Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Minggu, 14 April 2013

RUSH, tiga yang meguak sejarah Musik Rock.


Tiga orang dengan kemampuan musikalitas yang luar biasa pada akhirnya akan menjadika lagu-lagunya mengabadi, menembus batas berbagai generasi. Geddy lee (vocal, Bass). Alex lifeson (Gitar), dan Neil Peart (Drum) dengan Super Grupnya bernama RUSH. Meski pada awalnya terbentuk tahun 1968 sering berganti-ganti personel, tapi tiga rockers tersebutlah yang benar-benar menguak takdir sejarah musik Rock, sejak debut album pertama mereka di tahun 1974 yang berjudul RUSH.

Tiga orang yang memainkan musik, seolah-olah ada banyak personel yang memainkannya, hingga musiknya begitu hidup dan memukau. Musik Rush sendiri dipengaruhi oleh Cream, Led Zeppelin, Deep Purple, The Who, Pink Floyd, dll. Hal yang patut kita apresiasi tinggi adalah musiknya penuh eksperimentasi dengan mengkolaborasikan musik rock dengan new wave, reggae, pop rock, folk, dll.

Ciri yang sangat menonjol adalah eksplorasinya yg dahsyat pada efek synthisezer, dan diperkaya dengan gebukan drum neil peart yang menggunakan drum elektrik, triangles, wood blocks. Dan kegemaran alex lifeson memainkan chord hingga tercipta lagu-lagu dahsyat seperti tom sawyer, subdivision, spirit of the radio, limelight, dll.

Selain musiknya yang dahsyat, lirik-lirik lagunya dipengaruhi oleh Puisi, fantasi, science fiction, dan juga dari novel seperti Tom sawyer karya Mark Twain atau Anthem yang dipengaruhi oleh Novel karya Ayn Rand. Hingga saat mendengarkan musiknya, kita seakan dilambungkan dengan imajinasi-imajinasi yang menyertai lagu-lagunya. Dan juga makna yang kontemplatif dari lirik-liriknya seperti “the enemy within”. Musuh terbesar tidak di luar sana, tapi ada di dalam diri kita.


Dengan suara Vokal Geddy lee yang melengking tinggi, gebukan drum neil peart yang powerfull, juga gaya alex lifeson yang sering menggunakan senar atas seperti irama Bass yang dipetik dan selalu bergerak seperti pada Fly By night, menggabungkan open string dalam petikan yang menawan dengan gitar akustik Gibson B-45 pada “Closer To the heart” juga intro gitar dengan tehnik hammer on dan pull off pada lagu Spirit of the Radio.

Eksperimentasi Teknik alex lifeson yang sungguh memukau membuatnya patut dujuluki Dewa Gitar. Seperti eksperimentasi pada open string atau chord reggae dan funk dalam lagu Red Sector A. juga kegemarannya memainkan chord (bermain dengan banyak chorus dan delay) menjadikan sound Rush mempunyai sound yang khas.

Hanya sedikit trio musik Rock yang mengguncang dunia, dan Rush telah membuktikannya. Keep on rockin’.

Rush’s albums



Arif Gumantia
Only brave heart playing rock



Selasa, 09 April 2013

Deskripsi peristiwa Impresionistik dan narasi Profil "wong cilik" pada Kumcer Kembang Api Malam Ini karya Latree Manohara.


Sebuah karya sastra baik prosa maupun puisi, dalam proses kreatif lahirnya karya tersebut banyak unsur yang mempengaruhi. Terutama dengan konteks masyarakat tempat lahirnya karya tersebut. Dalam hal ini, karya sastra bisa dipandang sebagai suatu gejala social, berupa fenomena, norma, perilaku, adat istiadat, kejadian dan peristiwa yang berlalu di masyarakat.

Gejala social yang di olah oleh Penyair, cerpenis, atau novelis, direkakan, di imajinasikan, dirangkaikan, di sintesakan menjadi sebuah teks yang terpadu dan otonom. Begitu juga upaya yang di lakukan oleh latree manohara, dalam buku cerita-cerita pendeknya “Kembang Api Malam Ini”. Penulis, pembuat sekaligus pelantun lagu, yang bermukim di semarang. Cerita pendek suatu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi, dan disingkat cerpen.

