Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Translate To Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Selasa, 02 November 2010

Langkah, Dua kuntum Cinta, Gerimis malam, Tukang Bunga dan burung Gagak (Kumpulan Cerpen 4 Cerpenis)


Sangat bisa kita pahami, kenapa begitu banyak orang menyukai cerpen, mulai dari anak-anak, remaja, sampai dewasa. Karena Cerpen bisa menjadi semacam sebuah liputan kamera, pembaca dibawa untuk menyaksikan sebuah lanskap, adegan, tokoh, konflik dari luar. Dan kadang ada pertautan antara cerita dan kisah yang di alami pembaca, atau bisa dikatakan cerpen bisa mempertautkan antara pembaca dan sebuah kenangan.

Begitu juga saat membaca buku Kumpulan cerpen dari 4 cerpenis indonesia yaitu : Agnes Majestika, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie, dan Ryana Mustamin. Cerpen-cerpen yang dimasukkan dalam buku ini juga sebagian besar sudah dimuat di media cetak, baik surat kabar harian, maupun majalah. Kompas, Femina, Anita cemerlang, Horison, dll. Sehingga cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini begitu memikat. Cerpen-cerpennya sebagian besar seperti puisi yang punya banyak makna untuk ditafsirkan.

Agnes Majestika, Dokter Hewan lulusan IPB dan Pascasarjana UGM, sekarang bekerja sebagai PNS di Dinas Peternakan Bengkulu, hadir dengan 4 buah Cerpen : Calon adik untuk Bhy, Istri, Langkah, dan Alibi. Dalam calon adik untuk Bhy, tema yang diambil sungguh menarik dan futuristik. Merancang sebuah bayi lewat komputer. Cerpen “istri” adalah deskripsi tentang sifat seorang Laki-laki. Penceritaan dengan sudut pandang si “laki-laki” cukup menarik untuk diikuti. Laki-laki yang sering bersifat jantan, tetapi juga punya sifat rapuh dan terpaksa. Cerpen “Langkah” terlihat Agnes Piawai dalam detail. Terutama saat bercerita tentang desa dan peternakan. Sedangkan cerpen “alibi” membongkar habis sifat Cemburu kaum laki-laki yang kadang tidak mau diakuinya.

Kunia Effendi, sastrawan yang sudah tidak asing lagi, beberapa kali diundang untuk perhelatan sastra dan sudah begitu banyak buku yang diterbitkan. Alumni FSRD ITB ini hadir dengan 4 cerpennya : “ Ikebana Bagi Calon Mama, Dua Kuntum Cinta, Pojok Kafe Simpang Lima, dan terompet. Dalam cerpen-cerpennya banyak permainan emosi dan pergolakan bathin tokoh yang dapat kita terka melalui deskripsi perasaan dan pikiran tokohnya. Juga kutipan-kutipan dari syair Leo Kristi bisa menyatu dengan cerita dan menghadirkan pesona nuansa puitis.

Pada “Ikebana bagi calon mama” sebuah cerita tentang kepedihan dalam perjalanan hidup manusia, tentang misteri kematian. Siap-siap bagi pembaca untuk mengusap air mata yang mungkin menetes, saat membaca ending cerita. “dengan simfoni kutegak melangkah, dengan dirimu di hati ini” syair lagu serenada pagi 1971 Leo Kristi menghiasi cerpen kedua :Dua kuntum cinta” . sebuah kisah cinta yang membuat pembaca bisa mempertautkan antara dirinya dengan kenangan yang pernah terjadi di masa lalu. Cerpen ketiga “pojok simpang lima’ membuat kita seakan menikmati sebuah Puisi yang panjang. Karena deretan kalimat-kalimatnya begitu puitis dan kaya makna. Dan cerpen terakhir “Terompet” yang pernah dimuat di majalah Horison, maret 2005 adalah cerpen dengan tema kemeriahan Tahun Baru yang begitu memukau dalam detail suasana dan ending yang cukup menghentak.

Kurniawan Junaedhie, pernah menjadi redaktur di beberapa majalah kelompok kompas-gramedia, penulis sejak 1974 di berbagai media massa, kumpulan buku Puisinya adalah Cinta seekor singa. Juga hadir dengan 4 buah Cerpen Tukang Bunga dan Burung gagak, Opera Asmara, Sepatu Elvis, Kenangan Keluarga. Menurut Kurniawan, untuk mengarang cerpen dibutuhkan kesabaran. Kesabaran untuk mengamati, merenungkan, kemudian mengungkapkan dalam bahasa.

Saya suka sekali membaca cerpen “Tukang Bunga dan Burung gagak’ yang bercerita dengan tema Mitos Burung gagak dan kematian. Dengan narasi yang memikat kita bisa betah membaca alur kalimatnya sampai di akhir cerita. Pembaca diundang untuk mengais makna dan menyimpulkan pesan yang ada dalam cerita. Opera Asmara bercerita tentang sesuatu yang sering kita lihat di realitas media, Pejabat yang kelihatan santun dan berwibawa ternyata mempunyai “wanita simpanan’. Cerpen “sepatu Elvis” membuat pembaca bisa tersenyum atas kehebohan karena sebuah sepatu. Tema yang jenaka dan menarik. “Kenangan Keluarga’ cerpen keempat yang membuat Pembaca menjadi merenung begitu banyak sebenarnya ruang rahasiai yg tersimpan dalam keluarga. Dan saat kita mengetahuinya diperlukan sebuah Kebijakan untuk mengungkapkannya atau tidak.

Dan Cerpenis Terakhir adalah Ryana Mustamin, Head Corporate Communications of AJB Bumiputera 1912. alumni magister manajemen komunikasi universitas indonesia, menulis cerita pertama kali saat duduk di kelas 5 SD. Dan cerpen-cerpennya sudah tersebar di berbagai majalah. Sebagai wanita karir Opini dan Esainya tersebar di berbagai Media massa seperti Tempo, Kompas, dan Majalah InfoBank. Mbak ana, begitu biasanya saya memanggilnya, menghadirkan 4 cerpen Dahaga, Gerimis malam, Tenriawaru, Dan Napak Tilas. Menurut Mbak ana semua cerpennya lahir tanpa Pretensi, lahir bukan dalam rangka ini atau itu. Hanya semata-mata karena ingin menulis.

Cerpen Dahaga menyergap kita sejak awal cerita, tentang sebuah sosok misterius yang tiba-tiba hadir dalam keseharian seseorang. Sebuah sosok yang imanjinatif , yang sering mengajak untuk beradu argumentasi, saat kita mempunyai sebuah hasrat. sosok yang pada ending cerita kita akan menemukan siapa dia sebenarnya. Dalam gerimis malam kisah yang dihadirkan adalah sebagian kisah yang dialami wanita, tentang kebencian seorang wanita terhadap laki-laki akibat luka yang digoreskannya. Cerita dari sudut pandang seorang wanita. Dalam Tenriawaru mbak ana bercerita tentang sebuah gaya hidup, gaya hidup yang sebagian ada di sekitar kita. Hidup bersama tanpa menikah. Di sini justru menarik, karena cerpenis tidak berusaha untuk menggurui, cerpenis bukan pencerita yang sedang berkhotbah. Hanya menuliskan dalam sebuah cerita, pembacalah yang punya hak menilai dan menyimpulkannya. Dalam cerpen terakhir napak tilas ada kisah tentang misteri dan trauma yang membayangi sebuah kecelakaan kereta. Permainan kalimat yang meluncur membuat kita seakan masuk dalam cerita dan hidup dalam sebuah trauma yang menghimpit.

Beruntung sekali saya dapat membaca cerpen-cerpen ini, cerpen yang ditulis di tahun 1984 sampai 2009. kisah-kisah yang inspiratif. Kisah-kisah yang kadang kita rasakan bukan sebagai sebuah Fiksi tapi sebuah kenyataan. Semoga buku ini bisa memberikan semangat bagi penulis- penulis lainnya, dan juga memberikan kontribusi yang Positif Bagi Sastra Indonesia. Bravo Sastra Indonesia!




Arif Gumantia
Penggemar Cerpen dan penggemar nasi pecel.
http://kalbukita.blogspot.com


*terima kasih Buat mbak ana atas kiriman Bukunya.
*Bagi yang berminat, silahkan kontak langsung dengan Mbak ana Mustamin yang saya tag di note ini, atau Langsung Ke Gramedia.