Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Senin, 26 Desember 2016

Wawancara Pakar Bahasa-Bahasa Nusantara Manu W Padmadipura Wangsawikrama




Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari berbagai organisasi kesukuan berkumpul dan merumuskan satu bahasa bersama yakni Bahasa Indonesia. Itulah satu tonggak penting bagaimana sebuah cita-cita yang semula terbatas pada ikatan primordial atau pun agama terumuskan menjadi satu kesatuan bersama yakni Indonesia.

Namun, barangkali tak banyak generasi hari ini yang tahu bahwa bahasa nasional yang dijadikan pilihan adalah Bahasa Melayu Pasar, sebuah bahasa yang tumbuh oleh aktivitas perdagangan di Nusantara. Sebagai bahasa dagang, karenanya, bahasa tersebut tentunya hanyalah turunan atau penyederhanaan dari akar bahasanya, Melayu Tinggi, yang menyimpan ratusan tahun kekayaan sebuah peradaban

Sejak 1928, bahasa, yang kemudian disebut sebagai Bahasa Indonesia ini terus berusaha mengembangkan dirinya. Menyerap kosakata dari bahasa-bahasa daerah dan juga bahasa-bahasa asing.

Apa sebenarnya yang dipertaruhkan oleh bahasa baru ini, kerja besar macam apa yang mesti terus digerakkan di masa-masa mendatang, wartawan Koran Jakarta, Eko S Putra, mewawancarai pakar bahasa-bahasa Nusantara, Manu W Padmadipura Wangsawikirama, di Yogyakarta, Rabu (26/10). Berikut petikan selengkapnya.

Sebagai pakar bahasa-bahasa Nusantara dan juga menguasai bahasa-bahasa asing, bagaimana Anda melihat peristiwa Sumpah Pemuda?

Itu sejarah kita sebagai sebuah negara bangsa. Semua catatan sejarah, apa pun itu tentunya hal yang penting. Secara politis menggalang nasionalisme melawan kolonialisme dari yang sebelumnya sifatnya sporadis di tiap daerah. Sumpah Pemuda adalah tonggak penting nasionalisme kita.

Hanya saja sebenarnya masih perlu penggalian lebih lanjut terhadap persoalan Bahasa Indonesia ini. Saya kira terpilihnya Bahasa Melayu Pasar pada waktu itu barangkali sebuah langkah win win solution. Bahasa yang bisa dipakai komunikasi oleh seluruh orang di Indonesia, ya Bahasa Melayu itu. Tapi harus diingat, itu adalah Melayu Pasar. Karena bahasa perdagangan bahasa yang dipilih ini kosakatanya miskin.

Melayu Pasar ini menjadi masalah ketika harus dipakai untuk membahasakan masalah-masalah peradaban, kebudayaan, diplomasi politik, ideologi, etika, bangunan sosial, dan seterusnya. Akibatnya kemudian, ketika para tokoh pergerakan nasional mesti merumuskan bangunan negara bangsa, berdiplomasi dengan bangsa asing, harus meminjam kata-kata asing, terutama Belanda. Karena Bahasa Indonesia tidak bisa memberikan padanan untuk komunikasi ideologi dan politik pada saat itu. Inilah yang harus kita sadari untuk terus disempurnakan.

Nah pertanyaanya, penyempurnaan itu harus ditopang oleh bahasa apa? Semestinya kan ya menggali dari akarnya sendiri yakni bahasa-bahasa daerah. Beberapa kali dilakukan, mengambil kosakata dari berbagai bahasa daerah, sayangnya kosakata itu diambil dan dilepas dari sistem bahasanya yakni roh bahasanya.

Apa yang dimaksud dengan roh bahasa?

Semula bahasa perdagangan itu tidak punya nuansa semantik yang bisa kita sebut sebagai rasa bahasa. Bahasa di kepulauan Nusantara ini, semuanya memiliki rasa bahasa. Bali, Madura, Bugis, semuanya kental dengan rasa.

Yang dimaksud dengan rasa di sini bukan rasa pahit atau manis, tapi penghayatan estetik yang terkandung dalam kosakata itu yang menunjukkan hubungan-hubungan antar kita semua di semesta ini. Di dalam estetika itu tersimpan seluruh pengetahuan, apakah itu etika, moral, dan sebagainya. Nah itu yang tidak dimiliki Bahasa Melayu Pasar.

Apa akibat dari bahasa yang tidak punya ‘rasa’ ini?

Sebelumnya mari kita melihat sistem pendidikan di Nusantara yang namanya asrama, ada metodologi pengajaran yang namanya upanished. Arti harafiah duduk di kaki guru. Relasinya demikian erat, berelasi membicarakan segalanya.

Pada pertengahan abad 19 oleh pemerintah kolonial diubah menjadi klasikal seperti yang kita kenal sekarang. Pada saat itu setiap suku bangsa yang memiliki bahasa daerah diwajibkan mengajarkan bahasanya. Memberi pengajaran Sunda pada orang Sunda, Bahasa Jawa ke orang Jawa. Hanya masalahnya, cara mengajarkannya dengan metodologi mereka. Dengan tata bahasa struktural. Ada subjek, predikat, objek, keterangan. Konsep struktural ini secara semena-mena diadopsi ke bahasa Nusantara. Kalau di Bahsa Jawa subjek menjadi jejer, predikat wasesa, objek lisan, dan keterangan menjadi katerangan.

Sejak itu mindset kita berubah menjadi mindset structural, seperti itu. Para pemuda pelajar saat itu, termasuk mungkin yang menginisiasi Sumpah Pemuda, masih bisa berbahasa daerahnya tetapi mulai melihat bahasanya sendiri dengan mindset kolonial.

Apa sebenarnya beda utama bahasa Nusantara dengan bahasa Barat?

Inti dari semua bahasa lokal kita adalah semantik. Di Jawa, ada anjing, kirik, asu. Ada cemeng, ada kucing. Untuk menyebut beras saja ada pari, gabah, beras, menir, yang masing-masing menandakan hubungan-hubungannya yang berbeda dengan diri manusia dan alam.

Orang Jawa tidak pernah belajar kalimat. Yang diajarkana adalah kosakata. Ketika tahu kosakata maka akan dengan sendirinya terbentuk sebuah dunia, karena kosakata diajarkan dengan sistem rasa, yakni makna yang menjelaskan hubungan rasa antar semuanya. Itulah hubungan bahasannya.

Bahasa kolonial yang terpenting adalah struktur subjek predikat objek, di mana manusialah subjek dan alam adalah objek yang harus dikuasai. Dalam kosakata Bahasa Jawa, alam dan manusia kedudukannya sejajar, horizontal, tidak ada subjek atau objek, tidak ada eksplitasi subjek atas objek melainkan satu kesatuan yang utuh.

Gradasi rasa yang semula horizontal ini kemudian divertikalkan sehingga seolah jadi sangat feodal. Padahal, feodal itu kan cara Barat mengerti dunia Nusantara memakai bahasa yang mereka kenal. Mereka tidak faham dengan penghayatan estetik atas relasi antara manusia dan sesamanya serta seluruh alam ini.

Nah, sejak kita mengenal bahasa ibu, kita sendiri dengan mindset kolonial yang disebarkan lewat sistem pendidikan klasikal, sejak itu dunia kesadaran kita sebenarnya sudah runtuh. Kita menjadi berpikir seolah seperti mereka, namun menggunakan bahasa kita sendiri. Tentu saja akan susah untuk menandingi mereka.

Apakah akar bahasa subjekpredikat- objek itu berbeda dengan akar bahasa Nusantara?

Semula kita memiliki bahasa kuno. Bahasa Jawa Kuno, misalnya. Sansekerta tumbuh oleh bangsa Indo Arya dari lembah Sungai Reins yang kemudian hidup dan tinggal di India. Bahasa di dunia saat ini banyak yang akarnya dari Bangsa Indo Arya itu.

Kalau melihat teknologi kapal yang berkembang di sini dan tidak ada teknologi kapal yang berkembang dari India maka bangsa Jawa lah yang kemungkinan melakukan perjalanan ke India dan membawa pulang kekayaan Bahasa Sansekerta. Maka 60 persen Bahasa Jawa Kuno adalah Bahasa Sansekerta, sisanya adalah kosakata yang tumbuh di Nusantara sendiri.

Bahasa juga berkembang bersama ekologi manusianya. Iklim tropis dan tanah kita yang subur membuat peradaban kita cukup maju seperti tersimpan dalam sejarah pertanian, artefak arkeologis, teks-teks yang berisi kekayaan kosakata kita.

Masuknya bangsa Barat ke Nusantara menjadi sejarah berikutnya yang kemudian keberhasilan penguasaan mereka atas kita, ratusan tahun mereka di sini, salah satunya membawa perkembangan filsafat dan bahasa di sana yakni filsafat strukturalisme. Saya menduga Revolusi Prancis - saya belum pernah meneliti ini sendiri, saya tahu dari penelitian beberapa teman saja – menjadi awal dari berkembangnya seluruh bangunan masyarakat Barat ini. Yang di dalam bahasa tersimpan dalam struktur subjek predikat objek tersebut.

Tapi kesadaran baru masyarakat Barat tersebut, yang memang membawa keberhasilan tertentu dalam teknologi yang menjadikan alam sebagai objek dan manusia sebagai objek itu, kalau mau melihat sejarah panjang peradaban sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai peradaban yang benarbenar unggul. Baru berapa ratus tahun sih Barat menguasai dunia, kita lihat alam sudah sedemikian rusak.

Nah, kita bisa mulai lagi membuka kekayaan masa lalu kita melalui penelusuran sejarah dan bahasa kita sendiri. Membuka lagi bagaimana manusia berhubungan dengan sesamanya dan alam semesta karena mereka pun, bangsa Barat itu, mengambil begitu banyak kekayaan pengetahuan kita sesuai dengan kesadaran mereka atas alam dan seluruh isinya.

Dalam teks-teks Ronggowarsito di abad 19, belum ada struktur bahasa Barat SPOK itu. Kita harus bergerak sampai akar untuk mengerti diri kita sendiri. Kalau sudah tidak ada yang peduli dengan akar lagi, kita akan selamanya kulakan gagasan tentang dunia ini dari Barat. Mereka yang merumuskan, membuat, menjual eceran kepada kita. Dan kita hanya akan jadi konsumen gagasan dan produk turunan dari mereka. Kalau identitas saja tidak punya bagaimana mau punya tujuan?

Bagaimana peran negara dan kampus selama ini terkait dengan akar Bahasa Indonesia itu sampai saat ini?

Saya kira kita mesti prihatin. Saat ini percakapan paling dominan adalah politik dan ekonomi. Politik yang ditopang oleh fondasi ekonomi yang merusak alam. Kampus, yang sistemnya sudah menganut klasikal Barat itu, di mana ilmu-ilmu dipecah dalam jurusan-jurusan yang masing-masing berdiri sebagai subjek sendiri itu, ya tidak lagi berurusan dengan bangunan dasar peradaban.

Keterpecahan studi tersebut tidak dikenal di studi asrama dengan sistem uphanisad, di mana kita bisa baca sekarang dalam semua teks kuno pasti mengandung lima unsur yakni pengetahuan, teknologi, religiusitas, seni, dan intelektualitas. Tapi semua sudah tidak mau peduli.

Peran balai bahasa bagaimana?

Saya juga tidak tahu balai bahasa itu kerjaannya apa saja. Memasukkan kosakata daerah ke kamus iya, tapi ya tidak ke manamana. Bahkan saat kita sekarang disuguhi buku-buku orang asing yang tidak mengerti bahasa kita saja semua diam saja. Elizabeth Inandiak, menafsir Serat Centini padahal dia tidak bisa Bahasa Jawa juga kita diam saja malah dijadikan rujukan puluhan mahasiswa.

Peter Carey, orang Inggris, membuka teks Diponegoro dalam Bahasa Belanda, padahal Carey juga tidak fasih Bahasa Belanda apalagi Bahasa Jawa, juga dijadikan kanon utama mengenai Diponegoro. Jadi seolah semua studi mereka itu tentang kita itu kita terima saja sebagai kebenaran tentang diri kita, tentang masa lalu kita.

Tapi bukannya sejarah perang antar kerajaan kita sendiri membuat kita hancur, yang memudahkan devide et impera?

Makanya ayo kita pelajari bersama. Konflik kerajaan, mana teks kita yang menceritakan itu ayo kita buka. Atau itu sebenarnya teks yang dibuat oleh para orientalis. Kata musuh saja Bahasa Jawa itu tidak punya. Perebutan tahta sejak Kediri, Ken Arok, Majapahit diserang lalu hancur, perang bubat, teksnya mana yang mengatakan begitu?

Kita musti banyak belajar lagi. Pelajari diri kita sendiri. Pertama, tentunya melalui bahasa, kembali belajar bahasa-bahasa kuno kita yang menyimpang software identitas kita


Sumber :  http://www.koran-jakarta.com/manu-w-padmadipura-wangsawikrama/

Sabtu, 24 Desember 2016

Telolet Dan Kita



Fenomena "Om Telolet Om" ini berawal dari video yang beredar di media sosial mengenai kebiasaan anak-anak di sekitar Jepara, Jawa Tengah yang meminta supir bus yang melintas untuk membunyikan klaksonnya. Bahkan ada juga yang sengaja menulis tulisan besar "Om Telolet Om" agar dibaca oleh supir bus.

Sejak itu, video "Om Telolet Om" menjadi viral di dunia maya. Tidak hanya di tanah air, tapi juga sampai ke telinga selebritas mancanegara seperti Zedd, Martin Garrix, DJ Snake, Alesso, dan The Chainsmokers yang terlibat dalam perbincangan seputar "Om telolet Om" dalam akun resmi media sosial mereka.
Situs tangga lagu Billboard bahkan menanyakan arti "Om telolet Om" yang sedang ramai di Indonesia. Billboard menduga ramainya perbincangan para DJ kenamaan terkait dengan bunyi klakson bus itu identik dengan suara efek instrumen elektronik yang biasa mereka pakai.

" Billboard Dance melihat klip video telolet, dan memang terdengar seperti instrumen elektronik. Kami bisa membayangkannya menjadi lagu tema sebuah festival," tulis Billboard dalam situsnya.
Hal ini kalau kita cermati sebenarnya menarik, karena sebuah bunyi klakson yang sebenarnya nadanya sederhana bisa disukai banyak anak-anak. Sebenarnya anak-anak menyukai hal ini bukanlah hal yang baru, sekitar 2 tahun yang lalu anak saya sudah sering duduk di pinggir jalan raya depan rumah untuk memberi kode pada para sopir Bus Pariwisata, agar membunyikan klakson “telolet”nya. Setelah itu dia meng-upload foto-fotonya di akun Media Sosialnya dengan hastag #telotet.

Mengapa anak-anak menyukainya? Jawabannya bisa beragam.  Barangkali hal ini bisa dikaji dalam berbagai analisis ilmiah. Psikologi anak, kajian tentang bunyi, dan filsafat. Dari apa yang saya lihat, kegembiraan anak-anak itu mengisyaratkan 2 hal yaitu spontanitas untuk keluar dari rutinitas dan kesederhaan yang menghibur. Anak-anak sekarang membutuhkan sebuah hiburan yang sederhana untuk bisa keluar dari rutinitas mereka sekolah dan berbagai kegiatan les tambahan pelajaran yang membelenggu, termasuk hiburan-hiburan yang membosankan seperti menonton televisi dan main game di handphone.

Maka ketika ada sebuah hiburan di luar rumah yang sederhana yaitu bunyi Telolet, maka mereka  dengan serta merta menyukainya. Ada sebuah interaksi sederhana antara mereka dengan sopir bus, yang menyadarkan kita semua bahwa dunia anak-anak adalah dunia interaksi komunikasi dan dunia penuh canda tawa. Dunia yang tidak bisa dibatasi oleh pelajaran-pelajaran yang membelenggu pada masa kecil mereka. Maka tugas kita semua bagaimana membuat hiburan-hiburan yang sederhana di anatara rutinitas sekolah yang mereka jalani.

Sedangkan dari tinjauan Filsafat pernah di tulis oleh Prof. Tommy F Awuy pada akun medsos Twitternya bahwa  .kalo pake teori biopolitik michel foucault, "telolet" itu reproduksi dari relasi power suara marjinal dengan kapitalis bus pariwisata. Menarik sekali jika hal ini kita diskusikan. Ada sebuah  ironi di dalamnya, bahwa hiburan kaum anak-anak marginal ini adalah hasil produiksi dari kapitalisme. Kapitalisme bus pariwisata di satu sisi membuat banyak orang yang tidak punya modal atau capital menjadi penonton di industri Bus pariwisata, atau hanya men jadi pekerja-pekerja (buruh) di industri tersebut. Tetapi di sisi yang lain menghasilkan hiburan bagi anak anak marjinal. Apakah hal ini disengaja oleh industri-industri Bus Pariwisata?

Komunitas Bismania mengatakan asal usul klakson bus telolet dari Arab Saudi dan dibawa pengusaha perusahaan otobus (PO) Indonesia ke sini. Di Indonesia, klakson telolet itu dipasang pada armada bus untuk memberikan ciri khas."Jadi sekitar tahun 2002-2004 yang lalu, owner kita, Teuku Erry Rubihamsyah katakanlah tertarik dengan suara klakson yang ada di negeri Arab (Saudi) sana untuk klakson bus atau truk kendaraan besar, nggak cerita detil sih ya, singkatnya tertarik dengan klakson itu, coba dibeli dan dibawa ke Indonesia dipasang di busnya beliau, seperti itu," tutur Manajer Komersial PO Efisiensi, Syukron Wahyudi kala berbincang dengan detikINET, Kamis (22/12/2016).

Yang pasti, imbuhnya, klakson aslinya terdiri dari 3 corong dengan bunyi te-lo-let yang bila dipencet lama bisa berbunyi telolet-telolet. Saat awal-awal bus dipasang klakson telolet itu, banyak masyarakat merespons negative.Namun, rupanya kegemaran masyarakat berubah sejak 4 tahun terakhir. Klakson telolet tersebut digemari, warga malah meminta membunyikan klakson itu. "Itu hampir di setiap daerah dekat-dekat dengan sekolahan biasanya anak-anak yang minta. Pokoknya tiap ada sekolahan minta dibunyikan, anak-anak melambaikan tangan itu di daerah jalur bus reguler kami Cilacap, Jogja, Purwokerto," jelas dia.

Hal ini adalah kreatifitas dari sebuah industri  transportasi, dan ketika ada efek samping yang positif yaitu memberikan hiburan bagi anak-anak, tentu bisa dijadikan bahan kajian yang menarik. Tugas pemerintah dan kita semua tentunya adalah bagaimana membuat anak-anak nyaman dan aman dalam menikmati hiburan ini. Karena berdiri di pinggir jalan raya dalam kondisi bus yang kadang kencang melaju, tentu bisa membahayakan anak-anak.  Memang fenomena “Telolet” ini membuat kita semua terhenyak, bahagia bagi anak-anak itu ternyata sederhana. Mungkin  bahagia kita sebenarnya  juga sederhana.

TELOLET.


Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun.

Senin, 21 November 2016

Review Buku "Menuju Tak Terhingga" Karya Prof. Hendra Gunawan

Menulis buku tentang Matematika dengan gaya bahasa yang mudah dipahami tentu tidaklah mudah, karena harus bisa menjelaskan kepada pembaca, logika matematika dan logika bahasa secara bersamaan. Sebagai mana diketahui oleh sebagian besar orang, matematika adalah ilmu “pasti” yang memerlukan aksioma, difinisi, teorema, dan rumus untuk memenuhi  unsur-unsur kepastian tersebut. Sedangkan “bahasa” dipandang sebagai sesuai yang tidak pasti, tergantung konteks kalimat-kalimat yang disusun, sebuah kata bisa punya makna yang berbeda-beda tergantung konteks kalimatnya.

Tetapi sebenarnya tidaklah demikian, keduanya merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, yang tentu tidak akan mencapai sebuah kebenaran yang absolut, keduanya akan terus diuji oleh pembuktian-pembuktian secara ilmiah, akan ada kebenaran-kebenaran baru yang hadir. Dari hal yang tidak mudah inilah, maka  Buku “Menuju Tak Terhingga” karya Hendra Gunawan, Guru Besar Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung ini harus kita apresiasi.  Buku yang membahas tentang ketakterhinggaan dalam matematika, sebuah bahasan yang menjadi kontroversial  dan  perdebatan sejak jaman Yunani Kuno. Perdebatan antara Zeno dan Aristoteles dengan Eudoxus dan Archimedes.

Dalam buku ini pembaca akan diajak berimajinasi dan berkelana tentang infinitesimal, yang berpijak pada konsep ketakterhinggaan. Infinitesimal inilah yang melandasi teori kalkulus. Bahasan-bahasan di buku ini menarik, bukan hanya bagi para pelajar, mahasiswa, Guru, atau Dosen Matematika, tetapi bagi siapa saja yang concern dan menyukai ilmu pengetahuan, karena ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan contoh-contoh dan gambar yang mudah kita bayangkan, dan terkadang dengan gaya bahasa puitis, juga diselingi  humor.  Buku ini juga menarik  untuk dibaca karena berisi  sejarah penemuan Konsep dan rumus Matematika, oleh para matematikawan sejak Jaman Yunani kuno sampai abad Modern. beberapa Mulai dari keterbilangan himpunan bilangan asli, ketakterbilangan himpunan bilangan real, perhitungan luas daerah di bawah kurva, kecepatan sesaat, dan gradien garis singgung, seperti  yang dilakukan oleh Isaac Newton, dan Gottfried Wilhelm Leibniz.


Menurut Aristoteles, ketakterhingganan aktual sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah ketakterhinggaan potensial, dalam pengertian bahwa kita dapat mempunyai bilangan yang sangat besar, sebesar yang kita kehendaki, tetapi tetap terhingga. ( Hal 14 ). Tetapi beberapa abad berikutnya beberapa cabang matematika, menggunakan konsep-konsep ketakberhinggaan, seperti Analiisis Geometri Diferensial dan Teori Kontrol. Begitu juga dengan Pythagoras, yang rumus segitiga siku-sikunya mulai kita kenal sejak Sekolah Dasar, pernah berfatwa bahwa “semua adalah bilangan” maksudnya adalah semua yang ada di alam ini dapat dikuantifikasi atau dinyatakan seperti bilangan rasional. Dan hal ini dipatahkan oleh cucu muridnya yaitu Hippasus yang membuktikan bahwa panjang sisi miring segitiga siku-siku yang mempunyai alas dan tinggi sama dengan 1 tidak dapat dinyatakan sebagai rasio dua bilangan bulat, dan karena itu ia bukan merupakan bilangan rasional. Dan penerus Phytagoras lainnya bernama Archytas menemukan fakta penting, hingga fatwanya berubah menjadi : “semua dapat dihampiri oleh bilangan (rasional)” (Hal. 22).


Hal ini menunjukan bahwa tidak ada sebuah kebenaran absolut dalam  Matematika khususnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya, karena bisa berubah di kemudian hari, dengan ditemukannya bukti-bukti secara ilmiah, hingga dapat kita katakan bahwa kebenaran hari ini belum tentu  kebenaran esok hari.


Dalam alam fisis, ada bilangan-bilangan positif yang sangat kecil dan bilangan-bilangan yang sangat besar yang menyatakan ukuran dari sesuatu di alam semesta, bilangan sangat kecil misal massa sebuah electron yang diam atau stasioner, sedangkan bilangan sangat besar contohnya diameter alam semesta yang dapat dilihat, tetapi dalam matematika bilangan positif terkecil tersebut masih dapat kita bagi dua, dan bilangan terbesar tersebut itu dapat kita kuadratkan, ini membuktikan bahwa bilangan-bilangan tersebut bisa menuju tak terhingga, sehingga alam matematika lebih luas dari alam fisis. ( Hal. 52).


