Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Senin, 20 Desember 2010

Gus Durku, Gus Durmu, dan Gus Dur kita.(dari Forum silaturahmi Gus DuR-ian di Jombang tgl. 19/12/2010)


Tanpa terasa, sudah satu tahun sejak Al-Maghfurlah Gus Dur wafat meninggalkan bangsa Indonesia. Gus Dur mewariskan kepada anak-anak biologis dan ideologisnya sebuah jejak perjuangan yang kuat. Sejarah mencatat banyaknya elemen-elemen masyarakat yang berkomitmen untuk melanjutkan pemikiran, nilai-nilai dan perjuangan Gus Dur, yang dirintis di dunia kita dan masyarakat kita masing-masing.



Dan setahun ini dapat kita saksikan kondisi Indonesia yang semakin semrawut dan tidak jelas ke mana arah tujuan bangsa ini. Saat-saat seperti inilah kita semua begitu merindukan sosok Gus Dur, yang seluruh hidupnya berjuang dan berjuang untuk negeri ini, agar menjadi negeri yang makmur dengan kehidupan bangsa yang selalu berlandaskan kedaulatan hukum, demokrasi, dan Pluralisme.



Dapat juga kita saksikan semakin tajamnya konflik-konflik horizontal di masyarakat karena mengutamakan kepentingan kelompok dan politik uang, seperti yang dilakukan islam radikal seperti FPI. Semakin kita merindukan sosok beliau, yang memperjuangkan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebhinnekaan dan hak asasi manusia yang terus diperjuangkannya. Dengan kondisi yang seperti ini terlihat semakin ada relevansi antara pemikiran-pemikiran Beliau dengan kondisi kekinian bangsa ini.



Di berbagai kota telah bermunculan komunitas-komunitas GUSDURian, tempat berhimpunnya para penerus pemikiran-pemikiran Gus Dur secara informal. Dan merupakan sebuah hal yang menggembirakan dan sangat berpotensi untuk menyemaikan dan meneruskan perjuangan Gus Dur.



Oleh karena sekali, saya sangat bersyukur bisa menghadiri acara silaturahmi Forum Jaringan GUSDURian, bersama teman-teman jaringan GUSDURian yang di adakan di jombang pada hari minggu kemarin tanggal 19-12-2010 mulai jam 08 sampai jam 16.00. dengan agenda Sharing, Networking & Strategizing. acara yang dipinpim langsung oleh Putri Pertama Gus Dur Alissa wahid, dan juga dihadiri adik-adiknya Anita Wahid, dan inayah Wahid. Sedangkan Yenny Wahid tidak bisa hadir karena ada acara koordinasi di Kediri



Alhamdulillah acara yang diadakan dengan penuh humor ala Gus Dur ini, bisa menghasilkan langkah-langkah yang kongkrit dalam memperjuangkan pemikiran-pemikiran Gus Dur. Selain membangun sinergi yang menghubungkan jaringan GUSDURian di seluruh dunia. Juga dideklarasikan bahwa GusDuRian adalah komunitas yang egaliter dan inklusif. Bukan sebuah komunitas yang eksklusif, karena Gus Dur adalah milik semua. Gus Dur adalah milik semesta.



Ada banyak identifikasi masalah yang berhasil kita urai bersama dan akan segera ditindak lanjuti dengan langkah-langkah yang nyata. Seperti kita ketahui hanya Gus Dus lah Presiden yang berani head to head dengan kekerasan yang dilakukan FPI. Sedangkan Presiden selanjutnya hanya ber-retorika untuk pencitraan tanpa ada tindakan nyata. Karena sang Presiden tak ingin kehilangan dukungan dari islam garis kanan. Maka secara terang-terangan Gus DuRian akan segera melakukan tindakan-tindakan hukum jika FPI melakukan kekerasan.



Juga untuk memperkuat ekonomi rakyat, maka kita semua akan mengawal program-program pemerintah yang dalam taraf Konsep pro-rakya dan pro-poor, tapi sering terjadi distorsi di tingkat implementasi. Seperti isu ramainya pembahasan RPP tembakau, agar ada win-win solution, jangan sampai ratusan ribu buruh dan pegawai pabrik rokok terjadi PHK massal. Pembebasan lahan Jalan Tol Trans-Jawa Selain itu juga adanya isu warung-warung kecil akan kena Pajak penghasilan 10 % dari Omzet. Hal ini akan menjadi konsentrasi kita, jangan sampai pengusaha kecil yang sudah “mbrebes mili” semakin “ajur mumur”.



Dibidang peribadatan juga masih terlihat diskriminasi dalam pendirian tempat Ibadah, dan penyegelan tempat ibadah yang dilakukan oleh FPI. Hal ini tentunya tidak bisa kita biarkan, karena bertentangan dengan pasal Kebebasan Beragama dan Beribadah di UUD 1945. di bidang program-program pemerintah pun demikian banyak program-program pemerintah yang hanya dinikmati oleh saudara, teman, atau para kader partai dimana sang menteri tersebut berasal.



Hal-hal demikian inilah membuat kita semua semakin rindu pada sosok Gus Dur. Dan bagi teman-teman semua yang ingin bergabung dengan GusDuRian secara online, bisa mendaftar ke http://www.gusdurian.net/ dan mari kita perjuangkan pemikiran beliau bersama-sama.

GUS DUR..i miss you..i love you…PUolllllll.















Arif Gumantia

Koordinator GusDuRian Wilayah Madiun.



Selasa, 02 November 2010

Langkah, Dua kuntum Cinta, Gerimis malam, Tukang Bunga dan burung Gagak (Kumpulan Cerpen 4 Cerpenis)


Sangat bisa kita pahami, kenapa begitu banyak orang menyukai cerpen, mulai dari anak-anak, remaja, sampai dewasa. Karena Cerpen bisa menjadi semacam sebuah liputan kamera, pembaca dibawa untuk menyaksikan sebuah lanskap, adegan, tokoh, konflik dari luar. Dan kadang ada pertautan antara cerita dan kisah yang di alami pembaca, atau bisa dikatakan cerpen bisa mempertautkan antara pembaca dan sebuah kenangan.

Begitu juga saat membaca buku Kumpulan cerpen dari 4 cerpenis indonesia yaitu : Agnes Majestika, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie, dan Ryana Mustamin. Cerpen-cerpen yang dimasukkan dalam buku ini juga sebagian besar sudah dimuat di media cetak, baik surat kabar harian, maupun majalah. Kompas, Femina, Anita cemerlang, Horison, dll. Sehingga cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini begitu memikat. Cerpen-cerpennya sebagian besar seperti puisi yang punya banyak makna untuk ditafsirkan.

Agnes Majestika, Dokter Hewan lulusan IPB dan Pascasarjana UGM, sekarang bekerja sebagai PNS di Dinas Peternakan Bengkulu, hadir dengan 4 buah Cerpen : Calon adik untuk Bhy, Istri, Langkah, dan Alibi. Dalam calon adik untuk Bhy, tema yang diambil sungguh menarik dan futuristik. Merancang sebuah bayi lewat komputer. Cerpen “istri” adalah deskripsi tentang sifat seorang Laki-laki. Penceritaan dengan sudut pandang si “laki-laki” cukup menarik untuk diikuti. Laki-laki yang sering bersifat jantan, tetapi juga punya sifat rapuh dan terpaksa. Cerpen “Langkah” terlihat Agnes Piawai dalam detail. Terutama saat bercerita tentang desa dan peternakan. Sedangkan cerpen “alibi” membongkar habis sifat Cemburu kaum laki-laki yang kadang tidak mau diakuinya.

Kunia Effendi, sastrawan yang sudah tidak asing lagi, beberapa kali diundang untuk perhelatan sastra dan sudah begitu banyak buku yang diterbitkan. Alumni FSRD ITB ini hadir dengan 4 cerpennya : “ Ikebana Bagi Calon Mama, Dua Kuntum Cinta, Pojok Kafe Simpang Lima, dan terompet. Dalam cerpen-cerpennya banyak permainan emosi dan pergolakan bathin tokoh yang dapat kita terka melalui deskripsi perasaan dan pikiran tokohnya. Juga kutipan-kutipan dari syair Leo Kristi bisa menyatu dengan cerita dan menghadirkan pesona nuansa puitis.

Pada “Ikebana bagi calon mama” sebuah cerita tentang kepedihan dalam perjalanan hidup manusia, tentang misteri kematian. Siap-siap bagi pembaca untuk mengusap air mata yang mungkin menetes, saat membaca ending cerita. “dengan simfoni kutegak melangkah, dengan dirimu di hati ini” syair lagu serenada pagi 1971 Leo Kristi menghiasi cerpen kedua :Dua kuntum cinta” . sebuah kisah cinta yang membuat pembaca bisa mempertautkan antara dirinya dengan kenangan yang pernah terjadi di masa lalu. Cerpen ketiga “pojok simpang lima’ membuat kita seakan menikmati sebuah Puisi yang panjang. Karena deretan kalimat-kalimatnya begitu puitis dan kaya makna. Dan cerpen terakhir “Terompet” yang pernah dimuat di majalah Horison, maret 2005 adalah cerpen dengan tema kemeriahan Tahun Baru yang begitu memukau dalam detail suasana dan ending yang cukup menghentak.

Kurniawan Junaedhie, pernah menjadi redaktur di beberapa majalah kelompok kompas-gramedia, penulis sejak 1974 di berbagai media massa, kumpulan buku Puisinya adalah Cinta seekor singa. Juga hadir dengan 4 buah Cerpen Tukang Bunga dan Burung gagak, Opera Asmara, Sepatu Elvis, Kenangan Keluarga. Menurut Kurniawan, untuk mengarang cerpen dibutuhkan kesabaran. Kesabaran untuk mengamati, merenungkan, kemudian mengungkapkan dalam bahasa.

Saya suka sekali membaca cerpen “Tukang Bunga dan Burung gagak’ yang bercerita dengan tema Mitos Burung gagak dan kematian. Dengan narasi yang memikat kita bisa betah membaca alur kalimatnya sampai di akhir cerita. Pembaca diundang untuk mengais makna dan menyimpulkan pesan yang ada dalam cerita. Opera Asmara bercerita tentang sesuatu yang sering kita lihat di realitas media, Pejabat yang kelihatan santun dan berwibawa ternyata mempunyai “wanita simpanan’. Cerpen “sepatu Elvis” membuat pembaca bisa tersenyum atas kehebohan karena sebuah sepatu. Tema yang jenaka dan menarik. “Kenangan Keluarga’ cerpen keempat yang membuat Pembaca menjadi merenung begitu banyak sebenarnya ruang rahasiai yg tersimpan dalam keluarga. Dan saat kita mengetahuinya diperlukan sebuah Kebijakan untuk mengungkapkannya atau tidak.

Dan Cerpenis Terakhir adalah Ryana Mustamin, Head Corporate Communications of AJB Bumiputera 1912. alumni magister manajemen komunikasi universitas indonesia, menulis cerita pertama kali saat duduk di kelas 5 SD. Dan cerpen-cerpennya sudah tersebar di berbagai majalah. Sebagai wanita karir Opini dan Esainya tersebar di berbagai Media massa seperti Tempo, Kompas, dan Majalah InfoBank. Mbak ana, begitu biasanya saya memanggilnya, menghadirkan 4 cerpen Dahaga, Gerimis malam, Tenriawaru, Dan Napak Tilas. Menurut Mbak ana semua cerpennya lahir tanpa Pretensi, lahir bukan dalam rangka ini atau itu. Hanya semata-mata karena ingin menulis.

Cerpen Dahaga menyergap kita sejak awal cerita, tentang sebuah sosok misterius yang tiba-tiba hadir dalam keseharian seseorang. Sebuah sosok yang imanjinatif , yang sering mengajak untuk beradu argumentasi, saat kita mempunyai sebuah hasrat. sosok yang pada ending cerita kita akan menemukan siapa dia sebenarnya. Dalam gerimis malam kisah yang dihadirkan adalah sebagian kisah yang dialami wanita, tentang kebencian seorang wanita terhadap laki-laki akibat luka yang digoreskannya. Cerita dari sudut pandang seorang wanita. Dalam Tenriawaru mbak ana bercerita tentang sebuah gaya hidup, gaya hidup yang sebagian ada di sekitar kita. Hidup bersama tanpa menikah. Di sini justru menarik, karena cerpenis tidak berusaha untuk menggurui, cerpenis bukan pencerita yang sedang berkhotbah. Hanya menuliskan dalam sebuah cerita, pembacalah yang punya hak menilai dan menyimpulkannya. Dalam cerpen terakhir napak tilas ada kisah tentang misteri dan trauma yang membayangi sebuah kecelakaan kereta. Permainan kalimat yang meluncur membuat kita seakan masuk dalam cerita dan hidup dalam sebuah trauma yang menghimpit.

