Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Kamis, 20 Agustus 2015

Gus Dur, wajah semua kerinduan.



Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 Agustus 2015/16-20 Syawal 1436 H, bukan saja merupakan forum tertinggi organisasi melainkan juga sebagai ajang silaturrahim antar warga Nahdliyyin. Salah satu bentuk pelayanan Panitia Muktamar kepada warga Nahdliyyin yang hadir di muktamar  adalah berbagai forum terbuka yang memungkinkan terjadinya interaksi antar sesama warga dengan kalangan warga NU. Selain itu juga bisa menjadi sarana hiburan bagi para pengunjung dari berbagai penjuru negeri.

Satu di antaranya adalah Pameran Seni rupa atau Lukisan dengan Tema : “Gus Dur Wajah Semua Kerinduan”. Tanggal 2-5 Agustus 2015 di halaman Masjid Ulul Albab, PP Tebuireng.Jombang. Pameran yang menampilkan dan mengapresiasi karya  14 Pelukis, kebanyakan  pelukis-pelukis Muda. Pelukis pelukis ini melukiskan perasaan dan imajinasinya tentang Salah satu sosok yang dirindukan di perhelatan muktamar ini, yaitu sosok Gus Dur. Karena Gus Dur adalah representasi tokoh NU yang telah menjadi milik bangsa.

Jadi kerinduan kepada Gus Dur bukan hanya milik para kiai dan santri, bukan hanya milik para Nahdliyyin, bukan hanya milik para muktamirin. Namun, kerinduan ini milik semua. Karena Ketokohan seorang Gus Dur yang melintasi segala sekat dan batas. Berdiri di semua agama, ras, suku dan golongan. Tokoh yang bisa akrab kepada siapa saja baik politisi, pejabat pemerintahan, seniman, dan rakyat kecil yang terpinggirkan juga kelompok minoritas.

Dalam sepanjang sejarah penyelenggaraan Muktamar NU, ini adalah kali pertama pameran lukisan menjadi salah satu acara di dalamnya. Maka pengunjung dengan antusias melihat lukisan lukisan yang di pajang di sebuah tempat yang di sulap menjadi semacam galeri kecil di halaman depan masjid. Pelukis AC  Andre Tanama dengan judul Dari kesunyian, Yas’ari Amin Muhlas : Konspirasi hitam, Laksmi Shitaresmi : Portrait of Gusdur, Pius Satria: Untitled, Dia Natanegara : Wajah Gus Dur, Muh Nadziril Bunyani : Dia Melihat, Tungan Iskandar: Ziarah Jombang, Ramadhan Arif Fatkhur : anak anak dari anak  anak, Sony Prasetyotomo: Rahmatan Lil alamin, Bagas Damariandra: Addkhil, Anggar Prasetyo: Fragile, Saikhul Hasanudin: Mambaca Perdamaian, Ahmad Fariddudin Ghani: Gus Dur, Koskow Widyatmoko: pergilah ke sudut sudut hati.

Dalam  lukisan-lukisan tersebut  terlihat bagaimana pelukis mengeksplorasi  Gus Dur lewat bahasa seni, hingga menjadi penanda yang melaluinya kita bisa memproyeksikan harapan.