Membaca buku Menuju Tak Terhingga ini, meskipun berisi teori-toeri matematika tetapi tetap enak dibaca dan dinikmati karena adanya contoh-contoh yang mudah dipahami pembaca seperti kisah  lomba lari Achilles dan kura-kura, paradoks  Lampu Thompson, balapan katak Thompson, paradoks Hotel Hilbert, dan lain-lainnya. Selain itu juga diceritakan tentang sejarah penemuan-penemuan rumus Matematika.


Misal tentang  peristiwa dan proses bagaimana Isaac Newton menemukan konstanta gravitasi berdasarkan konsep Infinitesimal, konon pada suatu hari Isaac Newton sedang belajar duduk di bawah pohon apel (anggaplah memang begitu kejadiannya), sebuah apel jatuh dan Newton bertanya dalam hatinya, apa yang membuat apel tersebut jatuh. Kemudian dari penemuan Galileo Galilei sebelumnya, Newton bisa menghitung dan menyimpulkan bahwa benda jatuh tersebut mengalami  percepatan konstanta, yang kemudian ia sebut sebagai konstanta gravitasi. (Hal 77 ) Bagi para pengajar ilmu matematika, hal demikian ini penting juga diberikan ke murid-murid agar mereka bisa belajar memahami konsep-konsep matematika sekaligus belajar ilmu sejarah.



Sebagai catatan kritis terhadap buku ini, karena Matematika itu erat kaitannya dengan Puisi, bahkan Einstein menyatakan Matematika murni adalah puisi berisi ide-ide yang logis (logical ideas), maka alangkah baiknya kalau lebih banyak kalimat-kalimat puitis yang dituliskan saat menjelaskan  teorema-teorema dengan metafora-metafora matematika yang memenuhi unsur estetika.

Saya memberi apresiasi yang tinggi buat buku ini, semoga  Menginspirasi para Pengajar Matematika, atau  matematikawan apapun profesinya untuk menulis buku tentang matematika, sehingga bisa bermanfaat bagi banyak orang yang membacanya, dan bisa menumbuh kembangkan budaya literasi di negeri ini. Peradaban sebuah bangsa akan semakin maju, jika dunia literasinya terus tumbuh dan berkembang .

Benang merah yang dapat saya tarik sebagai kesimpulan setelah membaca buku ini, menurut saya ada 3 hal yaitu, pertama adalah diperlukan  pikiran yang selalu terbuka dalam memahami kebenaran ilmiah, karena kebenaran tersebut akan selalu diuji oleh bukti-bukti ilmiah di kemudian hari, kedua adalah pentingnya mengembangkan riset-riset dasar Matematika dan Ilmu Pengetahuan, karena bukan sesuatu yang berlebihan bila kita katakana bahwa dunia modern yang berkembang hingga saat ini dibangun antara lain di atas sejumlah teori Matematika yang dikontruksi pada abad ke-17, dan yang ketiga menulis buku matematika, agar mudah dipahami pembacanya  adalah dengan menggunakan contoh-contoh  atau peristiwa sehari-hari saat menjelaskan teorema yang rumit. Sebagaimana yang ditulis oleh Hendra Gunawan  di halaman depan,  bahwa setiap orang pasti akan bertemu dengan hantu matematika, tapi tenang saja karena hantunya “cakep”.











Arif Gumantia

Alumni Matematika UB Malang

Ketua Majelis Sastra Madiun

Minggu, 23 Oktober 2016

Kontroversi Hadiah Nobel Bob Dylan



Setiap perhelatan pemberian penghargaan hadiah sastra yang dilakukan tiap tahun oleh Komite Nobel  Swedia ( the Swedish Academy )  selalu menimbulkan kontroversi. Selalu ada perdebatan Pro dan kontra. Hal ini wajar saja, mengingat setiap penilaian terhadap karya sastra tentu akan menimbulkan beragam tafsir, tergantung parameter yang digunakan dalam menilai dan menafsirkan karya tersebut.


Demikian juga hadiah nobel sastra tahun 2016 yang diberikan pada penyanyi dan penulis lirik lagu  dari Amerika Serikat, yaitu Bob Dylan. Bob Dylan menyingkirkan semua nominasi-nominasi yang dimunculkan media-media, seperti  Haruki  Murakami, novelis asal Jepang,  penulis asal Irlandia, John Banville, penulis Kenya Ngugi wa Thiong’o, penulis AS Joyce Carol Oates, penulis Suriah Adonis dan penulis Spanyol Javier Marías.



Pro kontra pertama muncul karena media-media eropa menyatakan bahwa Bob Dylan adalah penulis lirik lagu pertama yang mendapatkan hadiah nobel, padahal Rabindranath Tagore dari India, pemenang nobel sastra tahun 1913 juga penulis lirik lagu, setidaknya dia menciptakan 3 lagu himne.  Bob Dylan mendapatkan hadiah nobel karena lirik-lirik lagunya , sedangkan Rabindranath Tagore mendapatkan nobel karena sajak-sajaknya yang segar dan indah, menurut saya keduanya sama-sama mempunyai kecerdasan dan pemikiran puitik. Karena Rabindranat Tagore juga penulis lirik lagu, maka saya lebih setuju dengan pendapat bahwa Bob Dylan bukanlah penulis lirik lagu pertama yang mendapatkan nobel, tetapi yang pertama adalah Rabindranat Tagore.



 Bob Dylan sungguh legendaris dan  fenomenal. Ia menjadi inspirasi bahkan bagi The Beatles, Gun n Roses, dan sejumlah besar penyanyi hebat dalam waktu yang panjang, termasuk Iwan Fals. Lagu-lagunya banyak dilantunkan oleh penyanyi berkaliber, termasuk Avril dan Adelle.



Sehingga Komite Nobel  ( The Swedish Academy) memberikan Hadiah nobel pada Bob Dylan karena “Menciptakan ekspresi  puitik baru dalam tradisi lagu-lagu di amerika”.  Yang juga perlu kita ingat adalah anugerah Nobel ini selalu diberikan pada orang-orang yang concern terhadap perjuangan terhadap kemanusiaan dan perdamaian, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, diplomasi-diplomasi untuk perdamaian, dan karya sastra. Lirik-lirik lagu Bob Dylan pun sebagian besar berisi gagasan-gagasan kemanusiaan dan perdamaian. Daripada kita “nyinyirin Bob Dylan ( istilah yang lagi tenar di Media social ) lebih baik kita elaborasi  alas an Komite Nobel  tersebut.


Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi. 
Tak bisa kita pungkiri, bahwa saat-saat ini terutama dengan maraknya media sosial, kebanyakan orang beranggapan bahwa puisi memiliki image yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata  aneh yang tak dimengerti, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, hingga beranggapan bahwa Puisi tidak ada hubungannya dengan kehidupan. Hal demikian itu tentu anggapan yang salah karena adanya kesalahpahaman.


“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi  tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri. dan bagaimana mencari  jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan atau penting.
Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya.


Metafor adalah kreativitas pertama dalam puisi, untuk mengomunikasikan kebaruan-kabaruan  itu, masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi   penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, mempengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka. Karena relevan dengan kehidupan, maka metaphor-metafor yang diciptakan haruslah dekat dengan kehidupan dan tidak  menjauhkan dari kehidupan, seperti anggapan salah kaprah yang selama ini terjadi, semakin rumit metafor maka semakin bagus puisi tersebut.


Parameter pertama yang kita pakai yaitu Puisi adalah selalu releven dengan kehidupan bahkan signifikan, tentu lirik-lirik lagu Bob Dylan masuk dalam kategori itu, karena Bob Dylan telah menciptakan lirik-lirik lagu dengan topik seperti kondisi sosial masyarakat, kemanusiaan, keterasingan manusia, seruan perdamaian, agama, politik dan cinta, topic-topik yang relevan dengan kehidupan. Bisa kita baca pada lirik-lirik lagunya seperti : Knockin’ on Heaven’s Door, Blowin’ in the Wind, The Times They are changin’, Mr Tambourine Man, Like a Rolling Stone, All along the watchtower, gotta serve somebody, full moon and empty arm, make you feel my love, Highway 61 revisited, dan masih banyak lainnya.


Karya-karya tersebut diciptakan mulai tahun 1962, seperti yang bisa dibaca di biografinya, awal berkarir sebagai penyanyi, Bob Dylan adalah penyanyi lagu rakyat (Folksinger). Barangkali lirik-lirik lagu inilah yang menurut komite nobel mempunyai ekspresi puitik baru, dibandingkan lirik-lirik lagu-lagu amerika sebelum tahun 1960an.


Parameter kedua adalah  metafor-metafor yang diciptakan Bob Dylan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) me·ta·fo·ra /métafora/ didefinisikan sebagai "pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.[1] , misal tulang punggung dalam kalimat "pemuda adalah tulang punggung negara".Metafora adalah majas (gaya bahasa) yg membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan. Dengan kalimat yang singkat,  metafora adalah mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.  Mari kita elaborasi apakah metaphor-metafor yang diciptakan Bob Dylan merupakan perbandingan analogis yang mudah dipahami, bisa merepresentasikan gagasan yang ingin disampaikan, mendekatkan dengan kehidupan, dan tentu saja mempunyai unsur estetika (keindahan bahasa).



Kita ambil contoh lirik lagu Knockin’ on Heaven’s Door





Mama, take this badge off of me

I can't use it anymore.

It's gettin' dark, too dark to see

I feel I'm knockin' on heaven's door.

Knock, knock, knockin' on heaven's door



Mama, put my guns in the ground

I can't shoot them anymore.

That long black cloud is comin' down
  
I feel I'm knockin' on heaven's door.