Meski bentuknya relatif pendek, dengan tema-tema yang sederhana dan kejadian-kejadian yang sering kita temui, namun kependekan dari cerpen-cerpen Latree ini tidak mengurangi kedalaman maknanya. Seperti cerpen Hamil di hal 1, sebuah cinta dalam ikatan perkawinan yang setelah berjalannya waktu menjadi hampa dan kering, rasa cinta yang pudar justru saat si istri hamil, ada paradoks dan ironi di ending ceritanya.

Dengan idiom-idiom jawa yang tentu dikuasainya sesuai dengan latar belakang tempat tinggalnya, cerita Genderuwo (hal 17) mengalir dengan deskripsi ruang dan waktu yang menyelusupkan peristiwa impresinok. Hingga pembaca bisa menangkap kesan suasana bahkan merasuk ke dalam cerita seakan kita berada di dalamnya. Dengan tema hilangnya seorang gadis bernama Rim. Yang memunculkan bermacam spekulasi ke mana hilangnya, kalau di culik siapa penculiknya, adakah Genderuwo? Dan di ending cerita kita bakalan menahan nafas, sebuah cerita yang pedih, sad but true.

Bagi yang ingin bernostalgia dengan cinta pertama ataupun pernah merasakan patah hati, cerpen Kembang api malam ini (hal 29), cukup untuk membuat kita membuat kita seeakan berjalan pada jembatan kenangan menuju masa lalu. Deskripsi detail suasana dengan pengembangan waktu, juga pemanfaatan kekuatan latar waktu dan tempat membuat cerpen ini menjadi puitis, sebagaimana di ending ceritanya : menyaksikan ledakan-ledakan kembang api di langit, yang meledakkan mimpi-mimpiku. Meledakkan cintaku. Meledakkan ku.

Deskripsi tentang perubahan emosi seseorang tidak hanya bisa diceritakan dengan untaian kata-kata, tapi juga dari dialog-dialog para tokoh. Sebagaimana yang dilakukan latree pada cerita bayang-bayang (hal 39) dan abu abu abu (hal 49). Tentang aborsi yang berujung pada hidup yang dihantui baying-bayang. Dan pada abu abu abu tentang abu gunung merapi , tentang abu yang berada di mana-mana, tentang “aku” yang tidak pernah suka warna abu-abu. “abu-abu” di sini menjadi semacam metafora yang bisa menghempaskan pembaca ke berbagai hal.

Keindahan cerpen juga dapat kita nikmati ketika narasi-narasi ironis mewarnai isi cerita cerpen tersebut, seperti Susu untuk Sari (Hal 55). Sungguh sebuah ironi di negeri ini, dan itu sering kita temui, untuk mendapatkan sekaleng susu, seoranng ibu harus melakukan apa saja, meskipun itu bertentangan dengan hati nuraninya. Pada cerpen ini latree juga piawai membuat narasi tentang profil “wong cilik”

Suasana warung rawon begitu natural langsung terasa begitu kita membaca cerita Pawon Rawon Mas Won (Hal 71). Mulai dari bagaimana suasana warung, pengunjung warung, intrik persaingan para pemilik warung, di ceritakan dengan filmis dan gaya bahasa sehari-hari, dan barangkali sesaat pembaca membaca endingnya akan menyergap perasaan pembaca dengan berbagai imajinasi dan rasa yang berkecamuk. Sungguh cerpen yang memikat.

Dari 11 cerpen-cerpen latree manohara ini patut kiranya kita beri apresiasi yang tinggi. Sebagai sebuah saran, saya berharap ke depan cerita-cerita Latree akan lebih bisa menggali lebih dalam kekuatan-kekuatan latar social, kekuatan-kekuatan lokalitas budaya, konflik-konflik batin “wong cilik”, karena di situlah kekuatannya.


Saya teringat novelis Orhan Pamuk, membaca yang baik tidak hanya sekedar mendapatkan sebuah hiburan dan memahami isinya, tapi juga bagaimana kita menghasilkan ide-ide kreatif dari apa yang kit abaca tersebut.

Selamat buat latree atas Kumcer Kembang api malam ini. Salam Sastra.






Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun



Minggu, 07 April 2013

Dua hati dalam tatapan



(I)

Pada musim yang membara
Terperangkap Bising dan jalanan kota kecil
Dalam gegas yang menderas
Tapi alunan melodi hatimu
Alirkan percikan tetes hujan menuju muara hatiku


(II)

Kita bertatap dan bercakap
Diantara keheningan dalam pendam harapan
Bercerita tentang masa lalu yang lepas dari tangkai waktu
Tentang kenangan masa lalu di sekolah
Dimana kita pernah tumbuh dan merawat kenangan


(III)

Dan kita sama-sama terjerat
Dalam rentang lintasan waktu
Tapi bukankah hidup akan menjadi indah
Jika kita bisa mengendarai cahaya waktu
Indah, jika kita saling memberi bias warna
Menyusun bianglala


(IV)

bahkan sejenak waktu kita bertemu
ada jembatan hatiku dan hatimu
yang telah terbangun
oleh cinta, mimpi, angan, dan pesona harapan
meski hanya sebuah atau beberapa tatapan
tapi
serupa dua bintang di langit biru malam
tatapanmu akan selalu kukenang hingga ujung usia



Arif gumantia

Rabu, 13 Februari 2013

Prolog 2013




Dalam geliat awal waktu
Kata kata mengalir serupa linangan hujan
Merendam dan melukai tubuh tubuh kota
Menyisakan deretan deretan kepala
Menjelma pada poster dan baliho
Dengan ragam wajah senyum penuh kepalsuan



Ketika langit tak pernah terasa siang
Banyak orang mencoba membingkai masa lalu
Merangkai waktu dengan tetes tetes hujan
Menyulamnya dengan segenap ingatan
Berharap menjadi sebuah peta menuju rumah tuhan


Ketika waktu terlepas dari tangkai musim yang berlalu
Aku melihat
Perempuan perempuan menggantungkan nasibnya
Pada embun di ujung daun
Di kesunyian dini hari
Dalam ranting hidup yang dingin dan rapuh


Februari ….. Februari
Kau lingkarkan bahumu pada kenangan yang beku
Jalanan lengang basah
Dan pohon pohon yang menyimpan kuncup bunga
Agar bermekaran di sepanjang nafas dunia









Madiun, 14 Februari 2013
Arif Gumantia



Kamis, 07 Februari 2013

Esai Ironis dan kenyataan Historis dalam Novel "Air Mata Terakhir Bunda" karya Kirana Kejora


Jangan pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!

Demikian prolog dari Novel “air mata terakhir bunda” karya Kirana Kejora, Novelis Kelahiran Ngawi Jawa Timur. Sebuah kalimat yang membuat pembacanya diajak untuk melayang menggapai bintang-bintang optimisme dalam hidup yang penuh dengan Jalinan  asing dan rahasia. Sebuah Novel dengan tokoh sentral Delta santoso, nama yang diberikan ibunya, karena ayahnya pergi begitu saja tergoda oleh perempuan lain, saat Delta berusia lima bulan dalam kandungan. Nama yang berarti lahir di kota Delta, sidoarjo, dan diharapkan menjadi manusia yang bisa mensentosakan bangsanya.


Secara structural banyak hal yang bisa diangkat dari novel ini, dan bagi saya dapat ditarik benang merah, ada tiga hal yang menarik saat membaca dan mengapresiasi Novel ini. Yang pertama adalah tema yang dicoba diangkat dalam kisah novel ini, kepedihan yang menghimpit dalam kemiskinan hidup karena adanya peristiwa Lumpur lapindo, dan harapan-harapan yang coba disusun kembali dengan usaha keras dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Yang kedua adalah penokohan. Sebagaimana dalam novel akan menjadi menarik, jika penulis bisa menggambarkan perubahan karakter sang tokoh karena pengaruh perkembangan usia, pengaruh lingkungan keluarga, juga kondisi sosio grafis. Atau dalam istilah sastra sebagai proses karakterisasi dalam novel.

Yang ketiga adalah Plot atau tehnik penceritaan dengan menggunakan alur cerita yang disusun bolak balik, antara masa lalu dan kini. Bisa menciptakan semacam lorong  yang berputar, bisa menyergap emosi pembaca dan mengaduknya hingga pembaca penasaran untuk segera menuntaskan endingnya. Dimana bagian awal dan akhir novel bisa menjadi semacam “chemistry” dari novelnya.



Novel yang tanpa banyak menggurui. Penulisnya tidak memberikan sebuah kesimpulan-kesimpulan tapi justru menghujamkan rentetan pertanyaan-pertanyaan , memberikan sebuah ruang yang terbuka untuk kontemplasi pembacanya. pembaca diajak untuk menyaksikan sebuah lanskap, yang merupakan representasi dari sebuah kehidupan nyata.


