Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Senin, 29 Februari 2016

Dunia Gaib dalam Novel Wuni



“Ya, begitulah hidup. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi esok. Kita berdua menaiki kereta yang sama. Ke tujuan yang sama pula. Tapi kita sedang sama-sama menghadapi persoalan yang tak pernah kita duga-duga. Aku barusan mendengar di iPodku lagu John Mayer, Stop this train. Tahu nggak? Tiba-tiba aku merasa capek. Pengen berhenti. Tapi kita tak boleh capek dan berhenti kan?” (Hal 139). Penggalan dialog dalam Novel inilah barangkali salah satu pesan yang hendak di sampaikan dalam Novel Wuni karya Ersta Andantino ini. Novel dengan sebagian besar ceritanya berdasarkan Legenda Jawa.

Menulis Novel dengan garis besar cerita yang dikisahkan berasal dari legenda  diperlukan kepiawaian dalam teknik menulis cerita  dan kecermatan  dalam menyampaikan gagasan . Kalau novelis kurang cermat maka akan terjadi banya distorsi, karena di dalamnya kental dengan unsur seperti mitos dalam pengertian  menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya,  unsur kekuatan magis yang sulit untuk dibuktikan secara ilmiah, dan unsur dunia gaib. Jalinan unsur-unsur ini memang bisa menyergap dan menghipnotis pembaca untuk membacanya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, hingga pembaca  tetap setia dan tak sabar untuk segera menyelesaikan bacaannya. Tetapi bisa juga menjadi bumerang yang membuat pembacanya tidak meneruskan bacaannya karena novel tersebut menjadi novel tentang klenik yang membosankan.

Seperti kita ketahui Legenda (bahasa Latin: legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklore.

Dan  Ersta Andantino, Novelis kelahiran Nganjuk, Jawa Timur,  mencoba menulis Novel dengan judul Wuni,  menggabungkan realitas alam nyata dan alam gaib yang berjalin kelindan dengan tradisi-tradisi yang ada di Pulau Jawa secara turun temurun.  KIsah Novel ini dimulai saat sang tokoh Jaka Teruna harus pulang ke desa Wuni, klaten, Jawa Tengah  untuk mendapatkan Warisan harta benda yang melimpah secara tak terduga, karena mempunyai Tanda lahir Noda Putih seperti gambar jantung yang ditumbuhi bulu putih tipis dan halus.

Dalam istilah bahasa jawa disebut Toh. ( Hal. 33 ) karena menurut surat wasiat dari almarhum Mbah kakungnya ( Kakek laki-laki) hanya anak yang terlahir dengan tanda lahir tersebutlah yang bisa membersihkan harta benda.


 kekayaan leluhur Jaka tersebut tidak di dapatkan seluruhnya dengan cara-cara yang baik. Salah satunya adalah kakeknya yang bernama Soentoro, membuat perjanjen (perjanjian) dengan makhluk gaib, Jin, untuk mendapat kekayaan, dengan cara menyerahkan salah satu istrinya yang bernama Sumi kawin dengan jin, Genderuwo. (Hal 43). Dalam kisah tersebut istri Soentoro ada 3, Sumi, Darmi , dan Suminah. Sedang Jaka adalah cucu dari Darmi. Untuk itulah Harta kekayaan tersebut harus dibersihkan agar tidak menimbulkan mala petaka bagi semua keturunannya. Dan takdir telah menggariskan bahwa hanya Jaka yang bisa membersihkannya.


Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan sebagai bentuk apresiasi setelah membaca Novel ini, yang pertama adalah narasi-narasi Prosaisnya sebagian besar berisi idiom, metafora, dan perlambang dari kebudayaan Jawa, dengan adanya catatan kaki yang sangat membantu pembacanya yang tidak mengerti bahasa jawa. Beberapa dialognya digunakan oleh penulisnya untuk menceritakan setting suasana, tempat kejadian peristiwa dan kharakter para tokohnya, sehingga membuat kontruksi cerita yang tidak membosankan. Narasi-narasi tersebut bersintesa dengan kenyataan sejarah, penggalan biografi tokoh-tokohnya, dan kisah fiksi hingga menghasilkan perpaduan dalam kesatuan novelistis.


Yang kedua adalah tema utama atau gagasan yang hendak disampaikan oleh penulisnya yaitu tentang jalan hidup manusia, takdir yang dipanggulnya, dan nasib yang penuh dengan jalinan asing dan rahasia. Gagasan ini disampaikan bukan secara gamblang dan menggurui, tetapi dengan berbagai perlambang yang tersirat dan terkadang dalam dialog antar tokohnya. Sesekali diselingi dengan kisah pewayangan yang di dalamnya banyak pesan-pesan bijak yang kontemplatif seperti dalam lakon Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Diyu. (Hal 287).

Dan yang ketiga adalah gaya bercerita dan plot ceritanya yang mengalir linier dan mempunyai perpaduan yang kuat dengan latar kisahnya, meskipun   Ada beberapa flash back di kisahnya. Perpaduan yang kuat ini membuat pembaca bisa mengimajinasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat sekaligus suasana magis yang melingkupinya. Di beberapa kisahnya terkadang menyergap kesadaraan kita karena kekuatan dari cerita yang dikisahkanya, seperti saat jaka harus bertarung dengan berbagai kekuatan hitam yang berasal dari makhluk gaib. (Hal. 319)


Secara keseluruhan novel ini menarik untuk kita baca dan kita renungkan  sebagai bagian dari refleksi tentang hakikat hidup.  Catatan kritis atas novel ini adalah penulis terlalu menonjolkan sisi penceritaan sehingga eksplorasi tentang sisi negative dari sebuah budaya belum tergarap secara optimal, seperti feodalisme dan konstruksi patriarki, agar novel tidak terjebak pada sekedar kisah yang mengharu biru, tetapi juga bisa memenuhi unsur-unsur sastrawi.