Lagu Knockin On Heaven's Door"  merupakan Semangat anti perang yang ditunjukkannya dengan mengkritik kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang memerangi Vietnam. Dylan berkeyakinan perang Vietnam adalah kesia-siaan. Sebagai keprihatinannya terhadap perang Vietnam, ia lantunkan lagu ini,. Dari pilihan metafor-metaformya dalam yang dipakai Bob Dylan yaitu : “pistol, awan hitam,  pintu surga, pistol sebagai perbandingan analogis terhadap perang, awan hitam sebagai penderitaan, sedang mengetuk pintu surge sebagai ungkapan kematian, menuju hidup abadi bersamaNYA, terlihat ada  keterkaitan yang ironis, antara perang yang sia-sia, penderitaan  dan sedang mengetuk pintu surga”, barangkali Dylan ingin menyampaikan setiap prajurit yang perang akan mengalami penderitaan, tetapi karena melaksanakan perintah Negara dan takdir yang dijalaninya, maka prajurit-prajurit tersebut sedang mengetuk pintu surga, sebuah pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, untuk menyampaikan gagasan yang ingin disampaikan jelas terlihat mudah dipahami, relevan dengan kehidupan, dan juga indah.







Satu lagu lagi : “Blowin’ in the wind”



How many roads must a man walk down,before you call him a man?

How many seas must a white dove fly,

before she sleeps in the sand?

And how many times must a cannon ball fly,

before they’re forever banned?



The answer my friend is blowing in the wind,

the answer is blowing in the wind.

How many years can a mountain exist,

before it is washed to the sea?

How many years can some people exist,
  
before they’re allowed to be free?



And how many times can a man turn his head,and pretend that he just doesn’t see?

The answer my friend is blowing in the wind,


the answer is blowing in the wind.




How many times must a man look up,

before he sees the sky?

And how many ears must one man have,
  
before he can hear people cry ?And how many deaths will it take till we know,

that too many people have died?



The answer my friend is blowing in the wind,
  
the answer is blowing in the wind.

The answer my friend is blowing in the wind

the answer is blowing in the wind.







Berapa jauh ditempuh pengembaraan

Sebelum sebutan lelaki dapat ditetapkan

ya, dan berapa jumlah lautan dicapai

sebelum merpati dapat istirahat di pantai

ya, dan berapa kali diterbangkan peluru meriam

sehingga akhirnya semua bisa dibungkam



jawabnya temanku, ada dalam angin berembusan

jawabnya ada dalam angin berembusan



berapa kali orang harus tengadah

sebelum dia dapat menatap langit

ya, dan berapa telinga harus dipasangkan

agar dia mampu mendengar ratap dan tangisan

ya, dan berapa banyak manusia dibunuhi

hingga dia sadar begitu banyak orang mati?



jawabnya temanku, ada dalam angin berembusan

jawabnya ada dalam angin berembusan



(terjemahan Taufik Ismail)







Metafor-metafor yang digunakan Bob Dylan ini umtuk menceritakan pertanyaan-pertanyaan semua orang tentang apa makna manusia, apa maknanya menjadi manusia, dan bagaimana  meraih makna hidupnya? Sebuah pemikiran yang dalam tentang kemanusiaan. Tentang tugas manusia agar bisa memanusiakan manusia.  Dengan mengambil metafor-metafor yang ada di alam seperti : lautan, merpati, gunung, telinga, langit, dan angin yang berhembus. Metafor yang dekat dengan kehidupan, mudah dipahami untuk menceritakan gagasannya, dan tentu indah.


Masih banyak yang bisa kita eksplore dari lirik-lirik lagu lainnya. Meskipun lirik-lirik tersebut dilepaskan dari musiknya, menurut saya lirik tersebut tetap menjadi puisi, dan mempunyai pemikiran dan kecerdasan puitik
Parameter yang ketiga adalah apakah lirik-lirik lagu tersebut akhirnya mempengaruhi musisi-musisi amerika pada generasi tahun 1970an, 1980an, sampai sekarang? Menurut saya jawabannya adalah iya, karena banyak grup-grup Rock amerika menggunakan ekspresi puitik di lirik-lirik lagunya seperti Grand funk railroad, Metallica, Megadeth, Guns n Roses, Poison, Bon Jovi sampai generasi sekarang seperti avril lavigne. barangkali dari ketiga parameter inilah yang membuat Akademi Swedia memberi penghargaan


Dari apa yang saya sampaikan di atas, bisa saya tarik benang merah bahwa apa yang dipakai alas an oleh komite nobel sudah lah tepat, bahwa Bob Dylan menciptakan ekspresi puitik baru di dalam lirik-lirik lagunya. Tentu sah-sah saja ada yang tidak setuju dan berbeda dengan pendapat saya ini, hal ini justru akan menjadi dialektika yang menarik dalam khazanah sastra kita.








Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun
Jawa Timur