Dalam Novel Air mata terakhir bunda Kirana Kejora menuliskannya dengan gaya bahasa yang mengalir, dengan sentuhan beberapa ironi yang memaparkan sebuah tatanan soaial yang timpang, jurang antara kaya dan miskin, sebuah kondisi  social yang serupa kabut pagi, buram tapi selalu ada harapan untuk cerah mentari. Kirana menawarkan cerita yang kontemplatif sekaligus imajinatif.

Delta Santoso, kakaknya bernama iqbal, ibunya yang bernama sriyani, dan calon istri Delta bernama Lauren, dengan tokoh-tokoh ini pembaca diajak menyaksikan lanskap kehidupan kota sidoarjo yang sebagian tenggelam oleh Lumpur lapindo. Kirana tidak memberikan sebuah penghakiman pada peristiwa Lumpur lapindo ini, hanya beberapa halaman yang menggambarkan kejadian ini, tapi dialog  dan penggambaran emosi para tokohnya bisa dirasakan oleh pembacanya, juga konsekuensi-konsekuensi dari peristiwa tersebut, baik secara material maupun  social budaya.


Desa renokenongo, termasuk desa yang hilang terendam Lumpur. Sebuah makam sederhana yang akan delta bangun itu telah tiada. Entah kini berada di titik mana, tak jelas pandangan mata melihat keberdaaannnya. Semua telah tenggelam, membumi dengan hadirnya gelombang Lumpur raksasa tiada duga. (makan Lumpur, halaman 167). Deskripsi sebuah kepedihan lewat narasi, tentang mereka yang kehilangan tidak hanya rumah, tempat ibadah, sekolah, tapi juga “makam”, sebuah metafora untuk penanda masa lalu.


penderitaan yang ada ditambah  dengan ditinggal dengan pergi oleh suaminya, maka Sriyani (ibu Delta Santoso) harus menghidupi 2 anaknya dengan berjualan lontong kupang, sate kerang petis udang. Hingga anak-anaknya berhasil menyelesaikan sekolahnya di tingkat sarjana. Dengan deskripsi latar yang cermat, juga tradisi-tradisi yang coba dituliskan di novel ini, mulai Delta santoso kecil hingga dewasa, kirana mengajak kita untuk menyaksikan kota sidoarjo dengan atmosfer keindahan sekaligus masalah-masalah yang menyertainya.


Milan Kundera mengatakan Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang. dan didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Prosa"sintesis" sebagai keinginan novelis utk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh. kekuatan sintesis. menyatukan "Esai ironis,narasi novelistis, penggalan otobiografis, kenyataan historis, aliran fantasi" menjadi kesatuan tunggal. hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dlm kesatuan tunggal seperti  bebunyian dari musik polifonis. kesatuan novel tidak harus berasal dari plot, tapi bisa disediakan oleh tema.

Dan Kirana Kejora mencoba menulis prosa sintesis ini, ada esai ironis tentang Lumpur lapindo, narasi novelitis tentang kehidupan tokoh-tokohnya, kenyataan histories dari tradisi masyarakat sebagaimana ada di novel Air mata terakhir bunda, dengan memberikan penggalan kisah “legenda Candi Pari”. Juga aliran fantasi dan imajinasi yang membuat pembacanya membayangkan apa yang sedang terjadi dan dirasakan tokoh-tokohnya.

Dalam konteks mengusung inovasi estetis, novel ini tidak merupakan sebuah novel pembaharuan estetis. Tetapi dengan gaya bercerita yang filmis, mengalir, dan lincah menujukkan kepiawaian pengarangnya yang sudah lama malang melintang di dunia tulis menulis. Kirana juga cermat dalam detail yang mengingatkan saya pada gaya John Steinbeck. Juga kecermatan menempatkan maksud dari judul air mata terakhir bunda di ending cerita membuat pembaca diajak “melambung dan terhenyak”.


Saya memberikan apresiasi yang tinggi pada Novel Air mata terakhir bunda Kirana kejora ini., yang  akan segera dapat kita nikmati Versi layer lebarnya, dengan Happy Salma yang berperan menjadi Sriani. Semoga  Novel ini dapat menambah Khasanah Kesusasteraan Indonesia , agar semakin Hidup dan semakin menyebar di seluruh Negeri Ini.





Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun