Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Minggu, 26 Oktober 2008

Lebaran dalam sepotong iklan

Dulu, disetiap Ramadhan dan lebaran selalu identik dengan perilaku religius dan asketisme. Tetapi setelah penulis amati sepuluh tahun terakhir ini terjadi apa yang menjadi anak kandung dari kapitalisme yaitu Konsumerisme. Bulan suci dan Hari raya Idul fitripun seolah menjelma menjadi semacam komodifikasi dari nilai-nilai keagamaan yang memborbadir pikiran, akal sehat, dan nurani kita.
jauh sebelum ramadhan tiba, Layar Televisi kita sudah dipenuhi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan puasa. Mulai dari iklan, gosip, kuis, sinetron, humor, ceramah, berita, musik, dan mencapai puncaknya pada saat sahur dan buka puasa, semua dengan tujuan yang sama, meraup untung dari acara-acara tersebut, dengan balutan kerudung jilbab, baju koko muslim, dan segala pernik icon muslim lainnya.
Selain nuansa dan image islam, acara-acara ini semua selalu di padu padankan dengan berbagai macam iklan yang menyita segenap pikiran kita yang bertujuan untuk membangun sebuah brand equity yang tinggi di benak konsumen, semuanya bermuara pada return atau laba yang tinggi bagi pihak pengiklan. Penulis merasa bahwa sangat terasa sebagai sebuah cara untuk berjualan produk daripada sebuah kontlempasi agama yang bisa meningkatkan derajat ketakwaan dan keimanan kita. kita hanya dianggap sebagai obyek yang dirayu untuk mengumbar nafsu konsumerisme dan hedonisme.
Jadi ritual-ritual puasa yang sangat kental unsur ibadah dan nuansa religinya di televisi telah dimanfaatkan untuk meningkatkan semangat konsumtif yang tinggi. itu hanya di layar kaca, belum dalam realitas sehari-hari, arus deras konsumerisme sangat terasa sekali kehadirannya, bisa kita lihat di Pusat pembelanjaan, Mall, Pasar, semua sangat terlihat antusiasme masyarakat pada konsutivisme, terlebih-lebih satu minggu menjelang lebaran, banyak yang lebih mengutamakan belanja dari pada mengharap datangnya Lailatul Qodhar dengan i'tikaf di masjid.
Jalanan di sekitar Mall sampai macet total, di dukung dengan promosi dan iklan yang setiap saat menghampiri kita, dengan Tagline belanja hemat lebaran 50 %, up to 20 % bulan ramadhan, ada juga beberapa iklan yang sangat menggoda, dengan menempelkan banner dan spanduk di setiap sudut Mall semisal : " Belanja sambil Berbuka" ada juga "Belanja sambil beramal", dan cara-cara marketing modern untuk mendongkrak sales, yaitu memasang semua yang berbau muslim di bagian depan Mall.
Menurut penulis laku religius dan asketisme pada momen Puasa dan lebaran telah tergerus nilainya oleh sebuah kekuatan yang bernama "Pasar". Bulan yang Suci dan penuh ampunan bagi umat islam lebih dilihat sebagai sebuah sudut pandang bahwa Ramadhan dan lebaran adalah sebuah ajang untuk memasarkan produk-produk yang strategis. Kapitalisme yang ada di setiap ruang kehidupan kita telah mambaca peluang dengan memanfaatkan simbol-simbol dan ikon sebuah agama untuk mengeruk keuntungan yang berlipat.
Puasa yang pada hakekatnya mengajarkan sebuah laku hidup yang sederhana dan lebaran yang mengajarkan sebuah kerendahan hati untuk saling bermaaf-maafan telah terdegradasi menjadi gaya hidup yang boros, glamour, borjuis, dan penuh hedonisme. Kesalehan dan sifat religius hanya dipamerkan lewat simbol jilbab, baju koko, surban, kaligrafi arab. Ramadhan dan lebaran yang diharapkan bisa melahirkan manusia baru yang suci lewat menahan nafsu, lapar, dahaga, saling "tepo Sliro", memberi maaf dengan tulus ikhlas telah berubah kedalam kemeriahan yang dangkal.
Ada yang hilang kalo kita teringat pada puasa dan lebaran di waktu lalu, saat penulis melewati puasa sekitar 2 dekade yang lalu, Bulan Puasa memberikan atmosfer dan nuansa hidup yang sederhana dan sangat bersahaja. Kemeriahan lebih kepada pukul bedug saat maghrib, ramai-ramai menuju mushola dan masjid saat tarawih, membaca Al-Qur'an di Malam hari, I'tikaf hingga larut malam, tahajjud, pokoknya kemeriahan yang berhubungan dengan laku bathin, yang akan meningkatkan nilai ketakwaan kita saat Lebaran tiba.
Setelah Reformasi di tahun 1998, seiring dengan semarak pendirian televisi swasta baru, mulailah ritual-ritual keagamaan selalu dipadukan dengan gaya hidup materialistis yang selalu memunculkan iklan sebagai ujung tombaknya. Saat Globalsasi membuat setiap negara di dunia menjadi satu, sifat-sifat keagamaan bersentuhan dengan arus deras konsumsi.
Inilah kenyataan yang kita saksikan dari tahun ke tahun, menjadi tantangan bagi kita semua, terutama para alim ulama yang ada di negeri ini, untuk mengembalikan nilai-nilai yang ada di setiap ritual dan perayaan keagamaan. Agar kita tidak terjebak pada pusaran kesalehan-kesalehan visual.