Judul Buku : Wuni

Penulis : Ersta Andantino

Jumlah Halaman : 332 Halaman

Penerbit : Javanica

Jln. Permai Raya 11, Pamulang I, Blok BX2/9, RT. 02/12 Pamulang Barat Tangerang selatan                              


Telp : 021-7400789

Senin, 01 Februari 2016

Media Sosial dan buku

Tak dapat kita pungkiri, sekarang adalah era Social Media atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Media Sosial.  Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content". Dengan contoh seperti blog, facebook, twitter, instagram, path, whatsapp, BBM, line,dan masih banyak lagi. Dalam media social tersebut membuat para penggunanya bisa mengekspresikan  pendapat, ide,  gagasan,  gambar, foto, video, suara, dan yang lebih menarik adalah adanya interaksi yang bisa dilakukan antar pengguna di platform media sosial tersebut. Hal inilah yang membuat media sosial menjadi trend dan booming di era sekarang ini.

Kalau kita cermati, banyak yang memanfaatkan media sosial tersebut sebagai alat untuk menyampaikan gagasan berupa opini atau artikel agar bisa dibaca orang banyak. Selain itu dalam media sosial seperti Facebook ada fitur Note atau catatan yang memungkinkan penggunanya bisa menuliskan opininya tentang situsasi dan kondisi yang sedang terjadi dengan sudut pandang politik, ekonomi, maupun budaya. Tidak jarang status-status di media sosial tersebut di manfaatkan oleh penggunanya untuk menulis  puisi dan cerpen. Meskipun banyak juga yang hanya memanfaatkannya sebagai sarana hiburan dan bertegur sapa dengan keluarga dan teman.

Selain itu yang juga marak adalah media sosial digunakan sebagai sarana promosi  yang efektif dari suatu produk, seperti barang-barang elektronik, kuliner, pakaian, buku, dan lain-lain. Sebenarnya dengan banyaknya pengguna di sosial Media ini bisa kita manfaatkan untuk mendukung  dunia literasi kita agar semakin  tumbuh dan berkembang. Karena kalau saya amati banyak tulisan-tulisan berupa puisi, cerpen, esai, opini, atau artikel yang terserak di berbagai Media Sosial. Bahkan di beberapa status akun media Sosial tersebut, tulisan-tulisannya cukup panjang.

Hal ini sebenarnya bisa dikumpulkan menjadi satu dan dicetak menjadi buku. Dalam berbagai forum diskusi, banyak yang mengaku tidak bisa menulis, tetapi di akun-akun media sosial-nya saat menulis status, catatan, atau puisi rata-rata mereka semua bisa menulis panjang. Berarti hal ini menandakan bahwa pada dasarnya mereka semua bisa menulis. Tinggal dilatih dengan tekun, karena menulis pada dasarnya membutuhkan ketrampilan dan kecakapan.

Jika materi masih kurang, sebenarnya untuk membukukan catatan-catatan tersebut bisa disiasati dengan membuat antologi bersama dari beberapa penulis. Apalagi sekarang sudah marak penerbitan secara indie label, mempermudah untuk mencetak dan menerbitkan buku. Dan penerbit-penerbit tersebut juga mempunyai akun media sosial. Tentunya hal ini juga harus memperhatikan kualitas dan mutu tulisan tersebut. Perlu diadakan seleksi, edit, dan pengendapan dari berbagai tulisan tersebut agar memenuhi kriteria sebagai tulisan yang layak diterbitkan dan dipublikasikan.

Apalagi referensi di dunia maya tersedia dan  mudah untuk diakses, tinggal mencari di Google akan banyak hal yang bisa kita temukan.  Seperti kita ketahui penulis-penulis jaman dahulu  harus membuat kliping dari Koran dan majalah untuk dijadikan referensi saat menulis, terutama tentang berita-berita yang bisa dijadikan acuan untuk menulis prosa, puisi, dan esai. Pramoedya ananta toer adalah salah satu penulis yang rajin mengkliping Koran dan majalah. Di era sekarang ini, kita tinggal meng-klik Google maka berira-berita media massa yang telah lewat, dapat di akses dengan mudah.

Media sosial sekaligus bisa digunakan untuk mempromoskan dan menjual buku-buku yang telah diterbitkan tersebut.seliain itu, sifatnya yang interaktif, bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran di akun-akun media sosial tersebut, sehingga tradisi literasi kita semakin hidup. Hal ini jika dapat dilakukan secara konsisten, berarti kita sudah memanfaatkan sisi positif dari perkembangan tehnologi dan media sosial.  Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan ini, maka media sosial sebenarnya dapat dijadikan sarana untuk menumbuh kembangkan budaya literasi di Indonesia. Karena dengan makin majunya  literasi akan membuat peradaban suatu bangsa juga semakin maju.

Sifat media sosial yang menghibur dan bisa digunakan semua lapisan masyarakat membuat penggunanya bisa menuangkan pikiran dan gagasan sesuai dengan yang disukainya, ini tentunya juga bisa menghasilkan kreatifitas yang beragam, jika tulisan-tulisan tersebut menjadi buku, tentu buku-buku yang dihasilkan akan beragam, ada buku tentang kuliner, olahraga, kumpulan cerpen, puisi, kumpulan artikel politik, budaya, dan lain-lain. Dengan demikian ada banyak pilihan bagi pembaca. Maka mari kita bukukan tulisan-tulisan kita yang terserak di media sosial, agar memberi kontribusi bagi dunia literasi.




Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun