Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Rabu, 13 Februari 2013

Prolog 2013




Dalam geliat awal waktu
Kata kata mengalir serupa linangan hujan
Merendam dan melukai tubuh tubuh kota
Menyisakan deretan deretan kepala
Menjelma pada poster dan baliho
Dengan ragam wajah senyum penuh kepalsuan



Ketika langit tak pernah terasa siang
Banyak orang mencoba membingkai masa lalu
Merangkai waktu dengan tetes tetes hujan
Menyulamnya dengan segenap ingatan
Berharap menjadi sebuah peta menuju rumah tuhan


Ketika waktu terlepas dari tangkai musim yang berlalu
Aku melihat
Perempuan perempuan menggantungkan nasibnya
Pada embun di ujung daun
Di kesunyian dini hari
Dalam ranting hidup yang dingin dan rapuh


Februari ….. Februari
Kau lingkarkan bahumu pada kenangan yang beku
Jalanan lengang basah
Dan pohon pohon yang menyimpan kuncup bunga
Agar bermekaran di sepanjang nafas dunia









Madiun, 14 Februari 2013
Arif Gumantia



Kamis, 07 Februari 2013

Esai Ironis dan kenyataan Historis dalam Novel "Air Mata Terakhir Bunda" karya Kirana Kejora


Jangan pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!

Demikian prolog dari Novel “air mata terakhir bunda” karya Kirana Kejora, Novelis Kelahiran Ngawi Jawa Timur. Sebuah kalimat yang membuat pembacanya diajak untuk melayang menggapai bintang-bintang optimisme dalam hidup yang penuh dengan Jalinan  asing dan rahasia. Sebuah Novel dengan tokoh sentral Delta santoso, nama yang diberikan ibunya, karena ayahnya pergi begitu saja tergoda oleh perempuan lain, saat Delta berusia lima bulan dalam kandungan. Nama yang berarti lahir di kota Delta, sidoarjo, dan diharapkan menjadi manusia yang bisa mensentosakan bangsanya.


Secara structural banyak hal yang bisa diangkat dari novel ini, dan bagi saya dapat ditarik benang merah, ada tiga hal yang menarik saat membaca dan mengapresiasi Novel ini. Yang pertama adalah tema yang dicoba diangkat dalam kisah novel ini, kepedihan yang menghimpit dalam kemiskinan hidup karena adanya peristiwa Lumpur lapindo, dan harapan-harapan yang coba disusun kembali dengan usaha keras dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Yang kedua adalah penokohan. Sebagaimana dalam novel akan menjadi menarik, jika penulis bisa menggambarkan perubahan karakter sang tokoh karena pengaruh perkembangan usia, pengaruh lingkungan keluarga, juga kondisi sosio grafis. Atau dalam istilah sastra sebagai proses karakterisasi dalam novel.

Yang ketiga adalah Plot atau tehnik penceritaan dengan menggunakan alur cerita yang disusun bolak balik, antara masa lalu dan kini. Bisa menciptakan semacam lorong  yang berputar, bisa menyergap emosi pembaca dan mengaduknya hingga pembaca penasaran untuk segera menuntaskan endingnya. Dimana bagian awal dan akhir novel bisa menjadi semacam “chemistry” dari novelnya.



Novel yang tanpa banyak menggurui. Penulisnya tidak memberikan sebuah kesimpulan-kesimpulan tapi justru menghujamkan rentetan pertanyaan-pertanyaan , memberikan sebuah ruang yang terbuka untuk kontemplasi pembacanya. pembaca diajak untuk menyaksikan sebuah lanskap, yang merupakan representasi dari sebuah kehidupan nyata.


Dalam Novel Air mata terakhir bunda Kirana Kejora menuliskannya dengan gaya bahasa yang mengalir, dengan sentuhan beberapa ironi yang memaparkan sebuah tatanan soaial yang timpang, jurang antara kaya dan miskin, sebuah kondisi  social yang serupa kabut pagi, buram tapi selalu ada harapan untuk cerah mentari. Kirana menawarkan cerita yang kontemplatif sekaligus imajinatif.

Delta Santoso, kakaknya bernama iqbal, ibunya yang bernama sriyani, dan calon istri Delta bernama Lauren, dengan tokoh-tokoh ini pembaca diajak menyaksikan lanskap kehidupan kota sidoarjo yang sebagian tenggelam oleh Lumpur lapindo. Kirana tidak memberikan sebuah penghakiman pada peristiwa Lumpur lapindo ini, hanya beberapa halaman yang menggambarkan kejadian ini, tapi dialog  dan penggambaran emosi para tokohnya bisa dirasakan oleh pembacanya, juga konsekuensi-konsekuensi dari peristiwa tersebut, baik secara material maupun  social budaya.


Desa renokenongo, termasuk desa yang hilang terendam Lumpur. Sebuah makam sederhana yang akan delta bangun itu telah tiada. Entah kini berada di titik mana, tak jelas pandangan mata melihat keberdaaannnya. Semua telah tenggelam, membumi dengan hadirnya gelombang Lumpur raksasa tiada duga. (makan Lumpur, halaman 167). Deskripsi sebuah kepedihan lewat narasi, tentang mereka yang kehilangan tidak hanya rumah, tempat ibadah, sekolah, tapi juga “makam”, sebuah metafora untuk penanda masa lalu.


penderitaan yang ada ditambah  dengan ditinggal dengan pergi oleh suaminya, maka Sriyani (ibu Delta Santoso) harus menghidupi 2 anaknya dengan berjualan lontong kupang, sate kerang petis udang. Hingga anak-anaknya berhasil menyelesaikan sekolahnya di tingkat sarjana. Dengan deskripsi latar yang cermat, juga tradisi-tradisi yang coba dituliskan di novel ini, mulai Delta santoso kecil hingga dewasa, kirana mengajak kita untuk menyaksikan kota sidoarjo dengan atmosfer keindahan sekaligus masalah-masalah yang menyertainya.


Milan Kundera mengatakan Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang. dan didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Prosa"sintesis" sebagai keinginan novelis utk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh. kekuatan sintesis. menyatukan "Esai ironis,narasi novelistis, penggalan otobiografis, kenyataan historis, aliran fantasi" menjadi kesatuan tunggal. hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dlm kesatuan tunggal seperti  bebunyian dari musik polifonis. kesatuan novel tidak harus berasal dari plot, tapi bisa disediakan oleh tema.

Dan Kirana Kejora mencoba menulis prosa sintesis ini, ada esai ironis tentang Lumpur lapindo, narasi novelitis tentang kehidupan tokoh-tokohnya, kenyataan histories dari tradisi masyarakat sebagaimana ada di novel Air mata terakhir bunda, dengan memberikan penggalan kisah “legenda Candi Pari”. Juga aliran fantasi dan imajinasi yang membuat pembacanya membayangkan apa yang sedang terjadi dan dirasakan tokoh-tokohnya.

Dalam konteks mengusung inovasi estetis, novel ini tidak merupakan sebuah novel pembaharuan estetis. Tetapi dengan gaya bercerita yang filmis, mengalir, dan lincah menujukkan kepiawaian pengarangnya yang sudah lama malang melintang di dunia tulis menulis. Kirana juga cermat dalam detail yang mengingatkan saya pada gaya John Steinbeck. Juga kecermatan menempatkan maksud dari judul air mata terakhir bunda di ending cerita membuat pembaca diajak “melambung dan terhenyak”.


Saya memberikan apresiasi yang tinggi pada Novel Air mata terakhir bunda Kirana kejora ini., yang  akan segera dapat kita nikmati Versi layer lebarnya, dengan Happy Salma yang berperan menjadi Sriani. Semoga  Novel ini dapat menambah Khasanah Kesusasteraan Indonesia , agar semakin Hidup dan semakin menyebar di seluruh Negeri Ini.





Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun