengapa orang tua yang sakit-sakitan itu tak mau berhenti saja, beristirahat menghemat umurnya, ketimbang ngotot seolah terus-menerus mencari-cari posisi ditengah silang-sengkarut dunia yang kian semrawut saja. Saksikanlah, wahai bangsaku, inilah orang yang terlalu mencintaimu, sehingga tak tahan walau sedetik pun meninggalkanmu. Inilah orang yang begitu yakin dan determined akan cita-citanya, sehingga rasa sakit macam apa pun tak akan bisa menghentikannya. Selama napas masih hilir-mudik di paru-parunya, selama detak masih berdenyut di jantungnya, selama hayat masih dikandung badannya.

Kini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelimutkan kasih sayang paripurnanya untuk hambaNya yang mulia itu. Memperbolehkannya beristirahat dari dunia tempat ia mengais bekal akhiratnya. Semoga sesudah ini segera tercurah pula kasih sayang Allah untuk bangsa yang amat dicintainya ini, agar dapat beristirahat dari silang-sengkarut nestapa rakyatnya. Gus Durku, Bung Karnoku… Selamat jalan….

Happy New Year!

Another fresh new year is here . . .
Another year to live!
To banish worry, doubt, and fear,
To love and laugh and give!

This bright new year is given me
To live each day with zest . . .
To daily grow and try to be
My highest and my best!

I have the opportunity
Once more to right some wrongs,
To pray for peace, to plant a tree,
And sing more joyful songs!”

_William Arthur Ward_

Selasa, 29 Desember 2009

Waspadai Makanan di Sekitar Kita

Judul : Bahan-bahan Berbahaya Dalam Kehidupan: Kenali Produk Sebelum Membeli
Penulis : Mia Siti Aminah & Andra Himawan
Penerbit : Salamadani, 2009
Tebal : 78 halaman

Akhir-akhir ini, kita dikagetkan oleh berita yang menayangkan acara penyelidikan mengenai kecurangan dan perbuatan tidak bertanggung jawab sejumlah orang yang memproduksi makanan dari bahan-bahan yang tidak layak, kemudian dipasarkan di pasar tradisional hingga dikonsumsi oleh anak-anak sekolah. Ditemukan pula puluhan jenis makanan olahan, seperti nugget, bakso, mi basah, tahu, dan ikan pindang laut yang mengandung bahan-bahan berbahaya, seperti rhodamin B (pewarna kertas), formalin, dan boraks (bahan pengawet mayat).

Fenomena tersebut memberikan informasi dan pengetahuan yang sangat berharga. Sebagai konsumen kita harus jeli, cerdas, dan teliti sekaligus waspada terhadap makanan maupun minuman yang kita beli untuk kebutuhan sehari-hari. Buku ini berisi informasi lengkap mengenai bahan tambahan pangan berbahaya, dan kasus penipuan yang merebak di masyarakat, seperti daging sapi glonggongan, ayam tiren, makanan berformalin, jajanan anak sekolah yang mengandung bahan kimia berbahaya, beras berpemutih, obat palsu, dan peralatan makanan berformalin.

Dengan uraian yang jelas, singkat, dan padat, buku ini dapat menjadikan Anda sebagai konsumen yang peduli terhadap kesehatan dan cerdas agar tidak terkecoh informasi palsu yang menyesatkan dan tidak bertanggung jawab. Sebuah buku yang menarik untuk disimak. (Nia Kurniawati, Pusat Data Redaksi)**

Centurygate dan Bhagavad Gita

OLEH ADHIE M MASSARDI

JEONG CHO-SHIN memang bukan kriminolog. Tapi film berjudul Jakarta (2001) yang disutradarainya, bisa dijadikan rujukan para kriminolog Indonesia untuk mempelajari praktek kejahatan, khususnya, perampokan bank, yang belakangan ngeren di negeri kita.

Meskipun judulnya Jakarta, film komedi thriller ini tidak berlokasi di Ibukota negara kita. Sebab “Jakarta” dalam film ini adalah kata sandi para bandit Korea yang artinya “kejahatan sempurna”, perfect crime. Memang, dalam film ini, komplotan perampok uang 3 juta dolar AS di sebuah bank di Seoul itu, sangat rapi. Untuk merayakan kesuksesannya, para bandit ini terbang ke Jakarta.

Tidak dijelaskan apakah setelah sampai Jakarta mereka bertemu Robert dan Dewi Tantular, atau bergabung dengan para penjahat perbankan kita yang juga sukses membobol Bank Indonesia Rp 600 T lewat skandal BLBI. Kita juga tidak diberi informasi apakah pemakaian judul Jakarta sebagai kata sandi “kejahatan sempurna” ini diilhami oleh sempurnanya kejahatan perbankan di Jakarta.

Kita hanya tahu, kejahatan perbankan seperti BLBI, Indover, Bahana, memang nyaris berjalan sempurna. Karena itu, meskipun kerugian negara sudah mencapai ratusan triliun rupiah, tapi yang masuk penjara bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Itu pun yang kelas milyaran…

Skandal perampokan uang negara Rp 6,7 T lewat Bank Century, misalnya, berjalan sempurna. Sebab para pelakukanya menutupi kejahatannya dengan berbagai argumentasi cerdas, sangat masuk akal. Mereka juga berlindung di tengah isu krisis global, berdampak sistemik, mengubah peraturan, mengelabui DPR, Polri, Kejaksaan Agung, dan memayungi semua itu dengan peraturan yang mereka bikin sendiri.

Lebih sempurna lagi, para penjahat perbankan kita adalah kalangan profesional terpelajar dengan berbagai gelar akademik tinggi. Perilaku mereka sehari-hari di depan publik juga santun, mengesankan pejabat pemerintah yang bersih. Itulah sebabnya meskipun skandal Bank Century centang-perentang, pelanggaran hukumnya juga sudah dibeberkan BPK dengan transparan, tetap saja masih ada kaum terpelajar, di antaranya saudara kita, teman kita, yang bersedia membela mereka.

Para pembela pelaku skandal Bank Century memang saudara kita sendiri, teman kita sendiri, yang saat melawan rezim Orde Baru, berada bersama kita. Ada Erry Riyana Hardjapamekas yang pernah menjabat Wakil Ketua KPK, ada Wimar Witoelar sohib saya ketika jadi jubir Gus Dur, ada Marsilam Simandjuntak, Goenawan Mohamad, Todung Mulya Lubis, Rachland Nashidik, Faisal Basri, dll.

Terus terang, melihat “di sana” berbaris saudara dan teman-teman sendiri, membuat saya ragu dan berpikir ulang apakah langkah saya (dan teman-teman Gerakan Indonesia Bersih) sudah benar?
Saya memang ingat pesan Mahatma Gandhi. “Buang rasa takut menegur atau melawan saudara sendiri, teman sendiri, bila itu untuk menegakkan keadilan…!” Tapi benarkah saya?

Di tengah kebimbangan yang menggundahkan ini, Khresna muncul dari balik kitab Bhagavad Gita. Lalu dengan suaranya yang menggetarkan, Khresna berkata: “Dari manakah timbulnya depresi batinmu ini, pada saat-saat yang penuh dengan krisis seperti ini? Menolak berperang adalah tidak pantas untuk seorang Aryan. Penolakan ini akan menutup pintu masuk ke sorga. Penolakan ini adalah puncak dari kehinaan, oh Arjuna!”

Belum hilang rasa kaget itu, Khresna berkata lagi: “Janganlah bertindak sebagai seorang pengecut, oh Arjuna! Tiada laba yang akan kau petik dari kelakuanmu ini. Buanglah jauh-jauh kelemahan hatimu. Bangkitlah, wahai Arjuna!”

Mungkinkah Khresna salah alamat? Saya memang adiknya Yudhistira (Massardi). Tapi kan bukan Arjuna?

Rabu, 23 Desember 2009

Daya Evokasi dalam puisi

Dalam Kereta

oleh : Chairil Anwar

Dalam kereta.
Hujan menebal jendela.

Semarang, Solo, makin dekat saja
Menangkup senja.

Menguak purnama.
Caya menyayat mulut dan mata.

Menjengking kereta. Menjengking jiwa.
Sayatan terus ke dada.

15 Maret 1944

----------------------------------------------------------------------------
Daya Evokasi dalam puisi bisa diartikan secara mudah sebagai sebuah kekuatan dari kata yang di ambil atau kalimat yang dipungut untuk menjelaskan gagasan dari penyairnya. gagasan yang di maksud bisa juga tema yang ingin di sampaikan oleh penyair. Coba kita belajar dari Puisi Chairil Anwar dengan Judul "Dalam Kereta" Di atas...

Sajak “Dalam Kereta” dibuka oleh dua baris berbunyi:

Dalam Kereta
Hujan menebal jendela

Dua baris itu langsung menyajikan suasana terkurung –mungkin(?) juga pengap. Chairil menggambarkan suasana yang dikurung oleh dua lapisan sekaligus: sudah berada (1) di “dalam kereta”, ealah…. (2) masih pula keretanya diguyuri hujan yang “menebali jendela”.

Tentu saja tidak semua penumpang yang berada dalam kereta yang ditebali hujan lebat akan merasakan suasana pengap dan muram. Penumpang yang sedang jatuh cinta atau yang baru saja naik pangkat akan tersenyum-senyum dan menikmati rinai hujan di luaran sebagai simfoni indah yang berdentang dalam dada. Hanya saja, baris-baris berikutnya –sehemat saya—lebih menunjukkan aura mencekam ketimbang riang.

Semarang, Solo? Makin dekat saja
Menangkup senja
Menguak purnama

Ya, ya, dua baris berikutnya dari sajak ini menunjukkan bahwa kereta yang dimaksud sedang menuju Semarang dan/atau Solo. Tapi, kenapa di situ Chairil menyebutkan dua kota tujuan sekaligus? Kenapa tidak salah satu saja? Yang mana yang benar? Adakah Chairil sedang menggambarkan kebingungan menentukan tujuan? Atau memang belum tahu tujuan? Tak bisa tidak, suasana ketidakpastian sudah menelisut di situ.

Kendati belum jelas dan pasti kota apa yang dituju, Chairil sepertinya sudah cukup jelas punya tujuan dari perjalanannya yaitu hendak “menangkup senja” dan “menguak purnama”. Mungkin senja akan ditangkup di Semarang sementara purnama akan dikuak di Solo.

Yang jelas, di situ Chairil menunjukkan satu target atau obsesi (“menangkup senja” dan “menguak purnama”). Tapi, target atau kehendak itu rasanya sedikit aneh dalam kosa kata sajak-sajak Chairil. Biasanya, atau lebih banyak, Chairil menguarkan obsesi dan tekad dengan bahasa yang lugas, tegas dan seringkali seperti hentakan dari ujung sebuah orasi yang menggelegar, macam: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”.

Objek dari target atau obsesi atau tekad itu ternyata “senja” dan “purnama”; dua hal abstrak yang seringkali dirujuk untuk menggambarkan suasana hati yang teduh, indah, pendeknya jauh dari sesuatu yang hiruk-pikuk, menggelegar atau tantang-menantang.

Tiga baris terakhir sajak Chairil makin menyempurnakan kemuraman, rasa perih dan mencekam yang sudah disiapkan Chairil sejak baris pertama itu dalam satu pukulan ironi yang menggambarkan kepasrahan untuk dicincang-cincang:

Caya menyayat mulut dan mata
Menjengking kereta. Menjengking jiwa.
Sayatan terus ke dada.

Jumat, 18 Desember 2009

Orang-orang miskin

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Jumat, 11 Desember 2009

Alan Alexander Milne (1882 – 1956)

Alan Alexander Milne (1882 – 1956)

On Wednesday, when the sky is blue
And I have nothing to do
I sometimes wonder if it’s true
That who is what and what is who
(dari Winnie-the Pooh)

Penulis Inggris, pencipta “Winie-the-Pooh.” Milne menulis beragam jenis buku, syair-syair humor dan komedi ringan saat bekerja sebagai staf Punch. Dia juga menulis novel detektif, The Red House Mystery, yang dikritik keras oleh Raymond Chandler. Tetapi karya Milne paling populer adalah Winnie-the-Pooh (1926) dan The House at the Pooh Corner (1928). Walau terkenal sebagai penulis buku anak-anak, Milne bukanlah orang yang “sangat sayang anak.:”

Alan Alexander Milne lahir di London pada 18 Agustus 1882. Ayahnya mempunyai sekolah sendiri di Mortiner Road, The Henley House. Di antara gurunya selama beberapa waktu adalah penulis fiksi sains, H.G. Wells. Milne menempuh studi matematika di Trinity College, Cambridge dan menyunting majalah mahasiswa Granta. Setelah menerima gelar B.A. pada 1903, dia memulai karirnya sebagai penulis lepas. Esai dan puisinya dimuat dalam majalah satirikal, Punch dan St James Gazette, dan sejak 1906 dia masuk sebagai staff Punch. Atas saran H.G.Well, Milne beranjak untuk menulis novel. Buku pertamanya, Lovers in London terbit pada 1905. Pada 1910-an dia terkenal sebagai penulis drama, khususnya Mr Pim Passes By (1919). Pada 1913 Milne menikahi Dorothy de Sêlincourt dan satu-satunya putra mereka, Christopher Robin Milne, lahir pada 1920. Seusai perang Milne menulis drama The Dover Road (1921), dan menangguk sukses.

Dramanya yang sukses itu kemudian diproduksi di London dan Broadway dan popularitasnya membuat dirinya mampu membeli rumah pribadi di Cotchford Farm pada 1925. Di situlah, di sebuah ruangan kecil, dengan jendela menghadap ke halaman, Milne menulis sambil mengisap pipa rokoknya, dan setelah makan malam dia biasanya mengisi teka-teki silang. Pada usia 42 Milne menerbitkan When We Were Very Young, koleksi puisi untuk anak-anak. Dua tahun kemudian lahirlah Winnie-the-Pooh. Cerita yang sangat populer ini berlatar belakang Hutan Ashdown. Ceritanya menampilkan anak Milne, Christopher (1920-1996), bersama hewan-hewan yang bisa berbicara dan mainan bonekanya – yang terkenal adalah Teddy-bear, Piglet, Tiger, Eeyore dan sebagainya. Cerita itu pada awalnya diberi ilustrasi oleh E.H. Shepard. The House at the Pooh Corner (1928) melanjutkan petualangan Beruang Pooh dan kawan-kawannya. Belakangan Pooh menjadi industri, melahirkan mainan, komik dan film, seperti Winnie-the-pooh and the Honey Tree (1996) produksi Disney.

Milne meninggal pada 31 Januari 1956. Setelah istrinya wafat pada 1971 sebagian keuntungan dari buku-buku Pooh masuk ke ‘Royal Literary Fund,’ yang memberi dana kepada para penulis yang kantongnya kering. Karya-karyanya yang lain diantaranya adalah The Day's Play (1910); The Holiday Round (1912); Once a Week (1914); Happy Days (1915); Würzel-Flummery (1917); The Boy Comes Home (1918); Make-Believe (1918 – yang juga memuat kisah The Princess and The Woodcutter, Oliver's Island, Father Christmas dan The Hubbart Family); Belinda (1918); The Camberley Triangle (1919); The Romantic Age (1920); The Great Broxopp: Four Chapters in Her Life (1921); A Gallery of Children (1925); King Hilary and the Beggarman (1926); The Ivory Door: A Legend (1927); The Secret and Other Stories (1929); Behind the Lines (1940); The Table Near the Band and Other Stories (1950); dan lain-lain.

Senin, 07 Desember 2009

DERAI-DERAI CEMARA

Derai-derai Cemara

oleh : Chairil Anwar

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Dalam sebuah Puisi…tidaklah harus memilih kata-kata yang rumit dan asing untuk menyampaikan sebuah gagasan atau Pesan.
Kita lihat Puisi sang Legenda Penyair Chairil Anwar di atas…sangat sederhana bukan?
Dan keindahan yang di munculkan sangat kita rasakan…

Dan puisi-2 chairil banyak yang menjaga rima untuk menawarkan sebuah pembacaan yang indah ..bisa kita lihat..

Jauh…malam….merapuh…terpendam….(untuk bait pertama dan pada akhir kalimatnya)

Dan juga jalinan kata , pertautan antar baitnya sangat terasa..mulai penggambaran suasana pada bait pertama dan sebuah ending di bait terakhir yang merupakan sebuah renungan yang dalam.

“Hidup hanya menunda kekalahan” …..
Memang kita pada akhirnya kalah dan menyerah dengan kematian…karena jasad dan waktu adalah fana.
Tetapi penekanannya bukan pada kata KALAH tapi pada kata MENUNDA..
Mengandung pengertian “tundalah kematianmu dengan mengisi hidupmu dengan segala kebaikan yang kita miliki. Agar berguna bagi orang lain.”

Demikianlah Chairil Anwar yang meninggal di usia 27 tahun sudah begitu banyak memberikan perenungan pada kita tentang Hidup, dan juga bagaimana membuat puisi yang indah.


Tentunya kita tidak harus meniru gaya berpuisi d seperti CA, setiap orang punya style atau cara pengungkapan masing-masing.
Yang jelas menurut saya Puisi yang bagus adalah bagaimana merangsang daya imajinasi pembaca saat membaca larik-larik dalam puisi tersebut.

Sabtu, 05 Desember 2009

Kasus prita masuk "new york time"

New York Times

THE SATURDAY PROFILE

Trapped Inside a Broken Judicial System After Hitting Send

"People always lose to the powerful in this country. I'm a mother, a regular person like everybody else, so a lot of people identified with me and felt sympathy." PRITA MULYASARI

By NORIMITSU ONISHI

Published: December 05, 2009

TANGERANG, Indonesia

PRITA MULYASARI became famous, as her lawyer put it, for going from "e-mail to jail."

Her ordeal began when she sent an e-mail message complaining about the poor treatment she received at a hospital to 20 relatives, friends and co-workers. The message, forwarded from one mailing list to another, eventually fell into the hands of the hospital's lawyers, who sued for defamation. In no time, Ms. Mulyasari, 32, a mother of two infants, found herself sharing a jail cell with murderers and facing six years in prison, seemingly yet another ordinary Indonesian caught up in one of the world's most corrupt legal systems.

And yet Ms. Mulyasari's story didn't end there. After word of her predicament leaked out, support for her swelled in Indonesia's freewheeling news media and blogosphere, forcing the authorities to release her after three weeks in jail.

"People always lose to the powerful in this country," Mrs. Mulyasari said. "I'm a mother, a regular person like everybody else, so a lot of people identified with me and felt sympathy."

Being a symbol made her visibly uncomfortable, though, as she posed for photographs for supporters at a court hearing this week here in Tangerang, a city near the capital, Jakarta. A ruling in her trial is expected later this month, and Mrs. Mulyasari said she was hoping that a not-guilty verdict would allow her to slip back into anonymity. Prosecutors are seeking a six-month sentence.

Whatever the judgment, it will be scrutinized because of an unrelated, continuing scandal involving the national police, attorney general's office and anticorruption agency. Recent revelations have put a spotlight on a judicial netherworld where the rich routinely bribe corrupt police officials, prosecutors and judges for favorable treatment.

Meanwhile, ordinary people appear subject to severe punishment for seemingly harmless infractions. Last month, an illiterate grandmother in Central Java was convicted of stealing cacao fruits worth 15 cents, which she took by mistake, from a plantation company and handed a suspended sentence of 45 days. A Jakarta man arrested for charging his cellphone in a hallway inside his building is now on trial for theft.

As for Ms. Mulyasari, she said she had lost faith in the country's legal system.

"My only hope is to pray and to appeal to the judge's humanity," she said, a few minutes before her hearing began.

On this morning, as they had done for every court hearing in recent months, Ms. Mulyasari and her husband, Andri Nugroho, 30, took a day off from work and left their two children at home. It was her lawyers' turn to argue that Ms. Mulyasari had had no intention of forwarding her e-mail message beyond the original recipients.

In a courtroom with no air-conditioning, where many fanned themselves with sheets of paper, her lawyers took turns reading from a 178-page brief. Ms. Mulyasari, who did not speak, sat by herself in a chair facing three judges on an elevated bench. Only the white hijab covering her head was visible from the gallery.

It all began one night 16 months ago when Ms. Mulyasari went to the Omni International Hospital here with a high fever, a few months after the birth of her second child. She had driven by the hospital many times before and had been drawn by the word "international" on the modern building's facade. "You think the service must be good, that the standards are international," she said during breaks in the hearing.

ACCORDING to Mrs. Mulyasari's account, she was diagnosed with dengue fever, an infectious disease transmitted by mosquitoes that is common here, and began receiving injections. But her condition kept getting worse. As her neck, left hand and left eye swelled, she had trouble breathing. After six days at Omni, she transferred herself to another hospital, which immediately diagnosed her with mumps and treated her.