Beruntung sekali saya dapat membaca cerpen-cerpen ini, cerpen yang ditulis di tahun 1984 sampai 2009. kisah-kisah yang inspiratif. Kisah-kisah yang kadang kita rasakan bukan sebagai sebuah Fiksi tapi sebuah kenyataan. Semoga buku ini bisa memberikan semangat bagi penulis- penulis lainnya, dan juga memberikan kontribusi yang Positif Bagi Sastra Indonesia. Bravo Sastra Indonesia!




Arif Gumantia
Penggemar Cerpen dan penggemar nasi pecel.
http://kalbukita.blogspot.com


*terima kasih Buat mbak ana atas kiriman Bukunya.
*Bagi yang berminat, silahkan kontak langsung dengan Mbak ana Mustamin yang saya tag di note ini, atau Langsung Ke Gramedia.

Senin, 23 Agustus 2010

Milan Kundera, Novel, dan tawa malaikat-tawa iblis

Milan Kundera lahir di Brno, Cekoslowakia tahun1929. memasuki Partai Komunis Ceko tepat setelah perang dunia II. Kemudian keluarsetelah insiden Februari 1948 (Pengambil alihan Praha). Menjadi Profesor diPrague Institute for advanced cinematographic studies. Kumpulan ceritanyaLaughable Loves dicetak di praha, 1968, juga Novel pertamanya The Joke.

Setelah invasi rusia agustus 1968,dia kehilangan pekerjaannya dan buku-2nya dicekal. Tahun 1975 bersama istrinyaia menetap di prancis. Menanggapi terbitnya novel "The Book of laughter andForgetting" pemerintah ceko mencabut kewarganegaraannya. Novel-2 lainnya ygdilarang terbit adalah Life is Elsewhere dan The Farewell Party.



Berikut hasil rangkuman daripernyataan Milan Kundera saat diwawancarai Philip Roth, tentang Novelnya "kitablupa dan gelak tawa" (The Book of Laughter and Forgetting) dan pernah dimuat diharian Riau Pos, Januari 1997.

Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang yg didasarkan pada permainan dg tokoh-2 yang diciptakan.

Prosa"sintesis" sbg keinginan novelis utk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yg paling penuh.

kekuatan sintesis menyatukan "Esai ironis,narasi novelistis,penggalan otobiografis,kenyataan historis,aliran fantasi" menjadi kesatuan tunggal.



hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dlm kesatuan tunggal spt bebunyian dr musik polifonis.

kesatuan novel tdk harus berasal dari plot, tp bisa disediakan oleh tema, seperti novel saya, ada 2 tema, gelak tawa dan lupa.

saya mempelajari nilai humor selama masa teror stalin. . saya bisa mengenali stalinis atau bukan dari caranya tersenyum.

Rasa Humor adlh tanda pengenal yg layak dipercayai, saya takut pd dunia yg kehilangan rasa humornya.

dalam kitab lupa dan gelak tawa ada 2 tema, yg pertama adlh perjuangan terberat kita adalah perjuangan melawan lupa .

yang kedua adlh tentang gelak tawa malaikat dan gelak tawa iblis.



Iblis tertawa karena dunia Tuhan tampak tak berarti baginya, malaikat tertawa karena segala sesuatunya dlm dunia Tuhan memiliki arti .

hingga kehidupan manusia itu dibatasi oleh 2 jurang: fanatisisme di satu sisi,dan skeptisisme absolut disisi lain.

orang senang mengatakan bhw revolusi itu indah, hanya teror yg muncul darinya yg jahat, itu tidaklah benar.Yang jahat mmg sudah ada dalam yg indah, neraka memang sudah terdapat dalam impian mengenai surga.



dan kalau kita ingin memahami esensi neraka kita harus meneliti esensi surga yang melahirkannya.

dan Lupa merupakan sebentuk kematian yang hadir dalam kehidupan, yg juga merupakan masalah besar dlm politik.

Bangsa yg kehilangan kesadaran akan masa lalunya perlahan-lahan akan kehilangan dirinya .

Peristiwa dasar di novel Kitab Lupa dan gelak tawa adlh cerita ttg Totaliratianisme.



Totalitarianisme melepaskan orang dari memori dan karenanya menjatuhkan mereka ke dalam bangsa anak-anak.

Novelis mengajari pembacanya untuk memahami dunia sebagai sebuah pertanyaan, ada kebijaksanaan dan toleransi dlm hal ini.

dalam dunia yang dibangun di atas kepastian-2 keramat, novel menjadi mati

orang-2 jaman sekarang lebih suka mengadili ketimbang memahami, menjawab ketimbang bertanya.

dan suara Novel hampir tak bisa didengar di tengah-2 ketololan keyakinan manusia yg hiruk pikuk.



Rabu, 18 Agustus 2010

Ucapan Ulang tahun buat ku dari Penyair AFrizal Anoda

Sahabat, begitu kau bangun pagi hari ini, terputus sudah jarak kaudengan hari kemarin. Tapi ada yang mesti tetap kau lanjutkan, karenatugas itu sudah dibebankan padamu sejak kau dilahirkan ke alam fana ini,yaitu jalan lurus yang dibangun Ibumu untuk kau lalui. Jalan itu takboleh sedikit pun melengkung apalagi berbelok. Ujung jalan itu ada padaayunan langkah yang kau rancang setiap bangun pagi. Dan pada hari ini,ketika kau bangun lagi dari tidurmu, pengerjaan jalan itu masih harusdilanjutkan. Itu amanah dari Ibumu, agar di ujung jalan itu nanti adadua tangan yang terbuka menerima kedatanganmu. Siapkah kau melanjutkan?Atau tetap terkurung pada mimpi semalam? Betul, hari ini ada api lilinyang kau tiup sebagai tanda selamat tinggal hari kemarin. Kau punmenerima ucapan selamat memasuki usia baru. Namun, yang lebih penting,bukan usia yang bertambah, tapi jalan yang sudah dibangun Ibumu itu,masihkah tetap lurus? Ulang tahun hanya batu kilometer, dan berapa batulagi yang akan kau tancapkan di jalan itu, hanya kau yang tahu. Jadinikmatilah amanah itu, nikmati usia, dan bergembiralah pada hari jadikau ini bila jalan itu masih tetap lurus dan masih terus dalampengerjaan.



16/08/2010

Afrizal Anoda

Senin, 19 Juli 2010

"Kolecer Dan Hari Raya Hantu". 20 Cerita Pendek Kearifan lokal.


Benedict Anderson mengatakan sebuah negara adalah sebuah komunitas yang diangankan. Dimana komunitas yang diangankan tersebut terbentuk dari komunitas-komunitas dari berbagai suku, agama, ras, etnis, dan budaya. Sebuah keragaman yang penuh warna-warni dan pesona. Begitu juga kumpulan cerita Pendek “Kolecer dan Hari Raya Hantu” ini. Berisi kisah-kisah yang beragam yang digali oleh para penulisnya, kisah-kisah dengan ragam budaya lokal, kisah-kisah yang diangkat berdasarkan pengamatan atas tradisi, mitos, dan fakta yang ada.

“20 Cerita Pendek Kearifan Lokal” ini adalah karya kolektif dari 11 penulis, yang terdiri dari Benny Arnas, Cesillia Ces, Gunawan Maryanto, Hanna Fransisca, Khrisna Pabichara, Nenden lilis A, Noena Fadzila, Oka Rusmini, Sastri Bakry, Sutan Iwan Soekri Munaf, dan Saut Poltak Tambunan. Cerpen-cerpen yang ada adalah sebuah cerpen yang kaya nuansa dan makna. Dengan berbagai sudut pandang yang diambil penulisnya. Cerpen-cerpen yang diangkat dari tradisi, mitos, dan juga potret sebuah realitas, tanpa ada keinginan untuk menggurui, tanpa ada pretensi untuk berkhotbah. Pembaca bisa menarik berbagai kesimpulan lewat Tokoh, latar, alur, maupun tema cerita-ceritanya. Disinilah justru cerpen akan menjadi memikat. Seperti mengikuti liputan sebuah kamera, pembaca dibawa untuk menyaksikan lanskap, adegan, dan tokoh. Perasaaan, pikiran, permainan emosi dan pergolakan batin dapat kita terka dari kalimat dan tindakan para tokoh yang mengisi dunia fiksi para penulis. Watak dan alur tokoh, juga konflik adalah “diperagakan” bukan diuraikan. Disinilah justru pembaca mempunyai ruang yang luas untuk mencoba menginterpretasikan muatan moral yang ingin disampaikan para penulisnya.

Benny Arnas (Lubuk Linggau-Sumsel) dengan 3 buah cerpennya “Anak Ibu Yang Kembali”, “Tujuh”, dan “Tukang cerita”. Pada “Anak Ibu Yang Kembali”, merupakan Cerpen yang mempertanyakan tentang problem budaya. Antara budaya sebuah daerah yang mengagungkan anak Perempuan, tapi ada juga daerah yang mengagungkan anak laki-laki, dan menggali konflik dari tema tersebut. “Tujuh” menceritakan tetang mitos (yang kadang bisa menjadi “fakta”) Tukang tenung. Yang saya rasa dimanapun daerah-nya pasti punya mitos seperti ini, dengan nama yang lain. Dan “Tukang Cerita” Benny mencoba mengangkat tema Tukang Cerita, sebuah cerita tentang pendongeng yang semakin lama semakin hilang di era media cetak dan media audio visual saat ini. Cerita yang memikat dengan ending yang menyisakan misteri.

Cesillia Ces (Bali) menulis cerpen dengan tema perbedaan yang coba disatukan lewat cinta 2 anak manusia. Kisah cinta antara Bali dan Balige-Toba Samosir. Dan keduanya harus berbenturan dengan akar tradisi dan budaya masing-masing.
Gunawan Maryanto (Djogdjakarta) menghadirkan 2 buah cerpen “ Arya Mangkunegara” dan “Sarpakenaka”. “Arya Mangkunegara” dengan setting Jawa Tengah Tempo Dulu, Raja, tumenggung, Patih, dan keratonnya bercerita dengan narasi yang puitis tentang cinta, dendam, fitnah, intrik, dan pembunuhan. Yang menurut saya tema-tema tersebut tetap relevan sampai sekarang. Sedangkan Cerpen “Sarpakenaka” dengan latar peristiwa tahun 1965, sungguh menggedor, dan menyergap perasaan kita. Mencabik-cabik jiwa kita. Sebuah cerita tentang Wayang Kulit Sarpakenaka yang terbuat dari kulit manusia korban pembantaian Tahun 1965. sebuah cerita yang suram dan Gelap. Seperti melihat film dengan genre “Noir”.

Hanna Fransisca (Singkawang-Kalbar) menulis cerpen-cerpennya bak Puisi yang kaya Makna. “Hari Raya Hantu” dan “Sembahyang Makan Malam”. Cerita dengan alur yang mengalir indah untuk kita nikmati. Dengan metafora dan alegori hanna mencoba memberikan sebuah gambaran tentang budaya leluhurnya. Pengamatan, pengalaman, pemahamannya akan budaya leluhurnya juga kemampuannya membuat citraan dengan menulisnya dalam sebuah cerpen, patut kita beri apresiasi tinggi. Saya merasa disinilah kekuatan Hanna. Dengan gaya penulisan yang memancing imajinasi pembaca, sehingga kritikpun tetap terasa halus dan menggoda. Seperti Dalam “Hari Raya Hantu” yang membingkai disparitas antara kaya-miskin dalam kisah Perayaan hari raya Hantu. Juga dalam “Sembahyang Makan Malam” yang mempertanyakan sebuah makna kebahagiaan, tentang harta yang cukup tapi selalu didera kesepian. “Bunyi petasan yang diyakini dapat mengusir roh-roh jahat, kini meletup di dadanya seperti balon udara yang terbakar.” Mambaca kalimat ini, kita terasa hidup dalam kesepian yang menghimpit.

Khrisna Pabichara (Sulawesi Selatan), hadir dengan 3 Cerpennya. Cerita yang diangkat dari tradisi dan Mitos daerah sulawesi selatan ini membuat kita menjadi semakin mencintai keberagaman yang ada di negeri ini. “Laduka”, “Pembunuh Parakang”, dan “Selasar”. “Laduka” yang berkisah tentang tema Kerinduan akan Pulang. Kerinduan seorang Perantau. “Pembunuh Parakang” menelanjangi kita semua tentang intrik dan dendam dalam balutan mitos daerah leluhurnya.. Sebuah cerpen yang baik untuk intropeksi diri kita, bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna. Dan kepiawaian bertutur Khrisna juga kita temukan pada “selasar”, cerita cinta yang sampai kapanpun akan tetap menarik untuk digali.

Nenden Lilis (Bandung) menulis 2 cerita Pendek yang merupakan potret sosial masyarakat. Potret manusia dengan segala problem kehidupaannya. “Hari Pasar” dan “Kolecer” kedua cerpen ini membuat kita melayang menuju masa kecil kita. Meskipun dengan setting daerah jawa barat, tetapi kisah didalamnya seperti menonton Tukang obat di pasar dan mandi di sungai tentunya akrab dengan masa kecil kita. “Hari Pasar” yang ditulis Nenden Lilis menceritakan tentang Tukang Obat yang suka menipu dengan menampilkan kesaktian yang palsu. Sedang “Kolecer” (kincir angin Khas Parahyangan) memberi ruang bagi kita untuk merenung. Bahwa hidup terus berputar. Sedih, bahagia, tangis, dan tawa akan selalu mengiringi perjalanan hidup kita. Yang dikemas dalam cerita hubungan antara anak perempuan dan bibinya.

Noena Fadzila (BMI Hongkong) seorang buruh migran di Hongkong menghadirkan Cerpen dengan judul “Sri Sumini”. Sebuah kisah yang mengharu biru tentang perjuangan seorang perempuan yang bekerja di Luar negeri dan sering menjadi obyek Eksploitasi para Oknum Majikan dan Penguasa. kisah nasib perempuan yang sering tertindas, sebagaimana larik dalam Puisi Chairil Anwar yang terkenal “Nasib adalah kesunyian masing-masing”

Oka Rusmini (Bali) menulis satu cerpen dengan judul “Pastu”. Kisah tentang problem benturan budaya dengan segala tradisi yang ada terhadap perubahan zaman. Sebuah kisah yang mempertanyakan konsep sebuah perkawinan dalam budaya yang patriarki. Sebagai seorang penulis cerpen yang handal, Oka berhasil mengganggu kesadaran dan pikiran kita tentang pertanyaan-pertanyaan yang dikemas dalam kalimat yang liris juga retoris. Pertanyaan-pertanyaan tentang hak atas tubuh perempuan dalam akar tradisi yang membelitnya.

Sastri Bakry (Padang) dengan cerpennya “Baminantu” merupakan cerita pendek dengan tema tentang penerapan adat dan tradisi, yang sering kita jumpai sering berseberangan dengan Agama. Seperti Tradisi bahwa pihak perempuanlah yang meminang pihak laki-laki sebelum melangsungkan Pernikahan secara adat. Tema inilah yang coba diangkat oleh sastri, hingga memunculkan konflik yang cukup tajam. Bangunan konflik dalam cerpen ini, cukup bagus hingga membuat kita penasaran untuk mengetahui endingnya.

Sutan Iwan Soekri Munaf (Pariaman-Sumatera Barat) lebih dikenal dengan nama Iwan Soekri, sebagai tokoh yang sudah melang melintang di ranah sastra negeri ini, yg juga ikut mendirikan yayasan multimedia sastra dengan Cybersastra.net-nya. Menyuguhkan Cerpen dengan judul “Pak Gubernur belum mendengar cerita ini”. Dengan gaya bahasa yang rancak dan enak dinikmati, khas minang, Iwan mengangkat tema tentang Kepahlawanan. Kepahlawanan kaum albino dalam menghadapi musuh, dengan setting cerita masa lalu, jaman Kerajaan Majapahit yang ingin menaklukkan Kerajaan Minang . Dengan kisah kepahlawanan kaum albino yang sering di pandang sebelah mata ini, membuat kita agar merekontruksi dan meredefinisi makna dari kata “Pahlawan”.

Terakhir Saut Poltak Tambunan (Tapanuli) Penulis Novel, dan Cerpen, yang beberapa Novelnya diangkat ke layar lebar dan sinetron, seperti Hatiku Bukan Pualam, Harga Diri, Dan lainnya. Menulis 3 cerpen untuk Kumpulan Cerpen ini. “Lali Panggora”, “Menunggu Matahari”, dan “Omak”. Kepiawaiannya dalam mengemas sebuah cerita membuat kita seakan larut dalam cerita-cerita yang dibuatnya. Dalam “lali Panggora” kita sejak awal kisah seakan ikut resah menunggu siapa yang akan dijemput kematian. Dengan munculnya “Elang Pengabar”, Elang Bondol yang hampir punah terbang berputar dan tinggi sebagai sebuah penanda akan adanya seorang yang meninggal di kampung tersebut. Elang yang menebarkan keresahan. Ini bisa jadi Mitos, tapi bisa juga sebuah realitas yang ada, realitas yang masih sering kita jumpai, mungkin di daerah kita juga. Mitos dan fakta memang punya batas yang sangat tipis. “Menunggu Matahari” menghadirkan Kisah kekerasan ayah terhadap anaknya. Sebuah metode mendidik kedisiplinan dengan penerapan yang salah. Sebuah cinta kasih ayah terhadap anaknya dengan cara yang salah. Hingga sang anak harus melarikan dari rumah. “Omak” menggali cerita dari kisah kasih seorang Ibu. Kasih yang tak mengenal batas dan balas. Dengan suasana cerita di jaman Pemberorantakan PRRI. Perjuangan seorang Ibu dalam menghidupi keluarganya.

Menulis cerita Pendek Diperlukan keahlian untuk memilih diksi, menciptakan Tokoh, dan juga membangun sebuah konflik batin para tokohnya. Bagaimana memilih diksi yang tepat dan juga ada nilai estetikanya. Sehingga pembaca bisa menikmati gambaran peristiwa, alur cerita yang mengalir, dialog-dialog para tokohnya. Pemilihan diksi yang tepat akan memancing imajinasi pembaca. Hingga kalimat-kalimat yang ada bisa bertransformasi, tidak hanya menjadi makna konseptual tapi juga imajinatif dan penuh religiusitas.

Terbitnya Buku Kumpulan Cerpen “Kolecer dan Hari Raya Hantu” ini patut kita beri apresiasi yang tinggi. Karena menghadirkan cerita dan kisah yang diambil dari kearifan Lokal. Saya yakin seperti yang Ditulis di Epilog, Bang Saut Poltak Tambunan akan juga menerbitkan cerita-cerita yang mengangkat keraifan lokal dari Wilayah Timur Indonesia. Hal ini belum ada di buku ini karena terkendala oleh berbagai keterbatasan teknis saja. Semoga buku kumpulan cerpen ini dapat bermanfaat bagi perkembangan sastra kita. Bravo Sastra Indonesia!




Madiun, 19 Juli 2010
Arif Gumantia
Juru Tulis yang bergiat di ESOK (Emperan Sastra COK) Surabaya.

Kamis, 08 Juli 2010

Tradisi dan akulturasi Budaya

Kata orang, “Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan salah satu caranya adalah dengan belajar pada pengalaman sejarah masa lalu”. Ada sebuah akar tradisi yang sangat penting dalam kebudayaan masyarakat Islam, yang mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan. Yaitu, penyebaran Islam melalui akulturasi agama dan budaya yang dilakukan oleh Wali songo (sembilan wali/sunan).

Ada sebuah akar tradisi yang sangat penting dalam kebudayaan masyarakat Islam, yang mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan agama dan budaya. Yaitu, penyebaran Islam melalui akulturasi budaya yang dilakukan oleh Wali songo (sembilan wali/sunan).

Salah satunya bisa kita lihat pada bangunan Menara Kudus, yang dibangun oleh Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) pada tahun 1949. kalau kita lihat bangunan menara kudus berbentuk bangunan Hindu dengan batu bata yang ditumpuk seperti candi. Bentuk menara yang digunakan untuk syi’ar agama Islam ini mirip dengan candi-candi pada masa Majapahit. Walau Sunan Kudus bisa dianggap cukup kaku dalam penyebaran kepercayaannya dan mendukung formalitas dibandingkan beberapa wali lainnya, namun ia juga masih mempunyai kemauan untuk merangkul unsur-unsur dari agama lain.

Selain itu adalah adanya tradisi Ziarah makam yang sudah mengakar pada masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat Jawa. Menurut Dr. Purwadi, Doktor filsafat lulusan UGM Yogyakarta, ziarah ke makam adalah meneruskan tradisi Hinduisme, yakni upacara Srada. Tradisi ini ada sejak masa pemerintahan hayam wuruk, raja Majapahit sekitar pertengahan abad ke-14. Srada adalah upacara memuliakan leluhur yang sudah meninggal. Dari kata Srada inilah, masyarakat Jawa mengenal “Nyadran” yaitu kegiatan ziarah ke makam leluhur.


Pada Astana Gunung Jati, yaitu Makam Sunan Gunung Jati, tidak adalah beragama Islam, tetapi juga penganut agama Budha dan Konghucu dari etnis Tionghoa. Mereka datang ke kompleks pemakaman untuk Ziarah ke makam Ong Tien, Putri kaisar Hong Gie dari dinasti Ming, yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati. Disediakan tempat khusus untuk tempat peziarah Ong Tien, di sebelah barat serambi depan kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati.

Akulturasi juga ada dalam sebuah ajaran yang di sampaikan Sunan Bonang melalui simbol budaya Jawa. Menurut Sunan Bonang, kita harus berpuasa dengan ikhlas dan hanya mencari ridho Tuhan agar setelah puasa bisa menikmati kupat. “Kupat” adalah makanan khas saat lebaran. Berupa nasi putih yang di masak di dalam janur. “Janur” di sini adalah daun kelapa yang masih muda. Sunan Bonang, yang juga dikenal dengan nama Tionghoa-nya Bon Ang, mengartikan kupat sebagai laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan. Yaitu: Lebar, Lebur, Luber, dan Labur. Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.

Orang yang mendapat “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah orang yang lembut dan santun terhadap sesama umat tetapi sekaligus tegas dan berani melawan ketidak- adilan. Masing-masing diri kitalah yang dapat menentukan apakah kita berpuasa untuk meraih “jatining nur” dan “laku sing papat” ataukah hanya sekedar basa-basi agar tercitrakan sebagai orang yang saleh.

Sedangkan “janur” sendiri diartikan oleh beliau sebagai Jatining Nur, dalam pengertian kalau kita dapat berpuasa dengan penuh keyakinan dan keteguhan sikap (iman) dan penuh perhitungan serta kehati-hatian (ihtisaab) pada bulan syawal kita akan mendapat jatining Nur. Jatining nur inilah yang sejatinya di sebut fitrah. Memperoleh jatining nur berarti telah kembali ke Fitrah. Yang akan ditandai dengan perubahan perilaku dari yang semula tidak baik menjadi baik dan semula baik menjadi lebih baik lagi. Mereka yang kembali ke fitrah dengan “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah mereka yang tawadhu’, jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak orang lain seperti korupsi misalnya, baik korupsi materi maupun korupsi perilaku.


Masih banyak proses-proses akulturasi budaya yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan agama Islam. Misalnya, Sunan Kalijogo lebih banyak menyampaikan nilai-nilai religiusitas dengan menyatukannya dalam pertujunjukan wayang Kulit. Baik cerita Mahabarata maupun Ramayana yang merupakan produk budaya agama Hindu. Dari sini kita dapat belajar dan bercermin bahwa Tradisi telah mengajarkan pada kita semua untuk menghargai perbedaan agama dan budaya. Perbedaan ini justru memperdahsyat kebudayaan dan agama itu sendiri.

Rabu, 30 Juni 2010

Kunci Surga itu ada di Relung Hatimu, Ibu.

Aku ingin meringkuk tidur di sampingmu ibu
Mengupas masa kecilku, bercerita tentang embun yang beranjak dan kaki-kaki gerimis menapaki pagi. Tentang hutan yang masih mengelilingi negeri. tentang aku yang suka mandi di kali dan duduk di pinggirnya sambil membawa tongkat bambu, membayangkan menjadi seorang sunan kalijaga. Tentang aku yang selalu berlari-lari berkejaran dengan azan maghrib di surau, dan selalu ketinggalan al-fatihah di rakaat pertama. Tentang purnama dan kita duduk di bawah pohon mangga, sambil mengajariku menembang ilir-ilir, sebelum aku bermain petak umpet di halaman.

Aku ingin meringkuk tidur disampingmu ibu
Mendengarkan dongeng tentang bawang putih, dan tentang putri cinderella. Dan aku sering membayangkan untuk menelusup masuk ke dalam dongengmu, menjadi sang pangeran bermahkota. Mendengarkan dongeng tentang kancil dan tentang timun mas. Berharap agar aku tahu makna yang dikandungnya, meskipun aku sering terlelap saat dongeng masih di tengah cerita.

Aku ingin meringkuk tidur disampingmu ibu
Mendengarkan cerita tentang ketabahan seorang drupadi yang dijadikan taruhan di meja judi. Tentang gandari yang menutup matanya sepanjang hidup setelah perkawinannya, yang rela tidak melihat cahaya dan butiran mutiara. Tentang keberanian satria muda abimanyu dalam bharata yudha. Tentang nasib yang begitu pedih menimpa Karna, tetapi dia tetap menjadi satria yang setia membela negeri yang menghidupinya.

Aku ingin meringkuk tidur disampingmu ibu
Mendengarkan dengan penuh pesona, tentang agama, tentang Tuhan yang ada di mana-mana. Tuhan yang tidak saja ada di masjid, gereja, vihara dan di menara-menara do’a. Tetapi Tuhan juga ada di diri orang-orang miskin, ada pada tubuh-tubuh kedinginan karena dini hari harus berjalan tanpa alas kaki, menawarkan sayuran keliling desa. Ada pada pemulung yang mengais mimpinya, Dan Tuhan selalu hadir dalam hati nurani kita. Maka aku selalu ingat kata-katamu “Pulanglah pada dirimu, pulanglah pada hati nuranimu”

Aku ingin meringkuk tidur di sampingmu ibu
Sambil aku bercerita tentang kondisi negeri ini. Tentang politisi yang Menawarkan ujung pelangi, agar kami bisa membuat lukisan pagi. Tentang pengusaha yang berjanji memberikan sebongkah purnama, dan tentang pejabat negara yang pidato-pidatonya bagai suara dari surga. Semua berjanji ingin menjadi matahari. Dan engkau mendengarkan sambil tersenyum dan selalu berkata : “itulah tingkah manusia yang sering lupa akan jati dirinya”. Yang lupa bahwa segala macam harta, pangkat, dan jabatan hanyalah sebuah pakaian, yang cepat menjadi usang. Dan yang abadi adalah menebarkan kasih terhadap sesama.

Aku ingin meringkuk tidur di sampingmu ibu
Dan berkata padamu :”aku tahu, kunci surga itu ada di relung hatimu ibu. Denganmu dan hanya denganmu aku bisa membuka dan menapaki taman surga. Tanpamu, aku akan tetap tertahan di daun pintu.”



madiun, 6 juni 2010
Arif Gumantia

Selasa, 08 Juni 2010

Kecerobohan Negara terhadap nasib warganya dalam Buku Puisi "Suatu Cerita dari Negeri Angin" penyair Agus R. Sarjono

Sebuah sajak yang menjadi adalah sebuah dunia. dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh si penyair. Diciptakannya kembali, dibentuknya dari benda (materi) dan rohani, keadaan alam dan penghidupan sekelilingnya, dia juga mendapat bahan dari hasil-2 kesenian lain yang berarti bagi dia, berhubungan djiwa dengan dia, dari pikiran-2 dan pendapat-2 orang lain.
segala yang masuk dalam bayangannya, anasir-2 atau unsur-2 yang sudah ada dijadikannya, dihubungkannya satu sama lain, dikawinkannya menjadi suatu kesatuan yang penuh (indah serta mengharukan) dan baru, suatu dunia baru, dunia kepunyaan penyair itu sendiri.
(Chairil Anwar, Pidato di radio tahun 1946).

Begitu juga sajak-sajak dari Agus R Sarjono (saya lebih suka memanggilnya kang Agus), dalam buku Puisinya “Suatu Cerita dari Negeri Angin” adalah sebuah dunia, dunia yang dijadikan, diciptakan dan dibentuknya dari kenyataan negeri ini, kenyataan di mana hampir sebagian besarnya berpulang pada atau disebabkan oleh urusan penanganan negara yang sangat ceroboh terhadap nasib warganya. Sebuah indonesia yang tak terhindarkan bagi sang Penyair, yang selalu berhubungan dengan jiwanya, yang membuatnya tak bisa berpaling. Karena dimanapun kang Agus berada, meskipun ada di belanda, jerman, perancis, filipina, dan kemanapun menghadapkan pandangan, selalu saja dihadapkan pada wajah negara Indonesia.

Agus R. Sarjono (dan sampai sekarang saya tak pernah tahu, apa kepanjangan dari huruf “R”-nya), adalah salah satu penyair besar negeri ini. Lahir di Bandung, 27 Juli 1963. Bekerja sebagai pengajar pada jurusan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, redaktur Majalah sastra Horison, dan anggota majelis sastra Asia Tenggara. Kang Agus menulis puisi, cerpen, esai, kritik, dan drama. Sebagaimana ditulis oleh Alm. WS Rendra pada kata kalimat pembuka buku puisi ini :” Saya gembira puisi Indonesia, terus ditulis, bagai ombak tak putus-putus, setiap generasi diikuti generasi lainnya. Generasi saya disusul generasi berikutnya, dan berikutnya. Pada Ombak Puisi generasi kini, Agus R. Sarjono-lah puncaknya.”

“Berwacana atau bercakap adalah cara yang dengannya kita mengartikulasikan “secara signifikan” mengada-dalam-dunia.” Tulis Martin Heidegger seorang filsuf dalam karyanya Being and Time. Bagi Heidegger, bercakap-cakap adalah satu aktivitas yang membawa pada penemuan signifikansi keberadaan kita sebagai manusia di dunia. Karena itu percakapan adalah aktivitas yang hampir mustahil dihindari. Demikian juga sajak, bisa menjadi semacam percakapan, antara Penyair dengan pembaca atau penikmat puisinya. Atau antara “kegelisahan jiwa” Penyair dengan “kesadaran” penyair itu sendiri. Bisa juga Percakapan antara “Nurani” dan “realitas yang harus dihadapi” Sebagaimana Percakapan antara “Bedil” dan “tangan” dalam Puisi Kang Agus Yang berjudul :”Airmata Hujan” berikut ini:

…………………………………………………………
Jangan bidikkan aku, raung Bedil. Diam!
Ini bukan persoalan pribadi, hardik Tangan.
Ini masalah politik. Satu dua nyawa
Sebagai taktik. Tapi ini bukan soal angka,
Bukan soal satu dua
Tapi soal ibu meratap kehilangan,
Soal dimusnahkannya satu kehidupan
Soal masa depan manusia yang dibekam. Soal hak….
Tutup mulutmu barang dinas! Kamu hanya alat
Dan jangan berpendapat. Itu urusan politisi di majelis sana.

Perjuangan terberat kita adalah “perjuangan melawan lupa” demikian ungkapan yang terkenal dari Novelis Dunia Milan Kundera. Dan memang demikianlah kenyataannya. Dalam kehidupan kenegaraan kita begitu gampang melupakan sebuah kepedihan dan penderitaan. Kita begitu cepat lupa dengan apa yang dilakukan Rejim ORBA, peristiwa Mei 1998, semburan Lumpur Lapindo, dan sebentar lagi kita juga akan melupakan kasus Gayus. Hal ini juga ada dalam salah satu sajak dari kang Agus yang berjudul “Belajar Menulis Sejarah”

………………………………………………….
Aku ingin menjadi ikan
Pewaris negeri bahari, ucapmu tiba-tiba.
Aku bergegas pergi sambil memejamkan mata
Seperti sejarah, berlari-larian
Ke negeri seribu lupa. Tapi tv-tv bersiap
Membangun sejarah baru, pahlawan-pahlawan baru
Di antara merk-merk rokok, jamu kuat
Dan kembang gula yang dijajakan di antara dada
Dan paha wanita. Katanya
………………………………………..

Bait-bait yang ditulis kang agus , adalah bait-bait yang evokatif. Bait-bait yang “menggugah rasa”. Sehingga sajak-sajaknya berisi kata atau kalimat yang punya Daya Evokasi. Daya Evokasi dalam sajak bisa diartikan secara mudah sebagai sebuah kekuatan dari kata yang di ambil atau kalimat yang dipungut berhasil menggugah rasa dan menjelaskan gagasan dari penyairnya. gagasan yang di maksud bisa juga tema yang ingin di sampaikan oleh penyair. Salah satu sajaknya yang begitu menggugah rasa dan menyergap kesadaran kita adalah ;”Catatan Harian Diam-diam”

Akupun sarapan seperti biasa. Hutan-hutan tropis
Di piring porselin dengan mayonnaise.
Tentu juga steak hangat tubuh-tubuh remaja
Anak sekolah. Tapi tak ada keringat buruh
Dengan es batu di gelas minumku.
Sekarang mereka terlalu pemberang
Hingga keringatnya masam, tak cocok
Untuk lambungku. Aku pun bersiul.

……………………………………………………………

Menurut saya kang Agus Tidak hanya menulis untuk di baca, tetapi juga untuk di dengar, tidak menghidangkan teka-teki tetapi menulis untuk dimengerti. Sebagaimana seperti yang ditulis Intelektual Ignas Kleden, pada buku puisi ini:”Metafor puisi yang dipakainya ternyata juga gejala sosial atau bahkan gejala ekonomi. Tidak lagi diceritakan percakapan burung dan bulan atau awan dan matahari. Tetapi percakapan penuh lambang antara buldozer dan pematang sawah yang harus pergi sebelum fajar pagi.”
Bukan Untuk Kita

……………………………………
Nasib kami yang meranggas, hari-hari yang keras.
Kami kejar dan kami bakar pencuri panci,
Sepeda, dan motor kami. Kami hajar
Dan kami terjang lelaki-lelaki yang mengerling
Gadis-gadis sekolah kami, kami bakari
Rumah-rumah kampung seberang
Karena mencuci kaki di sumur kami.
Maka kami pilih pemimpin-pemimpin
Untuk mendamaikan sengketa kami dan menghukum
Semua pencuri dan perusak ladang kami..
Para petinggi itu pun menghilang dari tengah kami
Kami dengar mereka berpesta di hotel-hotel
Mewah sambil tertawa-tawa membuat lelucon
Tentang kami.
………………………………..
Pencuri-pencuri raksasa yang merampok seluruh
Masa depan kami dipersilahkan mencuci tangan
Dengan air mata kami. Maka kami pun mengerti
Basa-basi reformasi sekarang ini.
Dan proklamasi merdeka dulu itu,
Semuanya memang bukan
Untuk kita.



Secara keseluruhan sajak-sajak dalam puisi kang Agus ini, sangat memikat, untuk kita baca, kita nikmati, kita apresiasi, dan kita mengerti. Seperti apa yang dikatakan kang Agus dalam wawancara dengan Linde Voute :”Lewat sajak, saya justru ingin belajar dan bukan mengajar, ingin bertanya dan bukan menjawab, dan sesekali menangis atau berduka bersama orang-orang pinggiran di berbagai pelosok negeri saya yang tidak punya massa, tidak punya kekuasaan, tidak punya harta, tidak punya partai, dan terus menerus dibisukan”. Saya sangat setuju dengan hal ini, Sajak-sajak justru menemukan pengertiannya saat begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit kesadaran kita. Semoga ketekunan dan konsistensi dari kang Agus dalam berkecimpung di dunia sastra, semakin membuat kita-kita para generasi selanjutnya semakin bersemangat dalam menggairahkan sastra Indonesia. BRAVO SASTRA INDONESIA.

Lalu orang-orang palsu
Meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
Gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
Dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
Demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
Dan palsu. (Sajak Palsu)




Madiun, 9 Juni 2010
Arif Gumantia
Penggemar Puisi dan penggemar nasi pecel
Juru Tulis dari Komunitas ESOK (Emperan Sastra COK…Surabaya)


Judul Buku : Suatu Cerita dari Negeri Angin
Penyair : Agus R Sarjono
Penerbit : Komodo Books
Jl. Permata IV A1/4 Kompleks Permata Puri I,
Cimanggis Depok Indonesia.
Telp. 021-8730205
Cetakan pertama, 2002
Cetakan kedua, 2006
Cetakan ketiga, 2010.

Rabu, 26 Mei 2010

"Bu Guru Yang Sexy, Cinta, Dan Lompatan Mimpi VAN HALEN"


“banyak orang berpikir bahwa lagu tanpa bernyanyi bukanlah sebuah lagu. Katakan hal itu pada Beethoven dan dia akan menghajarmu”

Itu adalah kalimat yang sering diucapkan oleh legenda gitar dunia Edward Lodewijk “Eddie” Van Halen. Atau sering di panggil Eddie Van Halen. Lahir di belanda 26 januari 1955. dan pada tahun 1962 keluarganya pindah ke Pasadena Amerika serikat hanya dengan $15 dan sebuah piano. Saat berusia 6 tahun dia dan kakaknya alex van halen sudah mengikuti latihan piano. Menginjak dewasa Eddie merasa bosan bermain di depan meja piano, lalu dia membeli drum kit dan berlatih drum. Sebaliknya kakaknya alex lebih memilih memainkan gitar. Akhirnya mereka bertukar instrument saat Eddie melihat Alex jauh lebih berbakat memainkan drum. Dan tepatlah insting Eddie van halen, begitu dia memfokuskan dengan berlatih memetik gitar, maka pada usia 14 tahun sudah bias menguasai semua solo gitar lagu Eric Clapton di Cream.

“berlatih, aku biasa duduk di pinggir tempat tidurku dengan 6 kaleng Schlitz malt. Kakakku akan pergi jam 7 malam ke pesta dan tidur bersama cewek-cewek. Saat dia pulang jam 3 pagi, aku masih duduk di tempat yang sama, bermain gitar, aku melakukannya selama bertahun-tahun, aku masih melakukannya.”

Van Halen band dibentuk di Pasadena , California pada 1972 . Mereka telah menikmati kesuksesan berskala besar sejak rilis album debut mereka Van Halen , (1978)., Pada tahun 2007, Van Halen telah menjual 80.000.000 album di seluruh dunia, [1] dan telah memiliki paling banyak nomor satu hits di Billboard Mainstream Rock . Menurut Asosiasi Industri Rekaman Amerika , Van Halen adalah band terlaris 19 / artis sepanjang masa dengan penjualan lebih dari 56.000.000 album di Amerika Serikat.
Pertama kali dibentuk dengan formasi Eddie sebagai vokalis dan gitaris, alex sebagai drummer, dan mark stones sebagai bassis. Dan namanya grupnya Mammoth. Saat david lee roth masuk sebagai vokalis, dan posisi bassis digantikan Michael Anthony, maka namanya diubah menjadi Van Halen, seperti usulan dari David Lee Roth.

Keberuntungannya mulai muncul saat Van Halen manggung di Starwood. Biarpun penampilannya sepi penonton karena hujan deras, Ted Templeman terkagum-kagum melihat penampilan mereka dan langsung menawarkan menjadi produsernya di album pertama : Van Halen di tahun 1978. Dengan lagu-lagu Hit ;”You Really Got Me” dari the Kinks, “Runnin’ with the Devil”, “Ain’t Talkin’ about Love” dan tentunya “Eruption”. Khusus lagu Eruption, Eddie terinspirasi dari permainan Jimmy Page saat membawakan Solo lagu Heartbreaker, yang melakukan pull of pada open string. Sehingga dia mampu menciptakan teknik two -handed tapping yang maha dahsyat. Sejak saat itu teknik gitar Eddie Van Halen mendadak menjadi Dewa Gitar yang paling banyak ditiru. Dan album ini langsung laris sampai terjual 6 juta kopi.

Maha karya Van halen adalah pada album 1984, album terakhir bersama vokalis David Lee Roth. Eddie van halen yg juga sejak kecil belajar piano, mulai menggunakan keyboard dan synthesizer dalam Lagu JUMP. Sebuah lagu yang membuat kita bersemangat. Sebuah lagu yang sering saya putar, setelah bangun pagi. Sebuah lagu yang memompa semangat untuk menjalani hari-hari yang kadang melelahkan.

I get up, and nothing gets me down.
You got it tough. I've seen the toughest around.
And I know, baby, just how you feel.
You've got to roll with the punches to get to what's real

………………..


Might as well jump. Jump !
Might as well jump.
Go ahead, jump. Jump !
Go ahead, jump.

Album 1984 ini menghasilkan hit-hit seperti “JUMP”, “Panama”, “I’ll wait”, “Top Jimmy” dan tentunya “Hot For Teacher”. Sayangnya setelah album ini David Lee Roth keluar untuk bersolo Karir agar bisa keluar dan lebih besar dari baying-bayang Van Halen. Eddie dengan sedikit bergurau mengatakan David Lee Roth terkena penyakit L.S.D (lead singer’s disease). Album ini juga memunculkan video klip yang “berani” pada lagu “Hot For Teacher”. Dimana dalam video tersebut dimunculkan seorang guru yang seksi saat mengajar di kelas anak-anak.

I think of all the education that I missed.
But then my homework was never quite like this.

Got it bad, got it bad, got it bad,
I'm hot for teacher.
I got it bad, so bad,
I'm hot for teacher.

Posisi Vokalis akhirnya digantikan oleh sammy Hagar. Selama bersama sammy hagar menghasilkan 5 album yang cukup sukses: 5150, OU812, F.U.C.K, Balance, dan satu album live : Right Here, Right Now. Dan para fans Van Hale nada yang lebih suka David Lee Roth tapi ada juga yang lebih suka Sammy Hagar. Dengan Sammy hagar banyak juga hit-hit yang yang diciptakan, seperti ‘Dreams”, “Love Walk in”,”Why can’t this be love”, “Feel so Good”,”When It’s Love”,”Feels So Good”,”Can’t stop Loving you”,”Don’t Tell Me what love can do”, “Right Now”, “human being” dan masih banyak lagi.

Di tahun 1996, Sammy Hagar menyatakan cabut dari Van Halen, dan David Lee Roth Masuk lagi sempat merekam album Best of dan merekam 2 lagu “Me wise magic” dan “Can’t Get this stuff no more.”.sayang hanya sebentar dan david keluar lagi. Gary Cherone mantan vokalis extreme menggantikan posisi David Lee roth. Sempat menghasilkan 1 album ;Van Halen III. Penjualan albumnya tidak begitu sukses, meskipun single-nya yang berjudul without you sukses manjadi nomor 1 di tangga lagu Rock.


Di tahun 2000 Sammy hagar kembali bereuni singkat dengan melakukan tur dan meluncurkan album Best of Both World. Setelah itu sammy hengkang. Dan formasi terakhir adalah David Lee Roth kembali bereuni utk ketiga kalinya. Dan yang cukup mengejutkan di formasi terakhir ini, bassisnya adalah Wolfgang van Halen yg tidak lain adalah anak kandung Eddie Van Halen sendiri.

Dalam majalah Guitar World, Eddie van Halen membuat revolusi cara memainkan gitar. Pada lagu ‘Eruption” di album Van Halen (album pertama, 1978) dalam waktu hampir 1 menit 42 detik, Eddie menciptakan tehmik two-handed tapping yang menjadi trik yg harus dipunyai oleh semua gitaris hard Rock.
Pada era Sammy Hagar, banyak diciptakan lagu-lagu yang Romantis, salah satunya yang terkenal adalah Love Walks in.
…………………….
Another world, some other time
You lay your sanity on the line
Familiar faces familiar sights
Reach back remember with all your might
Ohh there she stands in a silken gown
Silver lights shining down


Love comes walkin' in

Solo

Sleep and dream is all I crave
I travel far across the Milky Way
To my master I become a slave
Til we meet again some other day
Where silence speaks as loud as war
And the earth returns to what it was before


Seorang pilot perancis mengatakan, bahwa sejak kecil dia bermimpi bisa terbang, bahkan saat dia belum bisa berjalan. Dan dalam hidup ini kadang kita hidup hanya menjalankan mimpi orang lain, bukan mimpi kita sendiri. Maka Van Halen menciptakan sebuah lagu yang juga menjadi legenda sebagaimana “JUMP”, yaitu lagu yang juga sering saya putar untuk selalu bersemangat mewujudkan mimpi-mimpi kita, dengan lantang Sammy Hagar bernyanyi dengan suara khasnya : “Dreams”

World turns black and white
Pictures in an empty room
Your love starts fallin' down
Better change your tune
Yeah, you reach for the golden ring
Reach for the sky
Baby, just spread your wings

We'll get higher and higher
Straight up we'll climb
We'll get higher and higher
Leave it all behind

Run, run, run away
Like a train runnin' off the track
Got the truth bein' left behind
Falls between the cracks
Standin' on broken dreams
Never losin' sight, ah
Well just spread your wings

We'll get higher and higher
Straight up we'll climb
We'll get higher and higher
Leave it all behind

So baby dry your eyes
Save all the tears you've cried
Oh, that's what dreams are made of
'Cause we belong in a world that must be strong
Oh, that's what dreams are made of

And in the end on dreams we will depend
'Cause that's what love is made of


Discography
Original studio albums

* Van Halen (1978)
* Van Halen II (1979)
* Women and Children First (1980)
* Fair Warning (1981)
* Diver Down (1982)
* 1984 (1984)
* 5150 (1986)
* OU812 (1988)
* For Unlawful Carnal Knowledge (1991)
* Balance (1995)
* Van Halen III (1998)

Live Album :

* Right here,Right Now (1993)

compilation album:

* Best of Volume 1 (1996)
* The Best of Both World


- artikel dikumpulkan dari :
* buku dewa-dewa gitar karya D Rush
* wikipedia
* Pendapat pribadi



Madiun, 27 Mei 2010.
Arif Gumantia
creator grup "legenda Rock" di Facebook
"only brave heart playing rock"

Selasa, 18 Mei 2010

"Konde Penyair Han"..Konde yang penuh pesona.


Sejak kecil saya menyukai kesendirian, memandang rumputan, memperhatikan capung meluruskan sayap seperti pesawat kecil yang meluncur ke angkasa, juga belalang-belalang yang memiliki kaki panjang untuk melompat. Saya juga menyukai warna kupu-kupu, dan seringkali membayangkan bisa terbang dengan sayap warna-warni.

Sebuah paragraph pertama pada pengantar buku kumpulan puisi “Konde Penyair Han” dari Hanna Fransisca ini sudah menyergap dan menuntun kesadaran kita, bahwa puisi-puisi lahir dengan sebuah proses kreatif . sesuatu yang menggoda pikiran dan jiwa kita kemudian dituangkan dalam kata dan kalimat yang membuat kita terpesona. Baik kata-kata yang berisi ironi atau perlambang, juga kata-kata yang bertansformasi dari makna konseptual menjadi makna imajinatif dan penuh religiusitas.

Hanna Fransisca (Zhu Yong Xia) lahir 30 mei 1979, di singkawang, Kalimantan barat, jatuh cinta dengan bacaan sastra dan aktif menulis di dunia maya. Menulis puisi dan prosa. Puisi dan cerpennya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, Malang Pos, dan sejumlah majalah social. Aktif di organisasi social dan profesi, LIONS Club Jakarta Kalbar Prima. Kini menetap di Jakarta.

Menurut penyair Joko Pinurbo, dari judul buku “Konde Penyair Han”. Bila seseorang sanggup menciptakan “Konde” untuk menyanggul segala kerumitan yang melingkupinya menjadi jalinan rambut yang jelita, dapat dibayangkan betapa hebat proses yang dijalaninya. Maka buku puisi ini dapat dianggap sebagai konde yang menyanggul sengkarut kegelisahan seorang individu, seorang penyair, yang menjalani proses menjadi “aku” di tengah berbagai kompleksitas yang melatarinya. Maka beberapa puisinya ada semacam penghormatan kepada Tokoh besar milik negeri ini Gus Dur. Seorang tokoh pembela demokrasi dan kemajemukan bangsa ini. Seperti puisi yang berjudul “Air mata tanah air”

……………………………

Aku mengerti kotak artinya benar penjara,
Lantaran wasiat ayahku sebelum mati:
“Engkau telah dewasa, jangan berjalan riang
Di jalan raya sebab semua aspal yang kaupijak
Bukan punya kita”

Aku mengerti kotak artinya benar penjara,
Saat ibuku yang renta dan rabun usia berkata :
“Kita boleh punya rumah, punya tanah,
Pergi sekolah, Tapi kita tak boleh
Memiliki tanah air”
………………………….

Sebuah puisi yang bisa menjadi pernyataan sebuah kegelisahan dari seorang warga Negara Indonesia sama seperti kita dan yang lainnya, untuk menjadi “Pribumi” juga. Agar secara bahu membahu dan bersama-sama bisa membangun negeri ini.
Juga dalam sebuah Puisi yang berjudul “PUISI MEI”, sebuah judul yang langsung menghimpit kesadaran kita akan peristiwa atau tragedy yang terjadi di bulan Mei 1998.
………………………………………………
Inilah negeri Mei, Amoi!
Tarian naga meliuk merah sepanjang kota
Kau kibarkan tanda kutang tepat di bawah warna
Bendera.
Merah dan putih.
Seperti darah. Seperti kulit.
“Mari Membakar sate, dari pekik anak dara yang
Belum lulus esde.”
Lalu kalian menyambutnya dengan sederhana,
Dengan menjarah lorong-lorong kota
Sambil menyanyikan bersama : Padamu Negeri.


Dalam buku kumpulan puisi Hanna ini, juga banyak kita temui kekaguman dan ketakjuban sang penyair atas tanah kelahirannya yaitu kota Singkawang, KALBAR. Puisi-puisi yang deskripsinya begitu detail baik tentang sebuah suasana, pengalaman, peristiwa, dan juga bisa menjadi sebuah catatan perjalanan yang jika kita membacanya akan membangkitkan imajinasi tentang sebuah keindahan kota singkawang.

Bagi saya sebagai seorang penggemar puisi, tentunya punya sebuah puisi yang paling saya sukai. Ini adalah masalah selera, dari sekian banyak puisi yang ada, saya menyukai Puisi dengan judul “Mencintaimu”

Mencintaimu
Adalah melubangi meja dengan kepal tangan
Lalu mencari wajah di rongga mulut kekasih
Yang sibuk mencongkel sisa makanan
Dan mengunyahnya kembali
Bersama air ludah
Sisa residu

……………………………..

Mencintaimu
Adalah menerima dirimu
Dan semua yang patut dibela
Seumur hidupmu.

Seperti yang dikatakan Hanna saat launching bukunya di Goethe Haus, Jakarta, masa kecilnya yang didera kemiskinan, sehingga wajib bisa memasak untuk adik-adiknya, maka banyak sajak-sajaknya yang mengangkat tema kegiatan masak memasak, yang menurut Pak Sapardi Djoko Damono diberikan istilah : Ritual Kuliner. Seperti Puisi yang berjudul “Puisi Kacang Hijau”

Tubuh berdenting
Jatuh
Di air bening
Dahaga menderas
Merebus hati
Di dasar belanga


Berbagai tema, berbagai hal berbagai peristiwa telah ditulis Hanna dalam Buku Puisi ini, kita semua berharap dengan hadirnya buku Puisi ini akan menambah gairah dunia puisi Indonesia. Kita patut memberikan apresiasi yang tinggi atas kerja keras Hanna dalam membukukan kumpulan puisinya. BRAVO SASTRA INDONESIA.

Seekor sriti hinggap di tepi langit
Rindu tanah, rindu air, rindu kesuburan.(Singkawang, 2)






Judul Buku : Konde Penyair Han
Penerbit : Kata Kita
Pesona Khayangan CM-4, Depok 16431
Telp. 021-77832078
Tahun : April 2010








Madiun, 19 Mei 2010
Arif Gumantia
Penggemar Puisi dan juga Penggemar Nasi Pecel.

Selasa, 27 April 2010

Eric Clapton...Sang Legenda Gitar yg Menyuarakan Luka-luka Psikologisnya.


I feel wonderful because I see
The love light in your eyes
And the wonder of it all
Is that you just don't realize
How much I love you

Ini adalah sepenggal lirik lagu abadi milik Eric Clapton “wonderful tonight” yang ada di album Slowhand (1976). Eric Clapton adalah Legenda Gitar dunia, karena kehebatannya bermain gitar, maka salah seorang penggemarnya menuliskan graffiti di sebuah tembok stasiun di Islington Underground dengan sebutan “Clapton is God”, sebagai pendewaan terhadap Clapton.

Eric Patrick Clapton CBE (lahir di Ripley, Surrey, England, 30 Maret 1945; umur 65 tahun), dari seorang ibu yg bernama patricia Molly Clapton yang saat itu masih berusia 16 tahun. Ayahnya sendiri bernama Edward Walter Fryer, berusia 24 tahun, seorang tentara dari Kanada, keduanya tidak menikah. Sebelum Clapton lahir ayahnya kembali bertugas ke kanada. Masa Kecil yang kelam membuat dirinya sejak kecil menjadi pemurung dan Pemalu.

Di ulang tahunnya yang ke 13, dia diberikan hadiah gitar akustik Spanish Goya. Dia pertama kali mendengar lagu-2 Robert Johnson yang penuh kegetiran dan kesepian di usia 16 tahun. Sejak saat itu hidupnya berubah dan langsung mempunyai cita-cita menjadi seorang pemusik Blues. Di Usia 17 tahun, dia sudah bergabung dengan band R n B yg bernama Roosters. Setelah itu mendirikan the Yardbird dari tahun 1963-1965. Permainan Gitarnya sangat dipengaruhi oleh Buddy Guy, Freddie King, and BB King.
julukan: "Slowhand", diberikan karena kebiasaannya saat senarnya putus di atas panggung, dia akan menggantikan senarnya.

Clapton gitaris sekaligus penyanyi, pencipta lagu, dan komponis asal Inggris yang pernah memenangi Grammy Award. Sebagai salah seorang musisi paling sukses di abad ke-20 dan abad ke-21, namanya diabadikan di museum Rock and Roll Hall of Fame sebanyak 3 kali (sebagai personil The Yardbirds, Cream, dan sewaktu berkarier solo). Penggemar dan kritikus musik menyanjungnya sebagai gitaris terbesar sepanjang zaman. menempati urutan ke-4 dalam daftar Gitaris Terbesar Sepanjang Masa yang diumumkan majalah Rolling Stone. Selain itu, namanya juga masuk ke dalam daftar "100 Artis Terbesar Sepanjang Zaman" (The Immortals: 100 Greatest Artists of All Time) yang diumumkan majalah yang sama.

Sepanjang kariernya, Clapton dikenal memiliki gaya bermusik yang sangat bervariasi, namun semuanya berakar dari blues. Selain itu, nama Clapton dicatat dalam sejarah musik sebagai pencetus aliran blues-rock (bersama John Mayall & the Bluesbreakers dan The Yardbirds) serta psychedelic rock (sewaktu bersama grup musik Cream). Bukan hanya itu saja, lagu-lagu Clapton sukses dalam tangga lagu berbagai aliran, mulai dari delta blues (Me and Mr. Johnson) hingga kategori musik pop ("Change the World") dan reggae (sewaktu menyanyikan ulang lagu Bob Marley's "I Shot the Sheriff"). Clapton juga terkenal dengan lagu "Layla" sewaktu bergabung bersama grup musik Derek and the Dominos.


Time can bring you down
Time can bend your knee
Time can break your heart
Have you begging please
Begging please
(instrumental)
Beyond the door
There’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more…
Tears in heaven


Lirik di atas adalah penggalan lirik dari lagu “Tears in Heaven” milik Eric Clapton yang diciptakan di tahun 1991, saat anak lelakinya yang bernama Connor dan masih berumur empat tahun meninggal akibat jatuh dari lantai 53 sebuah gedung bertingkat di New York. Sebuah kegetiran yang dituangkan dalam lagu yang akhirnya melegenda.

Eric Clapton selalu bernyanyi dan menjadi Bluesman yang berdiri di ujung panggung dan mengungkapkan luka-luka psikisnya kepada penonton. Dan bagi kita yang mencintai seseorang dan kita tidak bisa memilikinya karena sudah menjadi istri orang, kalian tidak sendirian, karena sang Legenda Gitar ini juga mengalaminya. Saat membentuk Grup Derek and the Dominos, Clapton mencipta lagu yang sangat terkenal “Layla”. Lagu ini terinspirasi dari cerita Persia Layla Majnun. Cerita yang mengisahkan seorang pemuda yg jatuh cinta pada perempuan cantik tetapi tidak bisa menjadi istrinya. Clapton menganggap cerita cinta ini sangat mirip dengan kisah cintanya kepada Pettie Boyd (istri George Harrison, The Beatles).

When You Get L onely
With Nobody Waiting By Your Side
Youve Been Running And Hiding Much Too Long
You Know Its Just Your foolish Pride

Layla
You Got Me On My Knees
Layla
im Begging Darling Please
Layla
darling Wont You Tease My Worried Mind
Tried To Give You Consolation

Your Old Man Wont Let You Down
Like A fool
I fell In Love With You






Diskografi :
1970 Eric Clapton
1974 461 Ocean Boulevard
1975 There's One in Every Crowd
1976 No Reason to Cry
1977 Slowhand
1978 Backless
1981 Another Ticket
1983 Money and Cigarettes
1985 Behind the Sun
1986 August
1989 Journeyman
1994 From the Cradle
1998 Pilgrim (RIAA:Platinum)
2001 Reptile
2004 Me and Mr. Johnson
2004 Sessions for Robert J
2005 Back Home (RIAA:Gold)




Madiun, 28 April 2010
Arif Gumantia
Creator Grup Legenda Rock Di FB
“Only Brave Heart playing Rock”

Sumber bacaan :
-Buku “Dewa-dewa Gitar” karangan D. Rush
- Wikipedia
- Pendapat pribadi

Selasa, 13 April 2010

Pintu dan waktu

Pintu-pintu masa lalu
telah kau kunci dari luar

dan aku di dalam
terperangkap dalam kenangan yang menghimpit
gairah dan pesonamu
juga desah nafas yang memburu
hingga teriakan orgasmemu
telah menjerat sempurna hatiku

tak ada yang bisa lepaskanku
tak ada
bahkan waktu yang setia memapahku
telah lama meninggalkanku

sedang di luar
kau begitu lelah
bersenggama dengan bayangku



Madiun, 08 april 2010
Arif Gumantia

Senin, 22 Maret 2010

"Merah Yang Meremah" Kumpulan sajak 10 Penyair perempuan di Facebook


Sajak adalah sebuah organisme, sesuatu barang hidup, yang bila diletakkan di atas meja analisis untuk diuraikan dengan pisau ilmu bedah ilmu sastra, atau untuk disinari dengan sinar roentgen intelek, ia akan menjadi barang mati! Tapi hal demikian tetap akan berguna demi pendekatan ilmiah terhadap sastra, demi pencerdasan apresiasi puisi, demi sumbangan untuk menumbuhkan dan memelihara iklim sastra, demikianlah sebuah uraian dari penyair Sitor Situmorang.

Begitu juga sajak-sajak yang kita temukan pada buku 10 penyair Perempuan di Facebook, “Merah Yang Meremah”. Sajak-sajak dari Dewi maharani, Faradina Izdhihary, Helga Worotijan, Kwek li Na, Nona Muchtar, Pratiwi Setyaningrum, Shinta Miranda, Susy Ayu, Tina K, Weni Suryandari, terasa bagai organisme hidup, tumbuh dari situasi dan kondisi budaya para penyairnya. Tentunya para penyair perempuan ini mencerap segala rupa jenis kesan yang ada disekitarnya, dan yang dialaminya dan diberinya bentuk sastra. Penyair dengan segala sifat ke-perempuannya berfungsi sebagai medium, hingga terasa sekali tema dan diksi-diksi yang diambilnya.

Seperti puisi dari Dewi Maharani, dari purworejo, jawa tengah, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh migran di singapura, yang menjadi judul buku kumpulan puisi ini, “merah yang meremah”, ada sebuah kepedihan dan juga keterasingan di dalamnya, terasa sekali perasaan seorang perempuan:


Masihkah harus kutunggu?
Saat Tanya tak lagi terjawab
Menggilas harap dinding retak
Di ujung kilau tajam yang terjaga siang malam

…………………………

Juga puisi dari Faradina yang berjudul “Pada akhirnya adalah air mata”


…………………….
Engkau menyulutkan api
Lalu diam-diam pergi
Memanggangku dalam panas hati
Lalu dendam menjadi daging
Menyatu dengan amuk darah
Beban menjadi tambah
Betapa nafsu membuatku lengah
……………………………..

Pengalaman batin para penyair perempuan ini banyak mewarnai sajak-sajaknya, Pengalaman batin yang punya pertautan dengan kenyataan di luar atau lingkungan sekitar.

Seperti sajak Helga Worotitjan, “Hari Senggama”

Mari berpeluh bersamaku
Dan akan kutunjukkan padamu
Batapa malamnya cinta
Betapa paginya rindu
Sedang siang dan sore kurendakan di pinggir-pinggir
Keduanya
Agar ada sebuah hari
Yang bernama senggama
:taut kita berkali-kali hingga mati sebagai setali

Juga sajak Kwek Li na yang sekarang berdomisili di Taiwan, “Cinta Abadi’

Aku ingin masuk ke sangkar cintamu
Jadikan aku tawanan hatimu
Cambuklah aku dengan rindu akanmu!

Bilur-bilur menetes darah rasa
Pedih dan nikmat ajari aku makna
Sumbang dan merdu, luapan ekspresi jiwa
……………………………………………

Hal yang penting dari seorang penyair adalah apakah seorang penyair punya daya kreatif dan rangsangan kreatif, serta mampu menjadikan bahasa sebagai media ekspresinya. Dan proses kreatif inilah yang bagi para penyair terasa sekali sangat mengasyikkan bahkan bias dikatakan sebagai sebuah Orgasme.
Sebagaimana kita temukan pada Sajak “Rumah kita Rubuh”, dari nona muchtar

Kata katamu serupa bilah membelah kalbu
Menyatakan mati itu adalah sahabat yang akan kita tuai bersama gulita
Seolah jiwa tak abadi menghisap cahaya bulan
Memenjarakan pikiran dan membutai harapan
Sewaktu kemarin kau semaikan benci dalam ketergesaan
Rumah kita pun rubuh pada tengah kemarau


Juga puisi Penyair asal Solo Pratiwi setyaningrum “Rindu”

Menit kesekian mengalunkan puji puji suci
Duduk bersimpuh di atas sajadah
Kedua tangan terangkat makin ke atas
Tak terasa

Air mata mengalir diantara nama namaNYA
Apa lagi
Sebagaimana dikatakan Oleh Prof. Abdul Hadi WM : manusia memerlukan pengalaman batin, hati, karena dalam hati manusia itulah terdapat jendela untuk melihat Tuhan,untuk melihat cerminan dirinya. Karena itu puisi juga merupakan katarsis, upaya bersih diri dari bentuk-bentuk kehidupan profane dengan nilai-nilai transcendental. Puisi bias menjadi sarana ibadah, pernyataan baru, dan cinta yang mendalam dan personal.

Apa yang mesti Kukatakan sajak dari shinta Miranda

Apa yang mesti kukatakan ketika anakku perempuan berkata
“bunda, aku mengandung..!”
Apa yang mesti kukatakan ketika anakku perempuan berkata
Aku tak pernah tau jahanam yang mana


Pengalaman-pengalaman batin juga mewarnai sajak-sajak dari Susy Ayu, dimana salah satunya berjudul : “Usai Bercinta”

………………………….
Ketika kita usai
Kekosongan di seluruh tubuhku masih terasa penuh
Serupa tubuhmu

Aku cinta padamu

Dan juga puisi pendek dari cerpenis Tina K
“Pedih”

Dalam gereja yang sesak
Saat hosti dibagikan
Alangkah masak kesedihan


Tentunya masih banyak sebenarnya tema-tema kemanusiaan atau ide-ide yang bisa digali lebih dalam lagi agar menghasilkan sebuah Puisi yang menjadi, puisi yang menjadi sebuah dunia. Akan tetapi terbitnya antologi puisi 10 penyair perempuan di facebook ini layak kita koleksi dan apresiasi, agar media social networking semacam facebook ini bisa menjadikan wahana yang positif dalam mengembangkan sastra Indonesia baik prosa maupun puisi.

Terakhir sebuah puisi dari weni suryandari yang pernah terpilih mejadi pemenang sayembara menulis novelette tahun 2008 oleh tabloid nyata.
“Puisi Cinta”

Jika yang kutulis adalah puisi cinta,
Aku tak kan kehabisan tinta


Madiun, 22 maret 2010
Arif Gumantia
Juru tulis yang suka sama nasi pecel






Judul Buku : Merah yang Meremah
(kumpulan puisi 10 penyair perempuan)
Penerbit : Bisnis 2030
tahun : 2009

Rabu, 24 Februari 2010

Twit dari mario Teguh yang menuai masalah!(poin 6)

1.Kebahagiaan adlh keadaan tanpa ketidak-bahagiaan,yaitu Kekhawatiran n Rasa Takut.
2.Yg Anda khwatirkn itu,apkh ada yg btl2 trjadi?Smpi kpn kah Anda akn mngkhawatirkn yg sbtlnya bs Anda selesaikan?
3.Kekhawatiran betul2 terjadi kepada dia yang hanya khawatir n mengeluh terus
4.Kita tdk bisa menyelesaikan kekhawatiranyang tidak kita ketahui namanya. apakah nama dari kekawatiran Anda?
5.Orang yang mandi saja butuh disemangati, tidak pantas untuk penyemangatan apapun
6.Wanita yg pas u/ tmn pesta,clubbing,bgadang smp pagi,chitchat yg snob,mrokok,n kdang mabuk tdk mungkin direncanakan jadi istri
7.Pria yang pas untuk #MTOF 7, tidak akan jadi suami yang setia dan ayah yang mengehabatkan anak-anak.
8.Karakter asli orang selalu baik, kelakukan buruknya yang menjadikannya dinilai harus memperbaiki diari.
9.Orang yang gelisah dan protes saat mendengar nasehat baik adalah orang baik yang sedang salah sikap.
10.Jodoh itu di tangan Tuhan dan akan lebih baik jika kita periksa apakah kita mempersulit orang yang ingin memperjodoh kita.
11.Hidup berbahagialah dengan istri anda yang baik atau suami anda yang anggun. Tidak ada kebahagiaan di yang selain kebaikan.
12.Pada akhirnya kita harus memilih wanita yang baik untuk istri, pria yang baik untuk suami dan membangun keluarga yang baik. Jika tidak segera, pasti nanti.
13.Janganlah kita akhirnya melakukan yang telah lebih dahulu dilakukan oleh mereka yang lebih ikhlas membaikkan diri, saat perbaikan menjadi terlalu sulit.
14.Ada hukum kepantasan bagi segala sesuatu maka ia yang memperbaiki diri akan menjadi pantas bagi kehidupan yang terperbaiki.
15. Ada orang yang dari seni ke jumat-memikirkan sabtu dan minggu, dan mengkawatirkan hari senin selama hari minggu. Dia hidup dari apa?

Minggu, 14 Februari 2010

Permen dari Tifatul, akankah pahit rasanya????

Menkominfo Tifatul Sembiring tengah menggodok peraturan menteri yang melarang pendistribusian, transmisi, dan penyediaan akses terhadap konten-konten pornografi serta yang berlawanan dengan kesusilaan, perjudian, penghinaan, dan SARA.

Rancangan Peraturan Menteri (RPM) itu kini mulai ramai dibicarakan para blogger di dunia maya.

Dalam keterangnya, Kemenkominfo menjelaskan, maksud dari pembentukan Peraturan Menteri Kominfo ini adalah untuk melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik, Dokumen Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum.

Tujuan dari pembentukan Peraturan Menteri Kominfo ini adalah untuk memberikan pedoman kepada Penyelenggara untuk bertindak secara patut, teliti, dan hati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya yang terkait dengan Konten Multimedia.

Berikut sebagian hal-hal yang diatur dalam RPM Menkominfo itu:

1. Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya konten yang menurut peraturan perundang-undangan yang merupakan konten pornografi dan konten lain yang menurut hukum tergolong sebagai konten yang melanggar kesusilaan.

2. Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya konten yang menawarkan perjudian.

3. Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya konten yang mengandung muatan mengenai tindakan yang merendahkan keadaan dan kemampuan fisik, intelektual, pelayanan, kecakapan, dan aspek fisik maupun non fisik lain dari suatu pihak.

4. Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya konten yang mengandung muatan berupa berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik, yaitu konten mengenai suatu peristiwa atau hal yang tidak benar atau tidak berdasarkan fakta yang dinyatakan sedemikian rupa sehingga menurut penalaran yang wajar konten tersebut adalah benar atau autentik, yang secara materil dapat mendorong konsumen untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat mengakibatkan kerugian pada konsumen, muatan yang bertujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) meliputi konten mengenai penghinaan dan/atau menyatakan informasi yang tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta mengenai suatu suku, agama, ras, atau golongan, muatan mengenai pemerasan dan/atau pengancaman meliputi konten yang ditransmisikan dan/atau diumumkan melalui Perangkat Multimedia yang bertujuan untuk melakukan kegiatan pemerasan dan/atau pengancaman, dan/atau muatan berupa ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi meliputi Konten yang ditransmisikan dan/atau diumumkan melalui Perangkat Multimedia yang bertujuan untuk melakukan ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

5. Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya Konten yang mengandung muatan privasi, antara lain konten mengenai isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang, riwayat dan kondisi anggota keluarga, riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang, kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang, hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi kemampuan seseorang, dan/atau catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal dan/atau muatan hak kekayaan intelektual tanpa izin dari pemegang hak kekayaan intelektual yang bersangkutan.

Menurut rancangan peraturan itu, Menkominfo juga akan membentuk Tim Konten Multimedia yang memiliki kewenangan untuk menentukan apakah sebuah konten termasuk konten yang dilarang atau tidak.

Tim ini nantinya beranggotakan maksimal 30 orang dengan komposisi 50 persen dari unsur masyarakat dan 50 persen lain dari unsur pemerintahan.

Selama setahun tim ini akan menganalisa konten-konten di internet dan memastikan konten-konten itu aman atau tidak.

sumber dari inilah.com

Kamis, 14 Januari 2010

Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif

Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali:

Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif

Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL)

JIL: Mas Rumadi, buku yang memuat kolom-kolom Gus Dur setelah lengser dari kursi kepresidenansudah terbit kemarin. Sebagai salah seorang editornya, apa yang dimaksud Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang dijadikan judulnya itu?

Rumadi: Oh, itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul dan problem ekonomi global.

Esai dengan judul Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang menjadi judul buku itu sebenarnya tidak panjang. Tapi dari esai itu kita menyadari bahwa Islam memang beragam. Ungkapan pribadi seseorang dalam berislam mungkin berbeda atau juga bertentangan dengan apa yang saya alami. Dari situlah kita dapat melihat adanya Islam yang aku pahami secara pribadi, dan Islam yang Anda pahami menurut Anda sendiri. Namun meski beragam, kita tetap Islam, dan disitulah mulai dikatakan soal Islam kita.

Jadi judul buku ini menggambarkan Islam yang warna-warni; meski Islamnya satu tapi masing-masing orang punya pemahaman berbeda-beda tentang Islam.

JIL: Mas Moqsith, dari telaah Anda atas tulisan-tulisan Gus Dur, apakah keragaman Islam itu hanya ditunjukkan dari sudut pandang sosiologis-antropologis saja, atau juga dalam soal doktrin-teologisnya?

Moqsith: Saya kira, tidak hanya keragaman dari sisi sosiologis-antropologis yang sejak lama didengungkan Gus Dur. Kita tidak bisa mengelak bahwa di dalam soal doktrin, dalam tafsir keagamaan yang paling asasi pun kita tak mungkin bisa menunggal. Karena itu, ada Islamku, yakni Islam sebagai hasil penafsiran yang bersifat personal-individual dari seseorang; ada Islam Anda yang berdasarkan penafsiran Anda dan juga Islam kita, yang menjadi benang merah dari Islamku dan Islam Anda.

Menurut Gus Dur, yang dinamakan Islam kita itu adalah prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal. Gus Dur sering mengutip al-Ghazali soal 5 prinsip dasar ajaran Islam. Pertama adalah soal kebebasan beragama. Gus Dur adalah orang kampung yang saya kira sangat konsisten melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Sebab minoritas agama, ras, dan sebagainya itu, merupakan bagian dari perwujudan tafsir atau pemahaman orang terhadap Islam. Menurut Gus Dur, mereka itu tidak bisa dihancurkan.

Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur telah memberi injeksi moral agama ke dalam isu-isu yang dianggap bersifat profan sekalipun. Dia bicara HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya.

JIL: Apa soal baru yang buku ini, Mas Rumadi ?

Rumadi: Bagi saya, yang perlu dari buku ini bukan soal baru atau tidaknya, tapi justru kesaksian akan konsistensi Gus Dur dalam pikiran-pikiran yang sejak lama ia usung. Saya belum pernah melihat pemikir Indonesia yang begitu konsisten membela prinsip-prinsip yang ia pegang teguh sebagaimana Gus Dur. Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan dlsb., tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata.

Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur. Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan.

JIL: Mas Moqsith, Anda melihat konsistensi dan kesinambungan dalam gagasan-gagasan keislaman Gus Dur, atau justru melihat titik-titik kisar perubahan paradigma berpikir?

Moqsith: Saya pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah saya kira yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri. Di samping fikih, dia juga banyak belajar ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia juga pembaca sastra yang baik. Karena itu, medan perhatian Gus Dur terhadap ilmu pengetahuan amatlah luas.

Nah, di sinilah ia berbeda dengan tokoh Indonesia lainnya seperti Prof. Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafii. Buya bukanlah pembaca buku dengan dimensi yang sangat luas. Buya terutama adalah seorang sejarawan dan mungkin juga pembaca buku-buku keislaman yang cukup luas. Tapi bacaan Gus Dur memang luar biasa, bukan hanya fikih, tapi juga fasih bicara sastra. Ketika masih SMP dan SMA dulu, saya juga sering melihat Gus Dur sebagai pengamat sepakbola. Ini menunjukkan bahwa perhatian Gus Dur terhadap banyak dimensi kehidupan sangat besar sekali.

JIL: Selain soal minat bacaan, apa perbedaan lainnya dengan sosok Buya Syafii yang beberapa bulan lalu juga meluncurkan otobiografinya yang memikat?

Moqsith: Mungkin yang juga berbeda adalah titik berangkatnya. Gus Dur bukanlah seorang ploretar, tapi datang dari kalangan aristokrat. Kakek dan bapaknya ibarat raja di dalam tradisi NU. Tapi anehnya, gagasan-gagasan Gus Dur itu potensial menghancurkan dirinya sendiri. Dari politik berwacana, itu sebenarnya merugikan. Tapi Gus Dur tetap melakukan itu. Gagasan-gagasannya seakan-akan ingin menghancurkan kelasnya sendiri. Dia kan seorang yang punya otoritas tinggi, tapi tiap hari ia seakan menghancurkan otoritasnya sendiri.

Itu dapat diamati dari pandangan-pandangan keagamaannya yang di kalangan para kyai cukup kontroversial. Kerja seperti itu, kalau tak hati-hati, tentu akan melenyapkan kharisma dan lain sebagainya. Tapi Gus Dur tidak peduli, ia tetap membuat perbedaan. Ia tetap konsisten menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat banyak persoalan. Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiah, aliran kepercayaan, dan lain-lain, sudah konsisten ia lakukan sejak dulu dan sampai sekarang.

JIL: Mas Rumadi bisa menunjukkan konsistensi gagasan keislaman Gus Dur lebih rinci lagi?

Rumadi: Dilihat dari sejarah perkembangan pemikiran Gus Dur, masa-masa awalnya memang tak lempang-lempang amat. Dia pernah mendukung gagasan-gagasan Ihkwanul Muslimin yang dianggapnya sebagai salah satu ptototipe Islam yang benar. Tapi setelah belajar tentang nasionalisme Arab dan sosialisme di Irak, dia mulai berubah pikiran. Selanjutnya, perubahan-perubahan itu terus terjadi, terkait dengan pengalaman hidup Gus Dur sendiri.

Setelah melihat kenyataan Islam Indonesia, dia menemukan ide-ide baru yang pelan-pelan mulai menggeser cara pandangnya yang lama. Sekarang, yang dia pegang adalah prinsip-prinsip dasar Islam yang disebutkan tadi. Tapi dia terlihat konsisten dalam prinsip dasar pemikirannya. Dalam aksi politik, ia memang sering agak sirkus dan zig-zag. Tapi prinsip-prinsip dasar pemikirannya terlalu jelas untuk dilihat. Tak ada sesuatu yang samara-samar atau kabur. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Gus Dur menurut saya terlalu jelas.

JIL: Anda bisa merinci gagasan-gagasan keislaman apa yang paling penting dari Gus Dur?

Moqsith: Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi. Tapi ini juga bukan pikiran yang baru datang dari Gus Dur, karena sejak dulu para kyai pesantren sudah punya kecenderungan untuk menghadirkan jenis keislaman yang khas Indonesia, tanpa banyak dicampur unsur Arabisme. Jadi pribumisasi Islam itu hanya stempelnya saja. Gus Dur berjasa menteorikannya. Gus Dur telah memberi nama terhadap jenis perjuangan yang dilakukan oleh para ulama Indonesia sejak Walisongo sampai sekarang.

Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang.

Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan.

Saya kira itu pikiran-pikiran dasar Gus Dur. Ia memang punya perhatian besar terhadap isu-isu politik, persoalan pluralisme dan sebagainya. Tapi yang tidak dilakukan Gus Dur adalah menulis secara serius pandangannya tentang perempuan. Saya kira, pada aspek itu ada kemiripan antara Gus Dur dengan almarhum Cak Nur.

JIL: Bisa lebih detil tentang sejarah penyikapan NU atas perjuangan politik yang menginginkan negara Islam di Indonesia?

Rumadi: Pada masa awalnya, tahun 1945--1955, NU berada dalam blok atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam sebagai dasar negara. Tapi di situ ada polemik antara Gus Dur dan adiknya, Gus Solah (Solahuddin Wahid). Gus Dur bilang, NU tidak mendukung Islam sebagai dasar negara, sementara Gus Solah bilang sebaliknya. Saya cenderung mengatakan bahwa NU pada mulanya berada dalam blok yang menginginkan Islam sebagai dasar negara.

Tapi sejarah tidak berjalan linier. Di tengah arus, ada masa ketika NU harus mengambil sikap tentang hidup bernegara. Itu secara jelas diproklamasikan di tahun 1984, dipelopoli langsung oleh Gus Dur. Di situ dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara kesatuan dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan bentuk yang final bagi NU. Apakah pernyataan final itu cerminan keinginan jamaah NU, atau cerminan situasi ketika NU tidak bisa berkata lain, tentu akan diuji sendiri oleh sejarah.

Buktinya, dalam perkembangan belakang, ada saja beberapa kompenen NU yang tidak tahan akan godaan negara Islam. Itu bisa dibuktikan lewat kelompok-kelompok di dalam NU yang membuat partai dengan Islam sebagai asasnya. Bahkan dalam Muktamar NU tahun 1999, ada juga yang mengusulkan agar NU kembali ke asas Islam, meski suara itu akhirnya bisa dieliminasi. Saya kira, ini merupakan salah satu bentuk pergumulan pemikiran NU. Arus besarnya memang masih dikusai kalangan yang menginginkan NKRI. Tapi riak-riak yang menghendaki dan memimpikan adanya negara Islam tampaknya tak juga pernah mati di lingkungan NU.

JIL: Gus Dur pernah menulis tentang Islam sebagai faktor komplementer atau pelengkap Indonesia. Apakah gagasan seperti itu masih dianut mayoritas di NU atau sudah diganti menjadi Islam sebagai kekuatan hegemonik?

Moqsith: Gagasan Islam sebagai faktor komplementer itu saya kira bukan hanya dimiliki Gus Dur, karena kyai-kyai lain juga berpikir tentang hal yang sama. Dan sampai sekarang, saya kira gagasan itu masih cukup kuat. Itu dapat dibuktikan dari pandangan beberapa kyai, termasuk KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara. Itu pandangan yang hampir merata di lingkungan kiay-kiay NU. Kyai Sahal telah menolak fikih dijadikan hukum positif negara, tetapi menerimanya sebagai etika sosial. Karena itu, keterlibatan Islam di dalam negara yang majemuk ini tidak bisa dalam format ingin mendominasi dan menjadi satu-satunya faktor penentu. Ia hanya menjadi unsur komplementer saja…

JIL: Sebagai generasi muda NU, seberapa jauh pikiran-pikiran Gus Dur mempengaruhi Anda dan teman-teman?

Moqsith: Bagi saya, Gus Dur itu adalah jendela bagi warga NU. Melalui jendela itulah warga NU bisa mengintip, bisa melihat luasnya dunia luar. Keberhasilan Gus Dur terletak dalam cara dia menginspirasi anak-anak muda di pesantren. Lewat Gus Dur, anak-anak muda mulai belajar menulis dan berpikir secara kritis. Di tahun 1991, ada rumusan pentingnya melakukan kontekstualisasi pemahaman kitab kuning. Itu tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan generasi-generasi tua NU seperti Gus Dur, Masdar Farid Mas’udi, dan lain-lain. Saya kira di situ terletak peran yang sangat besar dari Gus Dur.

Yang kedua, dari segi gagasan, Gus Dur itu memang mumpuni, terlepas dia adalah seorang Gus, anak dari bapaknya dan cucu dari kakeknya yang mendirikan NU. Karena itu, ia memiliki otoritas sangat besar untuk melakukan perubahan-perubahan paradigmatik di lingkungan NU. Apa yang dilakukan Gus Dur akan gampang diamini anak-anak muda. Resistensi atas gagasan dan gerakannya pun tidak akan terlalu kuat ketimbang kalau dikatakan dan dilakukan orang lain. Jadi, keluar Gur Dur menjadi jendela, di dalam ia menjadi garansi bagai anak-anak muda. Kalau anak-anak muda dikritik para kyai, Gus Dur akan memberi penjelasan-penjelasan dengan menggunakan bahasa kyai, dlsb.

JIL: Anda optimistis atau pesimistis akan perkembangan intelektual anak-anak muda NU setelah Gus Dur?

Moqsith: Saya kira ke depan kita tak bisa lagi bersandar pada individu atau tokoh. Itu harus diakhiri. Apa yang dilakukan anak muda NU sekarang adalah institusionalisasi gagasan-gagasan Gus Dur. Itu sudah berkembang melalui lembaga-lembaga pendidikan alternatif yang dikembangkan sejumlah NGO/LSM di beberapa daerah. Kalau terus mengandalkan tokoh, sejumlah tokoh memiliki keterbatasan. Ketika Gus Dur menjadi politisi dalam pengertian yang sesungguhnya, susah mengikuti alur permainannya yang bagai sirkus.

Untungnya anak-anak muda NU mampu menentukan barometer: yang harus kita ikuti dari Gus Dur adalah Gus Dur yang makro, bukan Gus Dur yang mikro, seperti istilah almarhum Cak Nur. Gus Dur yang kulli bukan Gus Dur yang juz’i. Itu saya kira patokan yang baik bagi kita dalam melakukan gerakan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Saya kira, gagasan-gagasan Gus Dur tetap relevan karena ia lebih banyak bukan gagasan yang tentatif. Pemikiran Gus Dur tentang pribumisasi Islam, saat ini makin relevan seiring makin maraknya orang berpikir tentang negara Islam dan mengintensifkan Arabisasi terhadap Islam.

JIL: Bagi Anda seperti apa kedudukan Gus Dur bagi generasi muda NU?

Gus Dur bukan hanya jendela tapi juga lokomotif. Di belakang Gus Dur terdapat banyak anak muda NU yang disebut progresif atau apapun namanya. Semaunaya tidak ada yang terlepas dari inspirasi Gus Dur. Tapi memang ke depan kita tidak bisa bersandar pada Gus Dur atau figur seorang tokoh. Tapi gagasan-gagasannya memang tetap perlu disosialisasikan, diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan yang lebih riil. []

Senin, 11 Januari 2010

Taufiq di Balik Release & Discharge Obligor (Buku Manuver Taufiq Kiemas)


Sebagai suami dari Megawati Soekarnoputri yang menjadi Presiden pada 2001-2004, Taufiq Kiemas memainkan peran yang tak kecil. Dalam buku "Jurus dan Manuver Taufiq Kiemas: Memang Lidah Tak Bertulang" terungkap peran Taufiq dalam penyelesaian kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Derek Manangka, penulis buku, menyebut saat Megawati menjadi presiden, terdapat 300 ribu perusahaan yang terancam gulung tikar. Perusahaan itu berutang kepada bank nasional namun gagal membayar karena pengaruh krisis beberapa tahun sebelumnya.

"Pemerintahan Mega harus mengatasi persoalan ratusan ribu perusahaan dengan nilai transaksi sekitar 500 triliun rupiah," kata Derek dalam buku yang dirilis Oktober 2009 itu. "Penyelesaian utang-utang tersebut ditangani oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)," ujar Derek. BPPN ini dibentuk atas saran Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Saat itulah, kata Derek yang mengenal Taufiq sejak 1998 itu, Taufiq menyadari pengaruh masyarakat internasional terutama elite Amerika di IMF dan Bank Dunia. Taufiq lalu bergerak melakukan lobi.

"Yang pertama kali dilobi adalah John O'Neal, mantan Menteri Keuangan. Hasilnya, Indonesia disarankan agar segera menyelesaikan utang-utang tersebut agar kepercayaan komunitas bisnis terhadap Indonesia pulih," ujar Derek dalam buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama itu.

Setelah O'Neal, Taufiq melobi mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, dan mantan PM Malaysia, Mahathir Mohammad. Dalam setiap lobi, Taufiq yang berasal dari Palembang ini melibatkan diplomat Indonesia di negara setempat.

Release & discharge dilakukan atas saran Lee Kuan Yew, Mahathir Mohammad & John O'Neal.

Apa saran Lee dan Mahathir? "TK berpikir bahwa semua tokoh yang ditemuinya di luar negeri berpikiran sama. Jadi semestinya pemikiran itu patut diterima dan dijabarkan," ujar Derek.

Kembali ke Jakarta, Taufiq berdiskusi dengan Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro Jati. "Berbagai keputusan penting dikeluarkan mulai dari pergantian Kepala BPPN. Lalu kebijakan release and discharge (R&D) diberikan kepada pengusaha berutang yang bersedia memenuhi kewajiban mereka," kata Derek.

Fasilitas R & D ini diamankan dengan koordinasi Menko Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jaksa Agung Rachman. Dampaknya, kata Derek, positif. Perusahaan yang membayar pajak meningkat.

"Pada tahun 2003, tahun kedua istri TK menjadi presiden, pemerintah mencatat rekor. Pemasukan pajak di tahun itu lebih besar daripada total jumlah pajak yang berhasil dikoleksi Direktorat Jenderal Pajak selama pemerintahan Soeharto," tulis Derek.


artikel dari vivanews.com