Angry about her treatment at Omni and what she described as the staff's unresponsiveness, she composed the long e-mail message detailing her experience there, criticizing physicians and others by name. Then, using her Yahoo account, she fired it off to her circle of family, friends and colleagues at the bank where she works in customer service. "I don't want to know who forwarded it," she said, "because they're all family and friends."

The message flitted from one address to another, bouncing onto a Yahoo mailing list of Indonesian physicians, before being picked up by Omni.

The hospital's lawyers filed a civil lawsuit, eventually winning $21,600 in damages, a ruling that Ms. Mulyasari's chief lawyer, Slamet Yuwono, is planning to appeal. What's more, acting on the hospital's complaints, prosecutors at first pursued criminal charges of defamation, which carries a maximum four-year prison sentence. Lawyers for Omni did not return phone calls requesting comment.
Then, for reasons that remain unclear, prosecutors indicted Ms. Mulyasari under a new law governing electronic information and transactions, which carries a maximum sentence of six years in prison. This law, originally intended to help regulate business transactions, was enacted in such a way that, human rights organizations warned, it could be used to rein in Indonesia's flourishing Internet culture. Ms. Mulyasari was one of the first people to be charged under the law, which, because it carries a maximum prison sentence of more than five years, allowed the authorities to put her in jail immediately.

"I asked the prosecutors to let me go home for one night to say goodbye to my family, but they refused," Ms. Mulyasari said.

During her 21 days in jail, she was kept in a small cell with 11 other inmates and was unaware that news of her incarceration had spread in the media, in blogs and on Facebook. Lawyers volunteered to defend her pro bono. She was freed, relieved to go home but no longer able to breastfeed her daughter Ranarya, who was 16 months old at the time.

Whenever her trial seemed over, a new development would bring her back to court. Her case was dismissed in July, but prosecutors quickly succeeded in obtaining a new trial.

A local politician tried to broker an out-of-court settlement between Ms. Mulyasari and the hospital. "But the hospital demanded a written apology," she said. "If I'd agreed, that would have meant admitting that I was wrong."

Born in Jakarta, Ms. Mulyasari has lived in this area her entire life, except for three years of college in Perth, Australia. For several years, she worked in customer service at an insurance company where she met her future husband, a graphic designer. When they married in 2006, in keeping with a widespread practice forbidding couples to work in the same company, she switched to her current employer, an Indonesian bank.
"When I first met her," said her husband, Mr. Nugroho, "I saw her as a strong and independent woman."

BY midafternoon, as the heat settled all over the courtroom, Ms. Mulyasari's lawyers neared the end of their 178-page brief. Some people in the gallery were sound asleep. The chief judge handed a piece of candy to an assistant judge who, clearly struggling to stay awake, kept rubbing his eyes. The tilt of Ms. Mulyasari's covered head, seen from the gallery, suggested that she, too, was nodding off.

With another hearing fixed for next week, the couple drove their Honda hatchback to the middle-class, gated community here where they live in a small rented house. Their neighborhood is more than two hours from their offices in Jakarta. But their children are free to play on their block.

One of the couple's two maids brought out a cake. It happened to be Mr. Nugroho's birthday. "I just hope this will be all over by the end of the year," Ms. Mulyasari said. "I'm not comfortable being famous. People recognize me in the malls or in the markets, and I have to be nice to them, even though I'm not in a good mood. I prefer being a normal person."

Jumat, 04 Desember 2009

Album-album Legenda Rock AC DC


AC/DC adalah kelompok musik hard rock yang dibentuk di Sydney, Australia pada November 1973 oleh rhythm guitarist Malcolm Young dan saudaranya lead guitarist Angus Young. Band ini telah menjual lebih dari 150 juta keping album di seluruh dunia. Album mereka dari tahun 1980, Back in Black, terjual 42 juta keping di dunia (21 juta di Amerika Serikat saja). Band ini telah memiliki dua lead singers, dan penggemarnya terbagi dua antara penggemar "Bon Scott era" (1974-80), dan "Brian Johnson era" (1980-sekarang).

Inilah kelompok rock yang tetap konsisten.AC/DC dari Australia.Tetap dengan semangat Rock n Roll rules.Mereka adalah orang-orang yang konsisten dengan musik Rock, tak perduli dengan selera pasar musik dunia.Dentaman musiknya tetap gahar dan sangar.Tentunya tetap dengan citarasa Rock n Roll yang kental terutama pada riff-riff Angus young yang menggetarkan penikmat dan penyimaknya.Walau usia telah pelan-pelan mengikis,toh AC/DC tetap berupaya untuk tetap digjaya.Semangat semacam ini harus dikembangbiakkan oleh band aliran apapun.

Dan yang pasti AC/DC adalah Angus Young.Gitaris yang selalu mengenakan seragam SD. berjiwa bagai dalam kisah Legenda Peter Pan,tak mau beranjak dewasa.


Current Members

Brian Johnson – lead vocals (1980–present)
Angus Young – lead guitar (1973–present)
Malcolm Young – rhythm guitar, backing vocals (1973–present)
Cliff Williams – bass guitar, backing vocals (1977–present)
Phil Rudd – drums, percussion (1975–1983, 1994–present)

Former members

Dave Evans – lead vocals (1973–74)
Bon Scott – lead vocals (1974–80)
Mark Evans – bass guitar, backing vocals (1975–77)
Simon Wright – drums, percussion (1983–89)
Chris Slade – drums, percussion (1989–94)

Diskografi


Studio Albums
• 1975: High Voltage (Australia)
• 1976: T.N.T. (Australia)
• 1976: High Voltage
• 1976: Dirty Deeds Done Dirt Cheap (Australia)
• 1976: Dirty Deeds Done Dirt Cheap
• 1977: Let There Be Rock (Australia)
• 1977: Let There Be Rock
• 1978: Powerage
• 1979: Highway to Hell
• 1980: Back in Black
• 1981: For Those About to Rock We Salute You
• 1983: Flick of the Switch
• 1984: '74 Jailbreak
• 1985: Fly on the Wall
• 1986: Who Made Who
• 1988: Blow Up Your Video
• 1990: The Razor's Edge
• 1995: Ballbreaker
• 1997: Bonfire
• 2000: Stiff Upper Lip
. 2008: Black Ice

Live Albums

• 1978: If You Want Blood You've Got It
• 1992: Live
• 1992: Live: 2 CD Collector's Edition
• 1997: Live from the Atlantic Studios
• 1997: Let There Be Rock: The Movie

Videography

• 1980: AC/DC: Let There Be Rock
• 1985: Fly on the Wall
• 1986: Who Made Who
• 1989: AC/DC (Released in Australia only)
• 1991: Clipped
• 1991: Live at Donington
• 1993: For Those About to Rock We Salute You
• 1996: No Bull
• 2001: Stiff Upper Lip Live
• 2003: Live '77 (Released in Japan only)
• 2004: Toronto Rocks
• 2005: Family Jewels





Arif Gumantia
Creator Grup Legenda Rock di FB.
"Only brave heart playing Rock"

Selasa, 01 Desember 2009

. ARTI KEJUJURAN ... Oleh : Hilda Hima

Abdullah bin Dinar meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, “Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu....”
.... “Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya,” jawab si gembala.
...“Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala,” lanjut Khalifah.
Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, ...“Lalu, di mana Allah?”...

Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata,
... “Kalimat ‘di mana Allah’ itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.” ...

Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.

Islam menganjurkan berlaku jujur bagi setiap orang –apa pun profesinya– dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad saw menegaskan, “Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka.” (HR Bukhari).

Berlaku jujur memang sulit manakala ia berbenturan dengan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Orang rela mengorbankan kejujurannya demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Yang tergambar dalam pikirannya bahwa dengan banyaknya materi yang dia miliki segera akan dihormati orang banyak, dengan ketinggian jabatan dan kedudukan yang dia sandang serta merta mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat.

Dari sini maka muncullah spekulasi kebohongan untuk maksud asal bapak senang, menghalalkan segala cara, menumpuk kekayaan di atas keprihatinan orang lain, tidak peduli akan terjadinya kesenjangan sosial, dan meningkatnya angka kemiskinan. Alhasil, kebohongan demi kebohongan dengan mudah ia lakukan demi kesenangan dan kenikmatan sesaat.

Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat masuk Islam, yang sebelumnya sangat gemar melakukan dosa besar –berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Nabi memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, “Jangan berbohong.”

Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini, namun ternyata implikasinya begitu indah, mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa, ia selalu teringat pada nasihat Nabi saw.

Sedangkan untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah... Subhanallah...

Rabu, 25 November 2009

EFEK SAMPING BLEKBERI


EFEK SAMPING BLEKBERI | = |


Belakangan diketahui bahwa BlackBerry ternyata memberi efek samping bagi pemakainya. Berikut adalah akibat-akibatnya:

1. Rela disuruh antri, semakin panjang semakin tenang, gak menunjukkan gejala kekesalan sama sekali.

2. Yang tadinya ngedumel saat macet, sekarang tenaaaaang.

3. Berharap kena lampu merah berulang-ulang. Kalo lampu berubah jadi ijo malah kesel. Tetep nekad jawabin email/chatting.

4. Sering diklaksonin orang lain, sampe disaranin pasang stiker di belakang mobil "harap sabar, BlackBerry user".

5. Waktu BAB jadi tambah lama. Padahal isinya udah kosong tapi tetep aja nongkrong.

6. Tidur miring nungguin pasangan sambil BB di tangan. Kejar target ngabisin baca email.


7. Suka senyum-senyum sendiri.

8. Gak konsen kerja.

9. Bangun pagi yang pertama dicari BB dulu bukan yang lain.

10. Waktu diajak ngobrol orang tetep maksa jawab email/chatting. Cuek. Padahal yang ngajak ngobrol itu kadang bossnya sendiri.

11. Lebih senang disupirin daripada nyetir sendiri. Rela naik busway biar gak usah nyetir.

12. Jadi jarang marah tapi jadi sering dimarahin orang karena diajak ngobrol gak nyambung.

13. Kalo di tempat umum suka panik nyari stop kontak. Batere sekarat.

14. Kalo anaknya rewel langsung nunjukkin BB nya buat menghibur.

15. Sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun. Belum lagi kebablasan lantainya.

16.
Kalo ngantri di bank pake nomor antrian, pas dipanggil di speaker gak
denger. Pas kepala liat monitor kaget. Waks! Harus ambil antrian ulang.
Tapi tetep tenaaaaang.

17. Langganan koran dan majalah masih tertumpuk rapi tak terbaca.

18. Sering kejedug karena kalo jalan mata tertuju ke layar BB.

19.
Bikin tangan ga pernah kosong. Walaupun ga chatting, tetep aja BB di
tangan! Ga bisa taro di kantong, tas.. uda settingannya gitu. BB kejait
di tangan.

Jumat, 20 November 2009

Kepribadian manusia dilihat dari status Facebook dan twitter (Diambil dari grup KOTAK HUMOR)

1. Manusia Super Update
Kapanpun dan di manapun selalu update status. Statusnya tidak terlalu panjang tapi terlihat bikin risih, karena hal-hal yang tidak terlalu penting juga dipublikasikan.
Contoh : "Lagi makan di restoran A..", "Dalam perjalanan menujuneraka..", "Saatnya baca koran..", dan sebagainya.

2. Manusia Melankolis
Biasanya selalu curhat di status. Entah karena ingin banyak diberi komentar dari teman-temannya atau hanya sekedar menuangkan unek-uneknya ke facebook. Biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yang terbaik kepada yang lain.
Contoh : "Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..", "Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini..".

3. Manusia Tukang Ngeluh
Pagi, siang, malem, semuanya selalu ada aja yang dikeluhkan.
Contoh : " Jakarta maceeet..!! Panas pula..", "Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!", "Males ngapa2in.. cape hati gara2 si do' i..", dsb.

4. Manusia Sombong
Mungkin beberapa dari mereka ga berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel.
Contoh : "Otw ke Paris ..!!", "BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..", "Duh, murah-murah banget belanja di Singapur, bow,"

5. Manusia Puitis
Dari judulnya udah jelas. Status nya selalu diisi dengan kata-kata mutiara, tapi ga jelas apa maksudnya. Bikin kita terharu? Bikin kita sadar atas pesan tersembunyinya? atau cuma sekedar memancing komentar? Sampai saat ini, tipe orang seperti ini masih dipertanyakan.
Contoh : "Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan", "Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi", "Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu".

6. Manusia in English
Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis gicyu Low..
Contoh : "Tie and Chair..", "I can tooth, you Pink sun.." dsb..

7. Manusia Lebay
Updatenya selalu bertema 'gaul' dengan menggunakan bahasa dewa.. ejaan yang dilebaykan..
Contoh.." met moulnin all.. pagiiieh yg cewrah... xixiixi" << lol~

8. Manusia Terobsesi
Mengharap tapi ga kesampaian.. pengen jd artis ga dapat-dapat.
Contoh : "duwh... sesi pemotretan lagi! cape..."

9. Manusia Sok Tau
Sotoy tenarnya. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang ditulisnya.
Contoh : "Pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla...bla,"

10. Bioskop Mania
Update film yang abis ditonton dan kasih comment..
Contoh : "ICE AGE 3..Recomended! !", "Transformers 2 mantab euy.."

11. Manusia pedagang
Contoh: "jual sepatu bla bla bla"

12. Manusia penyuluh masyarakat
Contoh: "jangan lupa dateng ke TPS, 5 menit utk 5 tahun bla..bla"

13. Manusia Alay
Ada berbagai macam versi, dari tulisannya yang aneh, atau tulisannya biasa aja, hanya saja kosakata nya ga lazim seperti bahasa alien.
Contoh:Alay 1 : "DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!"
Alay 2 : "km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa? "
Alay 3 : "Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!"(Khusus buat tipe ini, ga usah di baca juga gpp..saya pribadi juga mikirdulu buat nulis ini, walaupun jadinya kurang mirip sama yg aslinya..)

14. Tipe Hidden Message
Tipe ini biasanya tidak to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yg dituju membaca nya. (bagus kalo baca..kalo ngga? kelamaan nunggu) padahal kan bisa langsung aja sms ya..
Contoh : "For you my M***, I can' t live without you..you are my bla bla bla..","Heh, cewe bajingan..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo.." (padahal ce tersebut tidak ada dalam jaringannya. . mana bisa baca...:p)

15. Tipe Misterius
Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya tanya atas apa maksud dari status orang tersebut..Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkanSubjek + Predikat + Objek + Keterangan. Tapi orang tipe ini mungkinhanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja..Dan pastinyamengundang kontroversi.
Contoh : "Sudahlah.." , "Telah berakhir.." (apanya??),"Termenung.. ." (so what gitu, loh)

Kalian ngikut yang mana???



Madiun, 6/08/2009
Arif Gumantia


*Berhubung ini humor nggak boleh ada yang tersinggung jika statusnya sama..wakakkakka..hahahhahha..hehhehe

Indonesia dalam Berita!

Dudukkan diri dan pandangi Televisi,
Mencoba tenangkan sesuatu yang menyesakkan dada,

Tentang Polisi yang bersumpah atas nama Tuhan, seperti saat dia bersendawa,
Tentang Jaksa yang berkata : “mari tegakkan hukum dengan cara yang tidak melanggar hukum”, sementara dia berkompromi secara sembunyi dengan pejabat yang korupsi,
Tentang para ulama yang berteriak –teriak :”kamilah yang berhak mengurus buah dada dan paha wanita”,
Tentang pemimpin yang selalu bicara Negara adil, makmur, dan sejahtera, sementara kita hanyalah gugusan angka, dihitung selepas senja,.
Tentang para petani yang terlempar dari satu krisis ke krisis berikutnya, berdiam dengan gemetaran tentang nasibnya yang kelam bagai langit biru malam,
Tentang para wanita penjaja cinta yang kedingingan di etalase-etalase kota, tanpa tahu kapan nasib akan menjemputnya menuju ruang cahaya,
Tentang sekolah-sekolah yang rapuh dan mulai roboh, dan kita sudah lelah bertanya mengapa bantuan Negara belum juga tiba,

wajah negeri kita
Dalam berita!





Madiun,19/11/2009
Arif Gumantia

Rabu, 18 November 2009

Harta Kita yang sebenarnya.

Salam Hikmah...
Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Salam Sejahtera...

Sahabat Hikmah...
Kita sering salah menyikapi HARTA KITA YANG SEBENARNYA milik kita, banyak orang menumpuk hartanya di bank, investasi saham, membeli tanah, rumah, mobil dan lains ebagainya.
Apakah benar itu milik kita yang sebenarnya???

Untuk menjawabnya marilah kita belajar dengan kisah Ibu Ella yang sangat sederhana ini:

Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya mengumpullkan sampah plastic dari kemasan. Cuma untuk memperolehnya, dia harus memungutnya di sungai. wanita paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya itu berumur 54 tahun, inilah petikan wawancara tim Uang Kaget RCTI dengan Bu Ela

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela..
“Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan mengunakan ‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’.
“Oh.. boleh, silahkan masuk.”

Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka.
“Silahkan masuk…”
Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya.

“Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela.
Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panci yang diisi air. Ibu Ela harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.

“Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak.

Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’.
Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain mencari plastic,
“Mengaji…” katanya

“Hari apa aja Bu…?” Tanya saya

“Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu adalah hari untuk menemani Ibunya yang dirawat di rumahnya.

Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela.

Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.

Saya tanya lagi,
“Paling jauh pengajiannya dimana Bu?”
“Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela.

“Kesana naik mobil dong..?” tanya saya.
“Saya jalan kaki” kata Ibu Ela
“Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran.

Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang Rp 7.000 sehari.

“Iya.. mas, saya jalan kaki dari sini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke ustadz…” Ibu Ela menjelaskan.

“Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati.

“Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, datar.

“Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong.

“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat.

Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak!
Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding!

Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.

Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan menjadi haknya di akherat kelak?

‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, mungkin minggu depan.

Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.

Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan tim kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money)

Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya.

Ibu Ela mendapatkan ganti dari Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah akan ganti di akherat kelak.

Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak...

Sahabat Hikmah...
Hidup ini fana...sementara...
Kita diberi waktu di dunia ini untuk menyiapkan KEHHIDUPAN YANG SEBENARNYA di akhirat.
Barang siapa yang mengumpulkan hartanya hanya untuk KEDUNIAAN maka itu semua PASTI akan DITINGGALKAN...
Tetapi barang siap mengumpulkan hartanya untuk NEGERI AKHIRAT, maka kita PASTI akan MENDATANGINYA....
Sudahkah kita menyiapkan HARTA KITA YANG SEBENARNYA di akherat?

"Dan carilah dari APA SAJA yang telah Allah BERIKAN KEPADAMU untuk mencapai KEBAHAGIAAN di NEGERI AKHIRAT, dan JANGANLAH kamu MELUPAKAN NASIBMU di DUNIA. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS 28:77)

Sahabat Hikmah....bahkan apa yang kita infakkan akan dilipatgandakan oleh Allah ta'ala....
" Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. " (QS. 2:261)

Bayangkan dibalas dengan 700 kali lipat !!

Rumus matematika mengatakan 100 – 10 = 90, tetapi rumus sedekah yang dibuat oleh Allah ta'ala adalah: 100-90 = 7090 dengan perhitungan:

100 kita dapat rizki dari Allah, 10 disedekahkan/diinfakkan maka
10 dilipat gandakan 700 x menjadi = 7000
Sehingga 100-10 = 90 + (10x700)= 7090

Ada yang bertanya, jadi kalau saya sedekahkan Rp10.000, maka saya akan mendapatkan kembali Rp.7000.000 ??? Semudah itu???
Ya ! Silahkan buktikan wahai sahabatku.

Yang perlu diingat adalah : IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS..
Cuma kadang kita menhgetahui RIZKI hanya diukur dengan uang...?
Tidak wahai sahabtku....
Kadang matematika Tuhan ini tidak kasat mata. Tidak melulu uang diganti dengan uang. Tetapi Allah Yang Maha Suci dengan Kesempurnaan-Nya juga Maha Mengetahui mana yang terbaik dan apa yang sedang dibutuhkan oleh hamba-Nya saat itu. Bisa jadi Diganti dengan keselamatan dijalan, bertahun-tahun gak pernah sakit, mudah cari kerja, kemudahan berusaha, kebahagiaan keluarga, anak yang berbakti, ditemukan jodohnya dan lain sebagainya.

Semoga kita senantiasa IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS

Terima kasih ...atas kiriman dari Rumah Yatim Indonesia

Selasa, 17 November 2009

Metallica...always POWERFULL


Di awal tahun 1981, Lars Ulrich sang drummer memasang iklan dalam sebuah koran setempat mencari personil untuk membentuk sebuah band. Iklan ini mendapat sambutan dari James Hetfield yang dengan segera bergabung dengan band yang belum punya nama ini.

Metallica didirikan pertama kali di Los Angeles - Amerika Serikat dengan nama The Young of Metal Attack. Beberapa bulan kemudian grup ini berganti nama dengan Metallica yang konon merupakan gabungan kata Metal dan Vodca. Nama Metallica sendiri sebenarnya adalah nama yang diusulkan untuk sebuah majalah musik yang dicuri oleh Lars Ulrich sebelum majalah tersebut mendapat nama tersebut.

Formasi pertama Metallica adalah Lars Ulrich (drum), James Hetfield (vokal dan gitar), Lloyd Grant (gitar) dan Ron Mc Govney (bass). Formasi inilah yang kemudian melahirkan lagu pertama berjudul Hit The Light, yang kemudian masuk album kompilasi rock Metal Massacre tahun 1981.

Setelah Metal Massacre beredar, Grant dan Ron mengundurkan diri. Posisi Grant digantikan oleh Dave Mustaine dan posisi Ron digantikan Cliff Burton. Formasi ini kemudian pada Juli 1982 mengeluarkan demo-album No Life Till Leather. Demo inilah yang kemudian mengantarkan Metallica mendapatkan agen dan kemudian hijrah ke New York.

Pada 1983, Metallica berencana akan melakukan tur pendek kebeberapa kota. Sayang Hetfield dan Mustaine malah terlibat perseteruan, hingga akhirnya Mustaine keluar dan kemudian mendirikan Megadeth. Posisi Mustaine digantikan oleh Kirk Hammett , gitaris dari grup Exodus. Formasi ketiga inilah yang kemudian mengeluarkan album Kill 'Em All pada bulan Mei 1983.

Pada tahun 1984, Metallica semakin besar dengan menerbitkan album Ride the Lightning. Album ini bertahan 50 minggu dalam Billboard Top 200. Demi memperlancar promosi mereka juga mengeluarkan mini album Jump In The Fire.

September 1985, Metallica memproduksi album Master Of Puppets. Kembali Metallica masuk Billboard Top 40 selama 72 minggu. Album ini merupakan album yang meraih platinum tanpa single dan video.

Tanggal 27 September 1986, dalam perjalanan tur ke Skandinavia - bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan Cliff Burton (bass) meninggal dunia. Peristiwa ini begitu memukul seluruh anggota band. Bahkan Dave Mustaine yang telah mendirikan Megadeth, mengenang kematian Cliff dalam lagu In My Darkest Hour (album Megadeth: So far.. So Good.. So What!). Oktober 1986, posisi Cliff Burton digantikan oleh Jason Newsted, basis dari grup Floatsam And Jetsam.

Album ...And Justice For All beredar September 1988. Disinilah Metallica mulai mengeluarkan video klip. Video pertama mereka adalah untuk lagu One, video ini mencapai nomor 1 di MTV. Keberhasilan ini kemudian mendorong produksi video klip Cliff 'Em All sebuah video kenangan untuk Cliff Burton.

Akhir 1990 album Metallica direkam. Album ini membuat Metallica mencapai penjualan quadruple platinum dan menjadi album nomor satu di delapan negara Amerika dan Eropa. Serta meraih penghargaan Grammy Award, kategori Penampil Metal Terbaik dua tahun berturut-turut.

Basis jason Newsted mengundurkan diri dari band setelah bersitegang dengan James Hetfield. Perseteruan ini disebabkan Jason Newsted lebih menghabiskan waktu dengan proyek-nya sendiri. Anggota band yang lain menganggap Metallica harus diutamakan, meskipun pada saat itu Metallica sedang vakum.

Grup ini pada saat ini beranggotakan Lars Ulrich (drums), James Hetfield (vokal dan gitar), Kirk Hammett (gitar) dan Robert Trujillo (bass). Mantan anggota lainnya termasuk Ron McGovney (bass), Dave Mustaine (gitar), Cliff Burton (bass) dan Jason Newsted (bass).

Pada tanggal 10 Agustus 2008 Metallica akhirnya telah menyelesaikan proses rekaman album studio baru mereka yang ke sembilan "Death Magnetic" yang diluncurkan pada tanggal 12 September 2008 di seluruh dunia.

Album tersebut diproduseri oleh "Rick Rubin" dan proses rekaman dilakukan di Sound City Studios, Shangri La Studios dan di studio Metallica sendiri.

dengan usia yang tidak muda lagi tapi Metallica tetap bermusik dengan irama heavy dan speed metal, always powerfull. sebuah dedikasi pada musik Rock yang patut diteladani oleh para musisi-musisi muda.



Discography


* Kill 'Em All (1983)
* Ride the Lightning (1984)
* Master of Puppets (1986)
* ...And Justice for All (1988)
* Metallica (1991)
* Load (1996)
* ReLoad (1997)
* St. Anger (2003)
* Death Magnetic (2008

Band members

Current members

* James Hetfield – rhythm guitar, lead vocals (1981–present)
* Kirk Hammett – lead guitar, backing vocals (1983–present)
* Robert Trujillo – bass, backing vocals (2003–present)
* Lars Ulrich – drums, percussion (1981–present)



Former members

* Jason Newsted – bass, backing vocals (1986–2001)
* Cliff Burton – bass, backing vocals (1982–1986)
* Dave Mustaine – lead guitar, backing vocals (1982–1983)
* Ron McGovney – bass (1982)
* Lloyd Grant (gitar) (1982)



Madiun, 16/11/2009
Arif Gumantia
Creator Grup Legenda Rock di FB
"Only brave heart playing rock"

Minggu, 15 November 2009

Chickenfoot, Grup Baru dari para Legenda Rock dunia.


BERSENANG-SENANG, sebuah kata yang nampaknya memang akrab dengan kehidupan para rockstar, namun apa yang dilakukan oleh Sammy Hagar, Joe Satriani, Chad Smith dan Michael Anthony rupanya boleh dibilang menyenangkan juga bagi fans. Mereka membentuk sebuah Band yang bernama Chickenfoot. Serasa menyimak Van Halen yang diwakili oleh Ex-Vokalisnya Sammy Hagar, dan juga bassistnya Michael Antony, dan ada nuansa fusion rock-funk, berkat gebukan drum Chad smith yang merupakan drummer Red Hot Chili Peppers, salah satu Legenda Gitar terbaik di dunia ini Joe satriani.

Sebuah band baru yang di isi oleh para Super Star Rock, bagaikan sebuah band yang baru dibentuk tapi langsung menjadi sebuah supergroup., saat di konfirmasi ", vocalist Sammy Hagar states: "We’re not a supergroup, we like hanging out together and the music is a bonus. We just happen to be in other groups tapi racikan dari empat musisi kawakan ini rasanya layak untuk diapresiasi, terlebih mereka tetap bermain apa adanya, saling menyisakan ruang untuk sesama “nama besar .

Album debut self-titled Chickenfoot, memang rilis pada 9 Juni 2009 lalu, namun kebersamaan Sammy, Anthony, Satriani dan Chad sebenarnya telah berlangsung sejak awal 2008 silam, ini membuktikan meski mereka musisi kawakan, namun masih butuh sebuah proses ‘PDKT’ untuk saling memahami karakter masing-masing. Dan tak sia-sia, dengan mayoritas lagu dibuat oleh Sammy dan Satriani, mereka berhasil memilih 11 track, yang kabarnya harus dipilih dari ratusan materi jam session mereka!

Bagi die-harder Van Halen tentu akan terpuaskan dengan high-pitch vokal Sammy serta low-strong beat khas Anthony semasa mereka masih bersama Edy Van Halen dulu. Bahkan, di opening single “Oh Yeah, Down The Drain” serta “Sexy Little Thing”, Chickenfoot bagaikan Van Halen ‘tandingan’.

At least, ternyata identitas Chad sebagai salah satu ikon funk dalam Red Hot Chili Peppers juga mendapat porsi. Sangat terasa di “Future in the Past” dan “Turnin’ Left”, dua track dominasi fusion berdistorsi yang tetap groovie dan dinamis.
Begitu pula Joe Satriani yang lumrah ber-surfing di neck gitarnya, bersama Chickenfoot, guru besar Kirk Hammet ini menyisakan ruang untuk kekuatan lick gitar rhytem. Namun, sebagai seorang shredder gitaris gundul ini tak pernah menyia-nyiakan celah dalam setiap aransemen untuk jamming. Uniknya, semua dilakukan tanpa harus njlimet memikirkan komposisi, atau strict khas Satriani.

Untuk track yang potensial menjadi sing-a-long anthem, antara lain “Runnin’ Out”, “Soap On A Rope”, “Get It Up” serta “Learnin’ To Fall”. Semuanya bercirikan hits rock old-school yang rasanya sudah terlalu lama absen dari industri musik yang kian instan. Untuk track terakhir mengedepankan irama ballad harmonis, bertema religi dengan choir yang megah sebagai latar.
Overall, Chickenfoot jelas bukan mencari platinum, namun output yang unik dan langka ini bisa jadi adalah ekses bersenang-senang mereka yang bernilai mahal. Sebuah eksplorasi baru yang bukan hanya brilian bagi mereka, namun bermutu bagi telinga kita semua.

Maka album dari Chickenfoot ini layak untuk kita miliki, kita apresiasi, sekaligus kita koleksi. Keep On rockin’.

Album : Self Title
Label : Redline entertainment
Release : 5 Juni 2009.

Full "Chickenfoot" Track Listing:

Avenida Revolution
Soap On A Rope
Sexy Little Thing
Oh Yeah
Runnin' Out
Get It Up
Down The Drain
My Kinda Girl
Learning To Fall
Turnin' Left
Future In The Past




Madiun, 13/11/2009
Arif Gumantia
Creator grup Legenda Rock di FB.
"Only brave heart playing Rock"

Rabu, 11 November 2009

Kata-kata terakhir para Tokoh dunia sebelum meninggal

Biasanya sebelum meninggalkan dunia ini, sebagian orang ada yang mengucapkan kata-kata atau juga berupa pesan-pesan terakhir mereka. Berikut ini adalah kumpulan kata-kata atau pesan terakhir dari orang-orang terkenal. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari mereka yang sudah pergi mendahului kita. Salam.

Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang.
oleh :
Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum ajal.

Tuhanku, Tuhanku ….
oleh :
Chairil Anwar, Penyair Angkatan 45

Is someone hurt?
(Adakah orang lain yang terluka?)
oleh :
Robert F. Kennedy kepada istrinya setelah dia tertembak dan sebelum koma

I’ll be in Hell before you start breakfast!
(Saya akan berada di neraka sebelum kamu memulai sarapanmu !)
oleh :
“Black Jack” Ketchum, perampok kereta api
Don’t worry…it’s not loaded…

(Jangan khawatir … pistol ini belum siap pelurunya …)
oleh :
Terry Kath, musisi rock Chicago Transit Authority ketika ia membersihkan pistolnya dan menarik pelatuknya

Die, my dear? Why that’s the last thing I’ll do!
(Matikah aku, sayangku ? Mengapa hal itu yang terakhir yang akan kualami.)
oleh :
Groucho Marx, Komedian Amerika

Go on, get out! Last words are for fools who haven’t said enough!
(Ayolah, semua keluar ! Kata-kata terakhir hanyalah kebodohan bagi siapa saja yang berkata cukup !)
oleh
Karl Marx, ketika ditanya oleh pembantunya apa kata-kata terakhirnya.

I have a terrific headache.
(Saya merasa sakit kepala yang luar biasa.)
oleh
Franklin Delano Roosevelt, presiden ke-32 USA.

I’d hate to die twice. It’s so boring.
(Saya benci kalau harus mati dua kali. Kematian ternyata begitu membosankan.)
oleh :
Richard Feynman, Fisikawan Amerika

I have not told half of what I saw.
(Saya belum mengungkapkan separuh dari apa yang kulihat.)
oleh
Marco Polo,Penjelajah dunia

Lord help my poor soul
(Tuhan, tolong jiwaku yang malang)
oleh :
Edgar Allan Poe, penulis Amerika

Thank God. I’m tired of being the funniest person in the room.
(Terimakasih Tuhan. Saya lelah untuk menjadi orang paling lucu di ruangan ini.)
oleh :
Del Close,komedian Amerika.

I don’t have the passion anymore, and so remember, it’s better to burn out than to fade away. Peace, Love, Empathy. Kurt Cobain.
(Aku sudah tidak bergairah lagi, dan ingatlah, tubuh ini lebih baik dibakar hingga musnah daripada dikuburkan. Damai, cinta, kasih. Dari Kurt Cobain.)
oleh :
Kurt Cobain, vokalis dan gitaris grup musik Nirvana dalam catatan bunuh dirinya.

It’s very beautiful over there.
(Di sana ternyata begitu indah.)
oleh :
Thomas Alva Edison,penemu bola lampu listrik.

Don’t worry, relax!
(Jangan khawatir, santai saja!)
oleh :
Rajiv Gandhi, PM India kepada staf keamanannya beberapa menit sebelum dibunuh oleh bom bunuh diri.

No! I didn’t come here to make a speech. I came here to die.
(Tidak! Saya ke sini bukan mau berpidato. Saya kesini untuk mati.)
oleh :
Crawford Goldsby a.k.a. Cherokee Bill, ketika ditanya apa yang akan dikatakannya sebelum dia digantung.

I know you’ve come to kill me. Shoot, you are only going to kill a man.
(Saya tahu kamu datang untuk membunuhku. Tembaklah, kamu hanya akan membunuh seorang manusia.)
oleh :
Che Guevara, Pemimpin Revolusi Marxis Argentina.

I’m tired of fighting.
(Saya dibikin cape oleh pertempuran ini.)
oleh :
Harry Houdini,pesulap

I see black light.
(Saya melihat cahaya hitam.)
oleh :
Victor Hugo, penulis Perancis.

Let me go to the Father’s house.
(Lepaskan aku menuju rumah Bapaku.)
oleh :
Pope John Paul II, Paus ke-263.

I’m bored with it all.
(Saya sedang bosan dengan semua ini.)
oleh :
Winston Churchill, PM Inggris pada PD II, sebelum koma dan meninggal sembilan hari kemudian.

Jesus, I love you. Jesus, I love you.
(Jesus, aku cinta engkau. Jesus, aku cinta engkau.)
oleh :
Mother Teresa, suster dari Albania.

Don’t disturb my circles!
(Jangan ganggu lingkaranku !)
oleh :
Archimedes, ilmuwan Yunani.

I hope the exit is joyful and hope never to return.
(Aku berharap jalan keluar ini penuh dengan kegembiraan dan berharap tidak akan pernah kembali lagi.)
oleh :
Frida Kahlo, Pelukis Mexico.

They couldn’t hit an elephant at this distance.
(Mereka tidak akan bisa menjatuhkan satu gajah pun pada jarak ini.)
oleh :
General John Sedgwick, Union Commander dalam U.S. Civil War, yang ditembak beberapa menit setelah mengucapkan ini.

Dying is easy, comedy is hard.
(Mati itu mudah, meluculah yang sulit)
oleh :
George Bernard Shaw, novelis, kritikus, politikus dll.

I’m losing.
(Saya sedang kalah.)
oleh :
Frank Sinatra, penyanyi dan bintang film Amerika.

Crito, I owe a cock to Asclepius. Will you remember to pay the debt?
(Crito, aku berhutang seekor ayam pada Asclepius. Akan ingatkah kamu untuk membayar hutangku itu?)
oleh :
Socrates, filsuf dari Yunani.

Ummatii … ummatii … ummatii
(Umatku … umatku … umatku)
oleh :
Rasul Muhammad Saw, Nabi dan Rasul terakhir.

Minggu, 08 November 2009

Jenis Ciuman.


Banyak orang yang hanya mengenal dua jenis ciuman: ciuman leher dan ciuman orang Prancis (French kiss). Namun, dunia perciuman berkembang pesat. Kini ciuman memiliki banyak ragam. Berikut rinciannya:

Ciuman kupu-kupu
Dekatkan wajah Anda ke wajah pasangan sedekat mungkin dan kemudian kerjap-kerjapkanlah bulu mata Anda dengan cepat dan tiba-tiba.

Ciuman leher
Seperti yang sudah kita kenal, ciuman ini biasanya menandai kencan pertama sebuah pasangan. Anda dengan lembut menyapu leher pasangan dengan bibir.

Ciuman daun telinga
Sudah jelas yang menjadi sasaran adalah daun telinga pasangan. Sedot dan gigit dengan lembut. Berhubung begitu dekat dengan lubang telinga, usahakan tidak membuat bebunyian yang gaduh.

Ciuman eskimo
Secara lembut gesekkan hidung Anda dengan hidung pasangan. Selembut mungkin dan rasakan setiap sentuhan yang terjadi.

Ciuman mata
Sesuai namanya, cium dengan lembut mata pasangan yang terpejam.

Ciuman jari
Sambil bersantai dengan pasangan Anda, ambil jari pasangan dan perlahan-lahan diemut.

Ciuman kaki
Ciuman nan erotis ini dimulai dengan mencium jari kaki, lalu merambat ke atas dengan ciuman nan lembut.

Ciuman dahi
Inilah ciuman ramah. Anda hanya cukup mencium kening pasangan dari ujung satu ke ujung lainnya.

Ciuman membeku
Juga dikenal dengan ciuman mencair. Ini sama dengan ciuman es, hanya memakai es balok kotak kecil. Kulum es balok tadi dan menggunakan lidah pindahkan ke mulut pasangan. Efek dingin dan mencairnya es akan memberikan perasaan sensual.

Ciuman orang Prancis
Inilah ciuman paling sensual di antara ragam ciuman. Ada yang menyebutnya ciuman jiwa, melibatkan lidah dan bibir.

Ciuman buah
Ambil sepotong buah (yang agak keras) dan gigit ujungnya. Ujung yang lain diberikan ke pasangan sambil melakukan ciuman.

Ciuman tangan
Angkat tangan pasangan dan ciumi mulai ujung jari sampai tangan bagian atas.

Ciuman panas dan dingin
Pertama jilat bibir pasangan untuk membuatnya hangat, lalu tiup bibir itu untuk membuatnya dingin. Perhatikan napas Anda. Sebelum berciuman, hindari makan makanan yang merangsang, seperti bawang.

Ciuman bangun tidur
Ini lebih ke waktu daripada teknik. Saat pasangan bangun tidur, cium dia mulai dari leher dan berakhir di bibir. Lalu dengan suara mesra, bilang: "Selamat pagi sayang..."

Kamis, 05 November 2009

Classic Rock’s Roll Of Honour


Rock Never Die...bukanlah hanya sebuah jargon penuh basa-basi, tapi kalimat tersebut sudah terbukti dalam kehidupan kita. Musik Rock selalu hidup dan menghidupi. lagu-lagunya selalu dikenang sepanjang masa.
Musik-musik lama selalu membuat Rindu akan selera dan suasana masa lalu.
Musik yang di hasilkan oleh para legenda sangat kuat baik lirik maupun pencapaian irama musiknya.
dan itu semua selalu membuat kita bergetar akan suatu masa di mana kita pernah melewati hari-harinya.

Patut kita simak penghargaan pada musisi Rock yang melegenda atau dengan istilah Classic Rock yang diadakan di London, Inggris, semoga hal demikian juga bisa diadakan di Negara kita Indonesia Tercinta.
Artikel ini diambil dari classic rock magazine…..silahkan diterjemahkan sendiri…karo belajar boso inggris rek..hahahha
Keep on rockin’

Arif gumantia
creator grup "Legenda Rock" di Facebook
only brave heart playing Rock!



Punk pioneer Iggy Pop grabbed the ‘Living Legend’ gong at Classic Rock’s Roll Of Honour event in London this evening. Ronnie Wood, Ginger Baker, John Bonham and many more top stars were also there to collect prestigious awards. Come inside for a full list of winners…
The heavy hitters and major players of the rock music industry all gathered together tonight at the Park Lane Hotel in London to celebrate the winners of the Marshall Classic Rock Roll Of Honour Awards 2009.

Hosted by Thunder’s Danny Bowes, the awards were attended by the biggest names in rock royalty, including Iggy Pop, Ronnie Wood, Tony Iommi and Ginger Baker, all collecting much sought-after Classic Rock magazine awards.

Iggy Pop was named as ‘Living Legend’ (sponsored by Marshall), with Chrissie Hynde of Pretenders fame on hand to present him with his award. Iggy joins rock heroes Alice Cooper, Lemmy, Jimmy Page and Ozzy Osbourne, all of whom are previous ‘Living Legend’ winners.
Recognising his musical achievements with The Jeff Beck Group, The Faces and now The Rolling Stones, and honouring his ‘ageless presence on the scene’, Ronnie Wood was presented with the ‘Outstanding Contribution’ award (sponsored by Monitor Audio) by fellow guitar legend, The Who’s Pete Townshend.

The ‘Tommy Vance Inspiration Award’ (sponsored by Rhino) went to the late, great John Bonham – Led Zeppelin’s legendary drummer and the ‘embodiment of all that is rock’, who, along with Jimmy Page, Robert Plant and John Paul Jones, formed one of the world’s greatest rock groups of all time. Bonham’s mother and sister collected the award in his honour.
Former Cream drummer Ginger Baker was honoured as the Classic Rock magazine‘Innovator’ (sponsored by Eagle Rock) for his pioneering rhythm techniques and indelible influence. A jazz drummer ‘who embraced and enlivened rock’, Baker’s 40-year career is testament to his ability to fuse music styles and remain cutting-edge.

That’s not all. The crown jewels of the heavy rock and metal world were on the receiving end of Classic Rock honours too, as voted for by readers of Classic Rock magazine.
AC/DC won the reader-voted award for ‘Album Of The Year’ (sponsored by Universal Catalogue / Lost Tunes) for Black Ice.

Commemorating their spectacular achievements of touring around the world last year, the adventures of which created the film Flight 666, Iron Maiden were honoured with the prestigious ‘Band Of The Year’ award (sponsored by Guitar Hero) and were there on the night to personally accept – as was Tony Iommi of Black Sabbath, who was given the award for ‘Best Reissue’ (sponsored by Live Nation) for the deluxe re-releases of Black Sabbath’s first three albums: Black Sabbath, Paranoid and Master Of Reality.

The ‘Best New Band’ award (sponsored by Mean Fiddler) went to Chickenfoot, and they beat off worthy competition from Roadrunner Records’ The Parlor Mob and Steadlür, Diagonal, Crippled Black Phoenix and New Device.

‘DVD / Film Of The Year’ (sponsored by Play.com) went to Canadian metallers Anvil for their rockumentary Anvil! The Story Of Anvil.

Live Nation VP of Promotions Andy Copping picked up ‘Event Of The Year’ (sponsored by Alchemy) for the Download Festival, which this year saw some outstanding performances by the likes of Def Leppard, ZZ Top, Whitesnake and Faith No More.
A further nine awards, as decided on by a Classic Rock magazine judging panel, were given out throughout the evening. You can check out the complete list of winners below!

Classic Rock’s Editor In Chief Scott Rowley said:

“It’s nice to end the decade on a high, with the fifth and most star-studded Classic Rock Roll Of Honour. Classic Rock is the UK’s fastest-growing music monthly – and the ONLY one whose sales went up in 2009. It’s going to be a very heavy 2010…”
Marshall Classic Rock Roll Of Honour 2009 – full list of winners

Best New Band
Voted for by readers of Classic Rock magazine
Sponsored by Mean Fiddler
Winner: Chickenfoot

Album Of The Year
Voted for by readers of Classic Rock magazine
Sponsored by Universal Catalogue / Lost Tunes
Winner: AC/DC Black Ice

Band Of The Year
Voted for by readers of Classic Rock magazine
Sponsored by Guitar Hero
Winner: Iron Maiden

Best Reissue
Voted for by readers of Classic Rock magazine
Sponsored by Live Nation
Winner: Black Sabbath Reissues

DVD / Film Of The Year
Voted for by readers of Classic Rock magazine
Sponsored by Play.com
Winner: Anvil! The Story of Anvil

Event Of The Year
Voted for by readers of Classic Rock magazine
Sponsored by Alchemy
Winner: Download Festival

Outstanding Contribution
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Monitor Audio
Winner: Ronnie Wood

Tommy Vance Inspiration Award
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Rhino
Winner: John Bonham

Innovator
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Eagle Rock
Winner: Ginger Baker

VIP Award
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Dannoff Premium Vodka
Winner: Doc McGhee

Metal Guru
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Bravado
Winner: Biff Byford

Spirit Of Prog
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Planet Rock
Winner: Dream Theater

Marshall 11 Award
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Marshall
Winner: Billy Gibbons

Childline Rocks Award
Winner: Steve Harley
Classic Songwriter
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Sony Music
Winner: Paul Rodgers

Classic Album
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Provogue
Winner: Aerosmith Rocks

Breakthrough
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Rock Radio
Winner: Joe Bonamassa

Comeback Of The Year
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by EMI Music
Winner: Mott The Hoople

Living Legend
Chosen by a Classic Rock Judging Panel
Sponsored by Marshall
Winner: Iggy Pop

Selasa, 03 November 2009

Festival sastra utan kayu

Merandai Kata, Musik, dan Rupa

> Festival Sastra Utan Kayu menghadirkan 30
> sastrawan dalam dan luar negeri. Meski masing-masing dengan bahasanya
> sendiri, universalitas tetap mengemuka.
> KOPER tua itu ditemukan di kamar ayahnya
> yang baru wafat. Di dalamnya ada selembar pasfoto. Kecil, buram, hanya
> menampakkan raut wajah perempuan muda, tapi kuyu. Ia kemudian memaksa
> membangun kontak dengan sepasang mata yang tampak di wajah itu. "Mata
> itu, mata Solo. Mata nenekku," kata penyair Belanda Reggie Baay. Ada
> selembar surat di koper itu, yang mengutip nama sang nenek, singkat:
> Muinah, asal Solo-Jengkilung.

> Kakek Reggie seorang Belanda totok. Semasa bertugas di Hindia
> Belanda, ia mengambil seorang perempuan muda menjadi gundiknya. Seorang
> anak lelaki lahir dari hubungan mereka. Kemudian kakeknya kembali ke
> Belanda. Si anak lelaki, berusia lima tahun, menurut hukum yang
> berlaku, dibawa serta. Surat itu adalah bukti penyerahan si anak dari
> ibunya kepada sang ayah. Tali kasih yang diputus, selama-lamanya.
> Pasfoto dan surat itu menjadi inspirasi buku kumpulan cerpen De
> ogen van Solo (Mata Solo) karya Reggie, sang cucu, pada 2005. Isinya
> kisah-kisah migrasi dan ketercerabutan anak-anak Indo-Belanda yang
> dibawa paksa. Salah satunya dibacakan Reggie pada malam pertama Bienal
> Sastra Utan Kayu di Teater Salihara, Jakarta Selatan, 21 Oktober silam.

> Perjumpaan hangat Reggie dan 30 sastrawan dalam dan luar negeri
> menerjemahkan tema Bienal kali ini, yakni merandai yang diartikan
> berpindah dari satu tempat ke tempat lain pada bidang setara. Tak
> berhenti dalam puisi, merandai dalam hal ini juga perpindahan dari
> disiplin seni yang berbeda, dari sastra, rupa, dan musik. Pada saat
> yang sama Bienal juga menggelar pameran seni rupa: lukisan, patung, dan
> instalasi yang berangkat dari puisi yang dibacakan.

> Selama empat hari mereka silih berganti membawakan puisi dan
> cerpen dalam bahasa masing-masing: Belanda, Italia, Korea, dan
> Indonesia. Saat tampil, sebuah layar di belakang mereka menayangkan
> terjemahannya dalam bahasa Inggris. Setelah membacakan puisi, para
> penyair berdiskusi. Sesungguhnya keempat diskusi itu menarik, meski
> singkat dan lamban karena pemandu harus bolak-balik menerjemahkan.
> Reggie menikmati ketika, dalam bienal, sejarah versi Belandanya
> bersanding dengan sejarah kolonial versi penyair Tanah Air. Penyair
> Iksaka Banu menyuguhkan Mawar di Kanal Macan, tentang perselingkuhan di
> era kolonial yang dihukum cambuk dan gantung. Penyair A.S. Laksana
> menyodorkan Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut,
> berisi cerita tentang asal-muasal Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon
> Coen membangun Batavia. Penyair Indonesia dan penyair Belanda, menurut
> Reggie, berbagi banyak kesamaan. Reggie mengutip Sulak, panggilan akrab
> A.S. Laksana, yang menyebut "raksasa berwajah bayi". "Itu metafor
> serupa yang pernah dipakai penyair Belanda, wajah merah, hidung merah,"
> dia tertawa.

> Eksplorasi terhadap sejarah pribadi juga dilakukan yang lain.
> Seperti Dacia Maraini, feminis Italia yang membacakan cerpen The Ship
> for Kobe. Inilah kisah perjalanan keluarganya yang naik kapal ribuan
> kilometer dari Italia menuju Jepang, menghindari pemerintahan fasis
> Mussolini pada 1938. Dacia baru berusia satu tahun saat itu. Juga
> Bernice Chauly, penyair Malaysia yang satu dari tiga puisinya menyitir
> memoar yang tengah ia kerjakan. Bernice besar dalam keluarga yang
> plural, ibunya Tionghoa dan ayahnya Punjabi. Ia sendiri menulis dalam
> bahasa Melayu dan Inggris. "Kami penyair mengerti satu sama lain, kami
> bicara bahasa universal," kata Bernice.

> Dari Tanah Air, berderet nama penyair seperti Sapardi Djoko
> Damono, Triyanto Triwikromo, Agus R. Sarjono, Ahda Imran, Handry T.M.,
> Gus tf Sakai, Yanusa Nugroho, dan Lily Yulianti Farid. Karya merekalah
> yang diberikan kepada perupa dan dimanifestasi dalam seni rupa.
> Wahyudin, kurator pameran, mengatakan para perupa sila memaknai puisi
> dengan bebas. Menyitir Sapardi, mereka boleh ikut dalam permainan atau
> melemparkannya saja.

> Sapardi membacakan sajak Bayangkan Seandainya yang diambil dari
> buku puisinya yang terbaru, Kolam. Perupa Faisal Habibi telah
> menerjemahkannya dalam karya Hybridize: Table Mirror 2009. Tentu saja
> Wahyudin tidak mengkritik interpretasi Habibi. Namun ia menulis seperti
> cemas: "Bentuk ini semoga saja tidak membekukan gambar bergerak dalam
> benak dan menyurutkan kekuatan gaib kata-kata dalam puisinya itu."
> Penyair Australia, Jan Cornall, kagum terhadap Reggie yang
> disebutnya seperti tokoh Minke yang melangkah keluar dari novel Bumi
> Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Namun Jan dan penyair Korea, Moon
> Chung-hee, sama-sama menyebut nama penyair muda Makassar, M. Aan
> Mansyur, sebagai penyair muda potensial yang mereka sukai. Aan, 28
> tahun, yang tampil dengan sweatshirt abu-abu bertulisan "Batman",
> mengatakan ia mesti menulis dengan kata-kata yang jernih agar sang
> ibunda, yang tak lulus sekolah menengah, bisa paham. Seperti penutup
> pada sajak Pagi Ini:
> Pagi ini aku memutuskan pura-pura jadi orang gila dan tidur di trotoar.
> >
> >Aku biarkan kepalaku diinjak-injak pejalan kaki yang ringan bagai topi.
> >
> >Aku biarkan kepalaku pecah bagai telur yang hendak dibuat jadi
> >omelet. Aku biarkan peristiwa-peristiwa meleleh ke jalan dan melengket
> >pada sol sepatu orang-orang. Aku terpingkal-pingkal agar sekalian bisa
> >buang air.

> l l l
> Paruh kedua acara, pukul 9 hingga tengah malam, diisi dengan poetry
> slam. Terjemahannya, bantingan puisi: setiap orang yang ingin
> membacakan puisinya tinggal mendaftar dan berlaga, juri akan memilih
> yang terbaik. Dari ruang teater blackbox di lantai dasar, para
> pengunjung pun pindah ke atap. Di tempat terbuka seluas sekitar
> setengah lapangan bola itu seperangkat pengeras suara telah disiapkan.
> Pisang goreng, wedang ronde, dan tahu isi tersedia. Sebagian duduk di
> kursi, sebagian lain duduk di bangku batu yang mengelilingi area. Asap
> rokok mengepul ke langit mendung.

> Ada empat band berbeda setiap malamnya. Mereka mengisi jeda
> antara pembacaan puisi dan musik yang berangkat dari karya penyair.
> Seperti band pada malam pertama, Tika and The Dissidents, yang
> menginterpretasi karya Iyut Fitra, penyair asal Payakumbuh. Setelah 5-6
> penyair tampil, yang menang adalah seorang guru bahasa Italia di
> Istituto Italiano di Cultura, Jakarta. Qissera el Thirfiarani, 26
> tahun, sang guru itu, tampil renyah dengan puisi Aldo Pallazeschi, La
> Fontana Malata. Meski tak bisa dimengerti, bunyi dan irama yang
> diucapkan Qissera terdengar lantang, segar, dengan sesekali berdesah.
> Qissera tertawa menanggapinya. "Itu tentang air mancur yang
> batuk-batuk, sakit," katanya. Tiga malam berikutnya, mereka yang menang
> adalah para penyair muda yang sederhana tapi bersemangat.
> Sebuah insiden kecil terjadi. Seorang penyair yang dipanggil
> namanya menyambar pengeras suara. Ia memegang pinggang celananya dan
> berguncang-guncang. "K***** adalah alat penyambung kehidupan!"
> teriaknya, tanpa teks. Ini masih disusul dengan celotehan lain yang
> serupa. Tak ada yang mencemooh, tapi tak ada pula yang bersorak.
> Seolah-olah mereka yang hadir mendadak jengah dan salah tingkah.
> Syukurlah, malam-malam berikutnya tak ada lagi yang begitu. "Cuma itu
> yang bisa dia tawarkan," seorang penyair senior berbisik.

> Kurie Suditomo

Senin, 02 November 2009

Sajak Negeri para Bedebah.


SAJAK ADHIE M MASSARDI

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.

2009

CATATAN:
Sajak ini dibacakan di halaman kantor KPK
sebagai bagian dari aksi keprihatinan nasional untuk KPK
Senin, 02 November 2009

Jumat, 30 Oktober 2009

Terpecahkan Misteri senyum Monalisa.

Apa makna dibalik senyum Mona Lisa yang penuh teka teki? Para ilmuwan percaya senyum itu berubah-ubah tergantung bagian mata mana yang melihat terlebih dahulu.

Salah satu daya tarik lukisan yang paling terkenal di dunia itu adalah bisa terlihat berseri-seri, namun kemudian berubah menjadi serius dan sinis.

Kini para ilmuwan mengklaim telah menemukan jawaban atas perubahan tersebut, yaitu mata kita yang mengirimkan sinyal acak ke otak.

Mereka percaya bahwa senyum Mona Lisa dapat terlihat tergantung pada sel di retina dan saluran apa yang digunakan gambar masuk ke dalam otak.

Sel yang berbeda di dalam mata dirancang untuk mengambil berbagai warna, kontras, latar belakang dan latar depannya.

Semua tergantung pada sel-sel apa yang menangkap gambar pertama kali dan saluran apa yang digunakan untuk menafsirkan ke otak. Saluran ini mengkodifikasikan data berdasarkan ukuran objek, kejelasan, kecerahan dan lokasi bidang visual.

"Terkadang satu saluran menang atas lainnya, dan senuyum terlihat, namun jika lainnya mengambil alih, senyum tidak akan terlihat," kata Dr Luis Martinez Otero, seorang ilmuwan syaraf dari Institute of Neuroscience di Alicante, Spanyol yang melakukan penelitian.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang alasan dibalik senyum Mona Lisa Dr Martinez Otero mempertimbangkan beragam aspek yang berbeda dari Mona Lisa.

Ia kemudian memprosesnya melalui saluran visual yang berbeda, dan menanyakan pada relawan apakah mereka melihat senyum dalam lukisan atau tidak.

Relawan cenderung melihat Mona Lisa tersenyum setelah sebelumnya mereka ditunjukkan layar gelap, dan membuat Martinez Otero berkesimpulan bahwa pada sel-sel pusat inilah senyum Mona Lisa dapat dirasakan.

Apakah Leonardo berniat untuk menabur begitu banyak kebingungan dalam otak penikmat lukisannya? Martinez Otero berpendapat. Leonardo menulis dalam salah satu buku catatannya bahwa ia berusaha untuk melukis ekspresi dinamis, karena itulah yang ia lihat di jalan."

Penelitian ini awalnya dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Society for Neuroscience di Chicago. Ini bukan pertama kalinya bagi para ilmuwan untuk mendekonstruksi karya besar Leonardo da Vinci itu.

Pada tahun 2000, Margaret Livingstone, seorang ilmuwan syaraf di Harvard Medical School, menunjukkan bahwa senyum Mona Lisa lebih menonjol pada kamera daripada pusat mata.


http://inilah.com/berita/teknologi/2009/10/30/174509/terpecahkan-misteri-senyum-mona-lisa/

Kamis, 29 Oktober 2009

Beberapa Orang Menyukai Puisi

Beberapa Orang Menyukai Puisi"

Beberapa orang—
itu berarti tidak semua orang.
Pun tidak kebanyakan orang, melainkan beberapa saja.
Tanpa menghitung sekolah, yang kita anggap perlu,
dan penulis puisi itu sendiri,
dan hasilnya mungkin hanya sekitar dua dari seribu.

Menyukai—
tapi tentu saja, kitu juga bisa menyukai sup mi ayam,
atau pujian, atau warna biru,
syal kita yang lama,
diri kita sendiri;
atau menepuk-nepuk punggung seekor anjing.

Puisi—
tapi apakah puisi?
Lebih dari satu jawaban tak meyakinkan
telah tumbang sejak pertama kali pertanyaan itu diajukan.
Dan aku tetap tak tahu, dan bertahan kepada itu
serupa kepada susuran tangga yang berlepasan.

[1993]

Wisława Szymborska adalah seorang nenek asal Polandia yang memenangkan Nobel Sastra tahun 1996, pada saat ia berusia 73 tahun. Semoga cukup membantu....

Senin, 26 Oktober 2009

Pusat Bahasa Luncurkan 10 Novel Indonesia

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamis (22/10), di Jakarta, meluncurkan 10 novel berbahasa Indonesia, karya 10 novelis terkemuka. Namun, dalam novel itu ditemukan banyak kesalahan berbahasa, kesalahan ejaan, dan kesalahan kata, sehingga Pusat Bahasa dinilai gagal jadi polisi bahasa.

“Padahal, karya sastra berbobot sangat ditentukan oleh kemampuan berbahasa tertib. Sebab, di situ dikaji hubungannya dengan kemampuan berpikir logis meliputi deduksi nalar dan analisis. Bukan bahasa yang centang perenang,” kata sastrawan dan pengamat bahasa Remy Sylado, yang dengan kritis mencermati halaman per halaman buku novel yang diluncurkan.

Sepuluh novel yang diluncurkan tersebut adalah Gandamayu Cinta Perempuan Terkutuk karya Putu Fajar Arcana,Arjunawijaya karya Hamsad Rangkuti, Kakawin Gajah Mada karya Kurnia Effendi, Mundinglaya Dikusumah karya Gola Gong, Kisah Tuhu dari Tanah Melayu karya Abidah El Khalieqy, Kundagdya karya Oka Rusmini, Rara Beruk karya Suyono Suyatno, Janji yang Teringkari karya Imam Budi Utomo, dan Lubdaka yang Berkelebut karya Yanusa Nugraha.

Remy Sylado yang agak detail menyelisik kesalahan standar bahasa Indonesia yang tepat dan indah dalam novel-novel yang dibacanya, mengatakan, yang menyolok adalah justru hadirnya contoh ejaan centang perenang, tidak konsisten, diskordan, terlepas kontinuitas, dan hilang uniformitas.

Dengan banyaknya kesalahan ia meragukan Pusat Bahasa sebagai polisi bahasa terhadap bahasa Indonesia.

Menurut Remy Sylado, tiga dari 10 novel yang dibacanya dengan detail itu sulit dijadikan sebagai contoh ideal bahasa Indonesia yang tertib, yang memenuhi isyarat tepat dan indah.

Sedangkan sastrawan Veven Sp Wardana yang mengkaji novel-novel terbitan Pusat Bahasa itu dari sisi cerita lama dan industri kreatif mengatakan, novel-novel yang diluncurkan Pusat Bahasa kurang bisa bersaing dengan novel-novel terbitan penerbit swasta.

“Saya perlihatkan novel-novel terbitan Pusat Bahasa kepada anak, pertanyaan yang muncul dari anak saya kemudian adalah, ini buku terbitan tahun berapa? Apakah kemasan seperti sekarang sebagai gambaran cerita lama, saya tak tahu. Pokoknya, tampilan kulit novel itu kurang menarik,” katanya.

Kritikus sastra Prof Dr Riris KT Sarumpaet mengaku kesal membaca satu novel di antara 10 novel itu, karena jorok sekali. “Mestinya penulis harus punya pertimbangan yang khas. Karya sastra harus dilihat sebagai alat pendidikan. Berikanlah yang bermanfaat. Ada juga cerpen yang penuh informasi, akibatnya ia bukan sebagai cerita lagi,” tandasnya.

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, salah seorang editor novel-novel tersebut mengatakan, pihaknya sedari awal sudah dengan jeli melakukan koreksi kata demi kata di naskah hard copy. “Kenapa masih terjadi banyak kesalahan kata, bahasa, dan sebagainya seperti yang dikritisi Remy Sylado, mungkin pencetak tidak melakukan perubahan, karena yang ada pada dia itu softcopy. Penerbitan selanjutnya akan diperbaiki semua kesalahan,” katanya.

Terlepas dari persoalan kesalahan berbahasa dalam novel-novel itu, Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono berharap novel yang diuntukkan buat anak-anak Indonesia maupun bukan anak Indonesia itu dapat memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu, yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan.

Dinukil dari Oase Kompas edisi22 Oktober 2009